Paradoks Dua Sisi Entrepreneur

Beberapa waktu lalu, seorang pebisnis mengungkapkan keluhannya “Zaman sekarang sangat sulit mencari karyawan loyal…baru bergabung lima – enam tahun sudah keluar dan menjadi pesaing bagi perusahaan”.

Sepintas mungkin anda dan saya sepakat memberi gelar ‘opportunis’ bagi karyawan yang dimaksud. Namun bisa jadi, itulah yang mendasari motivasi selama berkarir di perusahaan.

Di lain sisi, salah seorang pebisnis mengungkapkan apresiasinya pada kemampuan seorang karyawan, “Keahliannya dalam membaca situasi patut diacungi jempol…ia bekerja seperti layaknya mengembangkan bisnis sendiri.

Bila dicermati secara seksama, kedua tipe karyawan tersebut memiliki profil yang hampir mirip, sama-sama mempunyai hasrat yang kuat dalam mencapai kesuksesan. Satu hal yang membedakan diantara keduanya adalah definisi sukses itu sendiri.

Tipe pertama mendifinisikan sukses sebagai ‘mempunyai bisnis sendiri’ sehingga selama bekerja ia seakan menimba ilmu dari perusahaan untuk merealisasikan impiannya. Sedangkan tipe kedua mendefinisikan sukses sebagai ‘keberhasilan organisasi’ sehingga tak ada lagi target untuk membuka bisnis sendiri.

Kini, sadarkah anda bahwa kedua tipe tersebut pada dasarnya merupakan perwujudan salah satu dimensi dari entrepreneur. Bonnstetter (2012) dalam studinya menemukan dua hal penting.

Pertama bahwa terminologi entrepreneur telah mengalami perluasan makna. Entrepreneur tidak lagi semata-mata dipandang sebagai individu yang membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, namun lebih pada individu dengan kemampuan adaptif, mandiri dan inovatif yang secara konsisten termotivasi demi tercapainya tujuan organisasi sehingga hasil karyanya dapat meningkatkan kinerja organisasi.

Selanjutnya mengacu pada pemahaman tersebut maka menurutnya, jenis entrepreneur dapat dibedakan menjadi dua: entrepreneurial minded people dan serial entrepreneurs.

Individu yang bekerja dengan paradigma pebisnis (baca: entrepreneur) cenderung untuk senantiasa berorientasi pada solusi atas setiap permasalahan yang dihadapi. Makin tinggi ‘jam terbangnya’, maka makin tinggi pula kemandirian dalam mencari solusi. Melalui alokasi wewenang dan kebebasan dalam berkreasi umumnya jenis ini akan mampu menggerakkan seluruh elemen organisasi untuk berkinerja jauh melampaui target.

Di sejumlah perusahaan ditemukan fakta bahwa jenis tersebut secara tidak langsung efektif dalam menekan jalur birokrasi. Tendensi untuk berani bertanggung jawab atas setiap konsekuensi dari keputusan yang diambil merupakan langkah inspiratif bagi organisasi.

Lain halnya dengan jenis kedua. Seperti diungkapkan sebelumnya, jenis serial entrepreneur akan memberikan kinerja terbaiknya untuk memperluas jalan bagi cita-citanya (baca: memiliki bisnis sendiri). Ia akan berusaha untuk memahami pesan di setiap pembelajaran yang diperoleh sehari-hari.

Mulai dari memahami seluk beluk operasional, pasar, produksi, aspek keuangan hingga jaringan bisnis yang dimiliki perusahaan. Alhasil setelah usai masa ’pembelajarannya’, ia akan mampu menutup setiap kelemahan yang dimiliki perusahaan dan tampil sebagai pesaing potensial.

Anda mungkin akan berfikir bagaimana caranya meminimalkan kehadiran jenis entrepreneur kedua (opportunist) di dalam perusahaan. Namun saya ingin mengajak anda untuk memandang dari sisi yang lain.

Perkembangan individu sang opportunist untuk menjadi pesaing hendaknya menjadi cambuk bagi manajemen perusahaan agar dapat lebih adaptif, mandiri dan inovatif dari sebelumnya. Pahamilah bahwa apa yang selama ini ia pelajari di dalam perusahaan sudah tergantikan dengan pengetahuan yang baru. Alhasil pola pikir ini akan mengarah pada terciptanya perubahan-perubahan baru di dalam perusahaan.

Satu hal yang harus diingat adalah bahwa perubahan dan prestasi merupakan satu kesatuan. Dengan tampilnya pesaing yang bertumbuh secara natural dari internal perusahaan, maka manajemen akan mempunyai lawan yang ’sepadan’. Tanpa kehadirannya niscaya kita tak kan pernah tahu betapa hebatnya kinerja perusahaan selama ini.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai perusahaan anda!

*Tulisan dimuat di harian Kontan, 6 Maret 2012.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s