Mempertahankan Likuiditas Jangka Pendek

Peta ekonomi domestik pasca penerapan harga bahan bakar migas (baca: BBM) yang baru dipastikan mengalami perubahan. Sebagai topik yang sangat berpotensi menciptakan efek sistemik, jauh-jauh hari sebelum harga BBM baru diumumkan, harga-harga barang kebutuhan pokok secara umum mengalami kenaikan.

Kondisi yang sama juga terjadi di sektor manufaktur. Alih-alih kenaikan biaya serta kondisi infrastruktur transportasi yang kurang memadai telah menjadi alasan yang kuat untuk menciptakan harga ‘baru’.

Kompleksitas permasalahan pun kini mulai terjadi mengingat kenaikan harga mendapat respon negatif dari pasar sehingga pada sejumlah kasus, kedua belah pihak baik produsen maupun konsumen sama-sama diminta untuk ‘berkorban’. Mirisnya lagi, fenomena ini harus dihadapi oleh kalangan pebisnis pemula. Lalu apa yang harus diperbuat kini?

Satu solusi yang dapat menjadi alternatif terbaik adalah dengan menjaga likuiditas perusahaan dalam jangka pendek. Atau dengan kata lain meningkatkan efisiensi modal kerja. Harus diakui bahwa dalam kondisi saat ini beroperasi pada skala efisien yang tinggi sudah menjadi sebuah kewajiban, terlebih untuk bisnis baru sebab kenaikan biaya modal yang ditanggung berarti menurunkan potensi kemampulabaan perusahaan.

Peningkatan efisiensi modal kerja dapat dilakukan melalui beberapa cara. Satu di antaranya adalah dengan mengelola komponen-komponen pencipta modal kerja: kas, piutang, persediaan dan utang jangka pendek (jatuh tempo kurang dari 12 bulan).

Secara harafiah, likuiditas dipahami sebagai ketersediaan dana dalam bentuk tunai (baca; kas) saat dibutuhkan, terutama ketika tagihan kewajiban jangka pendek tiba. Bayangkan betapa kompleksnya permasalahan yang timbul jika perusahaan tidak mampu melunasi kewajiban jangka pendeknya. Dapat dipastikan kepercayaan dan credit rating perusahaan menurun di mata supplier atau rekanan lembaga keuangan (bank dan leasing).

Untuk itu, premis yang diajukan adalah meningkatkan penjualan secara kredit dengan kebijakan harga ‘khusus.’ Anda mungkin bertanya bagaimana mungkin perusahaan meningkatkan penjualan tunai di masa-masa pasar mengurangi penggunaan Rupiah? Itulah peran dari kebijakan harga ‘khusus.’

Demi pengenalan pasar, ada perlunya ‘margin’ dikorbankan sehingga saat kondisi ekonomi di tanah air membaik maka secara bertahap manajemen dapat mulai meningkatkan harga untuk mencapai target margin awal.

Bila premis tersebut sulit diterapkan, maka premis kedua yang dapat menjadi alternatif adalah meningkatkan kedisiplinan dalam penagihan piutang sekaligus lebih cermat dalam menerapkan kriteria calon konsumen kredit.

Pada kondisi ini, manajemen perlu mengkaji kembali perjanjian penjualan secara kredit yang diberlakukan kepada konsumen. Ini bertujuan untuk memastikan bahwa piutang perusahaan dapat tertagih tepat pada waktunya.

Premis ketiga dalam meningkatkan efisiensi modal kerja adalah dengan melihat kemungkinan menciptakan likuiditas pada persediaan perusahaan. Jika dalam realitasnya persediaan terbagi dalam bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi, maka kini tantangannya ada pada bagaimana manajemen mampu membuat ketiga kategori persediaan tadi siap untuk dijual tunai sewaktu-waktu. Kekuatan daya inovasilah yang akan menentukan keberhasilan pelaksanaan langkah ini.

Terakhir, dari sisi utang jangka pendek, premis yang dapat diajukan adalah dengan menata ulang jadwal jatuh tempo utang dan piutang perusahaan. Langkah ini dikenal dengan sebutan ‘aging schedule’. Di mana manajemen harus mensinkronisasi tenggat waktu antara jatuh tempo piutang dengan utang jangka pendek sehingga masa jatuh tempo piutang dapat ditetapkan sebelum jatuh tempo utang terjadi.

Hanya melalui mekanisme inilah perusahaan dapat melunasi utang-utangnya dengan memanfaatkan hasil penagihan piutangnya. Di satu sisi manajemen dapat tetap melakukan penjualan produk secara kredit, di sisi lain terdapat jaminan ketersediaan dana tunai ketika tagihan datang.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 26 Juni 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s