Right Man In The Right Place

Akhir–akhir ini sejumlah daerah di Indonesia sedang disibukkan oleh pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur serta Bupati–Wakil Bupati. Hal yang sama juga kini tengah terjadi di dunia bisnis. Mulai dari pergantian CEO dengan alasan regenerasi hingga karena kekosongan jabatan.

Pada masa-masa tersebut kerap kali isu kesesuaian antara profil calon dengan tuntutan jabatan yang akan diemban menjadi topik diskusi utama. Realitas ini setidaknya mengingatkan kita akan salah satu konsep dalam manajemen, yakni menempatkan orang yang ‘tepat’ pada posisi (baca: jabatan) yang tepat pula.

Beberapa kasus di lapangan menunjukkan bahwa memilih ‘penghuni’ bagi sebuah jabatan bukanlah hal yang sederhana. Belum tentu mereka yang dulunya sangat berprestasi pada jabatan lama akan memberikan kinerja yang sama pada jabatan baru. Seringkali ada banyak faktor yang luput dari perhatian ketika menentukan ‘kesesuaian’ itu.

Pertama, terkait stabilitas penerapan strategi perusahaan. Menempatkan seorang individu pada suatu jabatan seharusnya dipandang sebagai mekanisme yang perlu direncanakan secara matang.

Artinya dalam konteks ini penempatan harus dipandang sebagai sebuah mekanisme ‘suksesi’ dan bukan sekedar proses ‘menggantikan’. Dalam hal ini pejabat lama mempunyai kewajiban untuk menyiapkan kader yang akan menggantikannya kelak di kemudian hari.

Proses penyiapan kader dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan. Satu diantaranya adalah melalui proses ‘coaching’. Tanpa harus menyatakan secara eksplisit bahwa yang bersangkutan akan diprioritaskan untuk menggantkan posisinya di masa depan.

Seorang pemimpin hendaknya mulai mendelegasikan beberapa tanggung jawab penting pada sang kader. Dengan pantauan dan mentoring yang tepat, niscaya soft competencies pemimpin masa depan akan mulai terasah.

Di sejumlah perusahaan, proses mentoring dilakukan dengan media kasus kecil. Kasus ini umumnya disiapkan oleh pejabat lama agar si calon dapat memahami tuntutan jabatan yang akan diembannya.

Melalui proses pembelajaran dan diskusi kasus secara aktif, manajemen akan manilai sejauh mana daya inovasi dan kreativitas sang calon, terutama dalam menemukan solusi terbaik bagi setiap permasalahan.

Dengan demikian jika kemampuan calon dinilai masih di bawah standard yang diharapkan, maka masih ada waktu bagi yang bersangkutan untuk diikutkan program pelatihan dan pengembangan sesuai kebutuhan.

Selain menjamin kesiapan sang calon dalam menduduki jabatan tertentu, mekanisme suksesi secara otomatis menjamin stabilitas penerapan strategi perusahaan. Dengan kata lain, langkah ini mampu meminimalkan sistem tambal sulam strategi yang sering ditemui saat ini.

Kedua, terkait kapabilitas kepemimpinan sang calon. Sudah menjadi rahasia umum bahwa individu yang menduduki jabatan tertentu haruslah mempunyai jiwa kepemimpinan (visioner, beretika, tanggung jawab, adaptif, jujur dan inovatif, percaya diri, mampu bekerja dalam tim dan semangat bertumbuh). Tanpa adanya dimensi-dimensi tersebut niscaya seorang pejabat tidak akan mampu berperan sebagai seorang pemimpin.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa seringkali tampilan dimensi tersebut bersifat semu. Artinya sebelum terpilih, seorang individu seakan-akan memiliki kapabilitas seorang pemimpin. Namun sesaat setelah menduduki jabatan, seolah-olah bertumbuh menjadi pribadi yang berbeda. Alhasil pada kondisi ini kita baru dapat melihat bahwa penilaian selama ini kurang tepat. Ia bukanlah orang yang tepat bagi posisi tersebut.

Agar dapat meminimalkan kondisi tersebut maka perlu bagi manajemen (baca: pengambil keputusan) memberikan peluang bagi sang calon untuk bertanggung jawab dalam serangkaian project jangka menengah yang diinisiasi dari ide si calon.

Selain berfungsi sebagai sebuah laboratorium, wahana ini juga dapat dimanfaatkan untuk menilai sejauh  mana kapabilitas seorang pemimpin telah terpatri dalam diri sang calon. Jika dinilai positif maka kita telah mendapat calon tepat untuk posisi yang tepat, demikian pula sebaliknya.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai perusahaan anda!

*Tulisan dimuat di harian Kontan, [Maret] 2012.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s