Learning To Be The Best From The Best: Sebuah Pelajaran Berharga Dari The McKinsey Mind

The McKinsey MindSiapa yang tidak mengenal Mc Kinsey & Co? Saat ini McKinsey merupakan salah satu konsultan strategic management yang terkenal sedunia. Jebolan perusahaan ini, alumni McKinsey sebutannya, telah melahirkan banyak pemikiran yang dipakai baik oleh kalangan akademisi ataupun kalangan bisnis di dunia. Sebut saja Spencer Johnson yang mengarang buku Who Moved My Cheese? yang terkenal itu.

Konsep yang tersirat di dalamnya, yaitu change management telah membuka mata banyak pihak sehingga mereka “menyadari” kekurangan mereka dan berusaha merubah diri mereka terlebih dahulu.

Mereka tidak lagi menyalahkan lingkungan yang berubah atau justru menunggu hingga masa perubahan itu usai. Mereka tampaknya mulai menyadari betul konsep manajemen yang dikemukakan oleh Leo Tolstoy: everyone thinks of changing the world but nobody remembers to change himself.

The Firm alias McKinsey ditengarai memiliki satu standar yang baku yang digunakan oleh para konsultannya untuk “menjadi yang terbaik dari yang terbaik”. Konsep ini ada baiknya kita renungkan dan terapkan. Sehingga kita pun dapat belajar menjadi “yang terbaik” dari “yang terbaik”, syukur-syukur kita benar-benar menjadi yang terbaik dalam bidang apa saja yang kita tekuni saat ini.

The Firm, menurut pengakuan para alumninya, tidak pernah melakukan “marketing” secara langsung dengan menggunakan sarana telepon dan sebagainya. Marketing yang dilakukan McKinsey lebih diarahkan pada marketing dari konsep dan hasil pemikiran “pekerja pengetahuan” yang tergabung di dalamnya.

The McKinsey Mind membahas secara gamblang rahasia sukses McKinsey sebagai perusahaan konsultan manajemen strategi (strategic management) di dunia lengkap dengan implementasinya. Hal ini akan memudahkan bagi siapa saja–baik individual ataupun organisasi/perusahaan–yang menginginkan menjadi “yang terbaik” di bidangnya masing-masing.

Buku ini ditulis oleh dua orang, Rasiel dan Friga. Rasiel juga merupakan pengarang buku The McKinsey Way. Buku The McKinsey Mind dimaksudkan sebagai kelanjutan kisah tentang McKinsey yang dituturkan oleh para alumninya.

Lebih dari 75 orang alumni McKinsey diwawancara untuk penyusunan buku ini. Ditengarai jumlah alumni McKinsey mencapai 10,000 orang di seluruh dunia dengan beragam profesi mulai dari CEO hingga senior decision maker di seluruh dunia.

Dalam buku ini juga disajikan hal-hal yang terdapat dalam buku The McKinsey Way, sehingga kita, para pembaca, tidak perlu lagi memasuki institusi ini secara langsung. Cukup belajar dari buku ini saja.

Dalam melakukan kegiatannya sebagai sebuah perusahaan konsultan manajemen strategi, McKinsey menerapkan beberapa tahapan penyelesaian “permasalahan” klien mereka dan diri mereka sendiri. Penyelesaian ini meliputi mulai dari tahapan pengenalan masalah hingga mengelola diri mereka sendiri di tengah himpitan tuntutan untuk melakukan yang terbaik.

Mungkin bagi kalangan akademisi yang mempunyai pola pemikiran yang sudah teratur, apa yang diungkapkan di sini adalah sesuatu yang biasa saja. Namun bagi yang belum terbiasa melakukan tahapan-tahapan berikut dan mulai untuk mencoba menjalankan tahapan-tahapan berikut dengan baik akan terasa cukup berat. Tapi, jangan khawatir, hasil yang optimal merupakan jaminannya.

Tahapan pertama yang dilakukan oleh para McKinsey-ites – sebutan untuk para pekerja pengetahuan yang tergabung dengan McKinsey – adalah mendefinisikan masalah alias framing the problem.

Ada dua langkah penting yang mesti diingat dalam melakukan tahapan ini, yaitu membuat struktur permasalahan dan menyusun hipotesis awal. Struktur permasalahan dibangun dengan menggunakan logic tree. Logic tree adalah diagram yang digunakan untuk menelusuri akar permasalahan secara logis.

Hipotesis awal yang berhasil disusun tidak langsung diterima namun diuji kembali dengan menggunakan QDT alias Quick and Dirty Test, tes yang cepat dan “kotor”. Tes ini dimaksudkan untuk “menelanjangi” hipotesis guna melihat keunggulan dan cacat yang melekat di sana.

