‘Tit for Tat’ Dalam Bisnis

tit-for-tatPebisnis, anda mungkin tengah disibukkan dengan kondisi ekonomi yang tak menentu mulai dari rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik hingga efek sistemik dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Padahal di sisi lain, persaingan global dengan produsen China sebagai panglima perang seakan siap menguasai pasar Indonesia. Lalu taktik ‘bijak’ apa yang tepat digunakan dalam kondisi tersebut?

Pada artikel kali ini saya ingin mengajak anda untuk belajar dari kisah mafia Italia dengan pandangan ‘tit for tat’-nya. Pada berbagai upaya dalam mempertahankan wilayah kekuasaan, seringkali sang pemimpin meminta komunitasnya untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan sebaliknya.

Sepintas pandangan ini cukup sulit dicerna apalagi jika pesaing nyata-nyata telah merampas pangsa pasar kita. Tak hanya profitabilitas yang terganggu namun juga mengancam keberlangsungan hidup perusahaan. Namun kini marilah kita memahami prinsip ‘Tit for Tat’ (baca; kebaikan dibalas dengan kebaikan) secara lebih mendalam. Ada banyak nilai-nilai positif yang dapat menginspirasi kita dalam menentukan arah dan strategi perusahaan.

Pertama, ‘tit for tat’ bertujuan untuk menghentikan pendarahan akibat aktivitas saling serang antara kedua belah pihak. Pahamilah bahwa aksi saling serang tak kan berujung pada keuntungan, melainkan sama-sama rugi. Lebih lanjut jika dalam kelemahan kedua belah pihak tersebut ternyata ada pihak ketiga yang tampil dengan kekuatan baru, niscaya ia yang akan menikmati keuntungannya.

Masih lekat dalam ingatan perang antara dua perusahaan gadget ternama: Blackberry dan Apple yang akhirnya dimenangkan oleh Samsung. Alih-alih meraup pasar yang besar, kekosongan yang terjadi telah membawa Samsung sebagai market leader. Sebaliknya kondisi ini tak kan terjadi jika kedua pemain yang berseteru memilih untuk bersinergi. Bisa jadi proses sinergi ini akan menciptakan raksasa penentu teknologi informasi masa depan.

Kedua, pahamilah bahwa sebagai penguasa awal, anda harus tetap tampil elegan di hadapan konsumen. Prinsip ‘tit for tat’ setidaknya dapat menjadi senjata paling ampuh dalam meningkatkan loyalitas pelanggan. Realitas menunjukkan bahwa tak selamanya aksi negatif dari pesaing akan merugikan perusahaan. Bisa jadi fenomena ini akan memunculkan aksi pembelaan terhadap produk-produk anda oleh konsumen.

Dari sisi eksternal, terbentuknya berbagai komunitas konsumen secara alamiah (baca: bukan bentukan perusahaan) setidaknya menjadi bukti otentik atas pernyataan tersebut. Jika demikian adanya maka kini tinggal bagaimana kontribusi positif perusahaan dalam memelihara loyalitas dari komunitas yang telah terbangun dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Sebaliknya, nilai-nilai internal dari ‘tit for tat’ ternyata mengajarkan kita untuk mulai membangun loyalitas dari dalam perusahaan. Manajemen perlu mendayagunakan seluruh anggota organisasi sebagai komunitas yang loyal pada produk dan jasa perusahaan.

Dalam konteks ini kita dapat menghitung duplikasi dari pola promosi word of mouth para konsumen internal (baca: karyawan). Fakta peningkatan kesejahteraan karyawan dan lingkungan sekitar akan menjadi testimoni paling efektif dalam meraih ‘hati konsumen’. Tak jarang bahkan konsumen mau membayar ‘lebih’ bagi produk-produk besutan perusahaan.

Ketiga, prinsip kebaikan untuk kebaikan memberikan pedoman bagi manajemen untuk selalu berpikir positif akan setiap langkah yang dilakukan pesaing. Artinya di balik upaya-upaya yang mungkin merugikan perusahaan, ada satu dimensi positif. Kehadirannya dapat menjadi alat ukur bagi efektivitas kinerja manajemen. Anda tak kan pernah tahu seberapa jitu taktik yang selama ini diterapkan bila tidak ada tantangan dari pesaing.

Terakhir, pikiran positif tersebut akan menyadarkan manajemen bahwa ‘Di atas langit masih ada langit’, sekaligus memberikan tuntunan terbaik dalam mempelajari kehebatan pesaing. Dengan pola ’learn, adopt and make it better’, niscaya manajemen akan menemukan formulasi yang lebih efektif dalam melayani pasar yang sudah ada maupun pangsa pasar potensial. Sudahkah anda memiliki pandangan ini?

Selamat berefleksi, sukses menyertai perusahaan anda!

*Tulisan dimuat di harian Kontan,  14 Maret 2012.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s