Titik Origin Kinerja Keuangan

Bagi sebagian orang, aktivitas pemasaran diyakini sebagai pencipta kinerja keuangan perusahaan. Selama manajemen mampu mencetak rekor penjualan maka di titik itu pulalah perusahaan akan meraih kinerja terbaiknya.

Di sisi lain, ada pula orang yang meyakini bahwa kinerja keuangan berawal dari kemampuan manajemen dalam melakukan efisiensi operasional. Tak ada gunanya penjualan tinggi jika tidak dibarengi dengan efisiensi dan efektivitas kerja. Sebut saja kemampuan penagihan piutang.

Jika kolektabilitas perusahaan rendah otomatis penjualan akan sebatas angka karena tidak mampu hadir dalam bentuk tunai. Padahal di sisi lain, setiap beban (termasuk gaji) mutlak disajikan dalam bentuk tunai.

Tanpa berupaya menjustifikasi mana pandangan yang benar, kali ini saya ingin membawa anda pada salah satu simpulan studi yang menyatakan bahwa ‘kepuasan kerja merupakan faktor kunci kinerja keuangan’ perusahaan.

Sepintas tak ada yang ‘spesial’ dari simpulan tersebut, namun bila dicermati secara mendalam terdapat sejumlah poin pembuka wacana yang tepat. Pertama, di sejumlah negara berkembang maupun negara maju saat ini, menciptakan atmosfer kerja yang mendukung terciptanya kinerja positif telah menjadi tujuan utama organisasi.

Konsep organisasi pembelajar (baca: learning organization) atau yang lebih dikenal dengan ‘corporate university’ setidaknya menunjukkan bagaimana manajemen modern sangat menghargai aspek kehidupan pribadi karyawan.

Sejenak saya teringat pada testimoni salah seorang kolega yang berkarier di Silicon Valley, pusat perkembangan dunia informasi dan teknologi dunia. Apresiasi perusahaan pada karyawan tidak hanya ditunjukkan melalui benefit financial (agar tercipta keamanan keuangan karyawan), namun juga diungkapkan dengan memberikan ‘kebebasan’ bagi karyawan untuk bereksplorasi demi terciptanya ide-ide inovasi yang mampu menciptakan sinergi.

Tak ayal dimensi ergonomis-pun tak luput dari perhatian manajemen. Penataan ruang kerja yang memudahkan terciptanya proses komunikasi antarindividu sekaligus memberikan kenyamanan telah memberikan wacana baru akan atmosfer kerja yang kondusif. Alhasil pola ini mampu menggeser pola kerja individu menjadi kinerja kelompok gugus tugas.

Tak mau berhenti di situ, apresiasi humanis manajemen modern juga ditunjukkan melalui program pengembangan pengetahuan dan kapabilitas karyawan. Konsep-konsep manajemen dewasa ini meyakini bahwa perkembangan pengetahuan organisasi merupakan pintu gerbang bagi terciptanya daya saing melalui inovasi dalam jangka panjang.

Program seperti studi lanjut, kolaborasi dengan lembaga penelitian pendidikan tinggi bahkan pemberian akses beasiswa bagi keluarga karyawan dipercaya sebagai langkah efektif dalam mengembangkan kapabilitas organisasi.

Dalam prakteknya, apresiasi humanis mampu memberikan efek positif pada organisasi. Bukan hal yang mustahil jika karyawan mau memberikan kinerja terbaiknya karena merasa ikut memiliki perusahaan.

Selanjutnya, elemen lain yang tak kalah pentingnya adalah komunikasi yang tercipta di dalam tubuh organisasi, salah satunya terkait dengan kesetaraan antara tuntutan pekerjaan dengan ‘reward’ yang diberikan.

Pada banyak kasus ditemukan fakta bahwa ketidakpuasan ternyata berawal dari penilaian subjektif dari karyawan. Di titik inilah sebenarnya kemampuan komunikasi manajemen diuji. Sejauh mana penjelasan objektif tentang kesetaraan tersebut dapat disampaikan.

Bila dicermati lebih jauh, ketiga elemen tersebut pada dasarnya mampu memicu semangat dan loyalitas karyawan. Bekerja tak lagi dipandang sebagai sebuah kewajiban semata, melainkan sarana aktualisasi diri.

Pada kondisi inilah sebenarnya organisasi akan menjadi incaran para pencari kerja sehingga dengan sistem rekrutmen yang tepat niscaya manajemen akan mampu mendapatkan tenaga kerja potensial bagi kemajuan organisasi.

Kini tantangannya ada pada bagaimana manajemen mampu menjaga dinamisasi dari siklus ketiga elemen di atas, mengingat esensi dinamika siklus akan mampu mempertahankan karyawan potensial untuk tetap berkinerja bagi organisasi.

Pada fase inilah dimensi keuangan mulai terlihat; produktivitas berujung pada pencapaian penjualan terbaik pada tingkat efisiensi yang tinggi. Alhasil, nilai perusahaan meningkat, karyawan-pun sejahtera.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 19 Juni 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s