Pedoman yang digunakan adalah MECE – Mutually Exclusive, Collectively Exhaustive. Terjemahan bebasnya kira-kira saling terpisah satu sama lain, namun bersama-sama mendalami. Artinya, dalam mencari pemecahan awal dari masalah yang dihadapi, masing-masing McKinsey-ites berpikir dan kemudian menggabungkan pemikiran mereka.

Tahapan selanjutnya adalah mendisain analisis lengkap dengan alat analisis yang akan digunakan. Hal ini disesuaikan dengan hipotesis awal yang berhasil disusun. Tips yang disarankan untuk dilakukan adalah: menemukan inti permasalahan, melihat permasalahan secara keseluruhan, dan terakhir work smarter not harder.

Setelah analisis didisain kemudian melakukan tahapan pengambilan data. Mulailah dengan annual report, lihat outliers-nya, dan lihat best practices-nya. Data dapat dikumpulkan dengan wawancara dan mencari data sekunder melalui bank data yang ada ataupun browsing di internet. Di sinilah pentingnya knowledge management yang bagus dalam perusahaan yang memang menjual “pengetahuan” kepada pelanggannya.

Jangan terima jika ada anggota tim yang menyatakan “I have no idea”, perlakukan masalah yang sudah didefinisikan dan didisain analisisnya sebagai tantangan yang harus diselesaikan.

Tahapan selanjutnya adalah menginterpretasikan hasil yang diperoleh dari analisis yang dilakukan. Dalam interpretasi, McKinsey-ites biasa menggunakan konsep 80/20. Artinya 80% kebenaran dari fakta yang ditelaah dapat diterangkan oleh 20% sampel yang diteliti. Yang paling penting adalah melihat pemecahan ini dari kaca mata klien. Ini penting sehingga hasil yang diperoleh dapat diterapkan dengan baik oleh klien.

Setelah interpretasi berhasil dilakukan, tahapan selanjutnya adalah mempresentasikannya di depan klien. Presentasi ini diusahakan untuk terstruktur dan buy-in, maksudnya agar klien memahami alur berpikir yang digunakan untuk mendapatkan kesimpulan seperti yang dipresentasikan.

Tahapan yang paling penting adalah mengelola tim, mengelola klien, dan mengelola diri sendiri. Untuk bagian mengelola tim, dimulai dari pemilihan anggota tim yang akan terlibat dalam proyek yang ada, mengkomunikasikan proyek kepada tim terpilih, “menyatukan perasaan” antar anggota tim (bonding the team), dan membangun tim dalam artian menetapkan ekspektasi (harapan) yang tinggi terhadap hasil kerja tim, mengevaluasinya, dan membuat terjadi keseimbangan antara harapan dan kenyataan.

Untuk bagian mengelola klien, mulai dari mendapatkan klien – dalam artian mengidentifikasi klien dan membuat kondisi “klien yang membutuhkan kita” bukan sebaliknya –, memelihara klien, dan menguatkan klien. Tahapan ini penting untuk membagi pengetahuan yang dimiliki McKinsey-ites dan mentransfer tanggung jawab penerapan hasil analisis kepada klien, serta membuat klien menjadi pahlawan bagi diri mereka sendiri.

Terakhir adalah mengelola diri sendiri. Intinya adalah self-management, self-help, dan self-improvement alias manajemen diri, menolong diri sendiri, dan meningkatkan kemampuan diri sendiri.

Menurut penuturan para alumni McKinsey, rata-rata mereka memilih menjadi alumni karena kesulitan membagi waktu yang demikian padat antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan yang dituntut harus diselesaikan dengan cepat.

Apabila kita mau memaksa diri kita untuk menjalankan ritual yang biasa dilakukan oleh para pekerja pengetahuan yang ada di McKinsey seperti yang telah dijelaskan di atas, bukan tidak mungkin kita akan mampu memetik hasil yang optimal. Namun tentu saja ini tergantung kemauan dari dalam diri tiap-tiap kita untuk memaksa diri kita sendiri melakukan ritual-ritual ini.

Intinya, jika kita ingin menjadi yang terbaik dalam bidang apa pun yang kita tekuni saat ini, kita harus belajar dari yang terbaik juga. Salah satu caranya adalah memahami dan menerapkan konsep-konsep dalam buku ini. Selamat mengamalkan!

*Tulisan ini dimuat dalam Majalah Swasembada edisi Agustus 2002.

Diah Tuhfat blogDiah Tuhfat Yoshida, Konsultan Manajemen Strategis – PPM Consulting (2003-2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s