Positive Externality

no photo“Dilarang Memotret!”, bunyi pengumuman di galeri yang menjual produk kreasi terbaru. Tentunya sang pemilik takut ide kreatif mereka ditiru. Jika ditiru, bagi perancang adalah kerugian mengingat mereka telah mengeluarkan biaya untuk biaya riset dan pengembangan (R & D). Bila fenomena seperti ini terjadi secara meluas akan membuat persaingan menjadi tidak sehat karena inovasi menjadi tidak lagi menarik. Inilah salah satu contoh dari positive externality, terjemahan bebasnya:  pihak luarlah yang justru mendapat keuntungan.

Positive externality dalam kajian ekonomi makro didefinisikan sebagai benefit yang dinikmati oleh pihak ketiga akibat proses transaksi. Benefit yang dinikmati oleh ‘pihak ketiga’ yang notabene tidak berkontribusi pada transaksi tersebut, akan menyebabkan terjadinya ketidakadilan pada aspek biaya dan manfaat.

Dalam jangka panjang, situasi ini akan menyebabkan pihak penggagas transaksi awal akan mengurangi produksi dan konsumsi. Dalam konteks inovasi, inovator menjadi tidak termotivasi, akibat lanjutannya masyarakat juga yang akan merugi  karena  berkurangnya kesempatan menikmati produk inovasi baru, yang mungkin lebih efisien atau lebih produktif.

Situasi ini menyebabkan berkurangnya daya saing suatu wilayah atau negara.
Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi situasi ini? Pertama, dapat dimulai dari sisi Pemerintah sebagai regulator. Pemerintah dapat melakukan intervensi ketika mekanisme pasar tidak berjalan semestinya.

Dalam situasi dimana inovasi tidak mendapatkan insentif secara adil dari mekanisme pasar, maka Pemerintah dapat  campur tangan. Campur tangan tersebut dapat berupa pemberian hak paten, subsidi, atau pengurangan pajak.

Hak paten biasanya diberikan kepada inovator dalam kurun waktu tertentu, dimana dalam batas waktu tertentu tersebut diperkirakan sudah cukup bagi  inovator untuk mengembalikan biaya R & D yang telah dikeluarkan. Contohnya pada pemberian hak paten obat-obatan, dimana ketika masa patennya  selesai, maka produk generiknya dapat dipasarkan oleh produsen lain.

Subsidi bisa juga diberikan kepada inovator dengan cara Pemerintah membeli langsung hak patennya untuk kemudian menjadi milik publik. Pengurangan pajak bisa juga dilakukan dengan mengurangi pajak pertambahan nilai  (PPn) produk-produk inovasi baru.

Kedua, dari sisi perusahaan. Menunggu campur tangan Pemerintah, selain membutuhkan waktu relatif lama, seringkali juga memerlukan proses nan kompleks dan mahal. Maka, perusahaan dapat melakukan terobosan dengan menginisiasi  kolaborasi inovasi.

Disini, perusahaan dapat menggandeng tangan  pesaing utamanya sebagai mitra dalam proses R & D. Pertanyaannya adalah, “Siapa yang akan melakukan riset?” Jika sulit menetapkan siapa yang menggelar riset, maka melibatkan pihak eksternal  seperti institusi pendidikan dan lembaga riset dapat menjadi solusi.

Kemudian, “Siapa yang seharusnya berinisiatif” Ini juga sering menjadi masalah, terutama karena persaingan antar-perusahaan. Seharusnya asosiasi lah yang berinisiatif, baik asosiasi kelompok perusahaan atau asosiasi  kelompok profesional.

Lalu dimanakah peran direktur? Seorang pemimpin visioner biasanya sangat kuat dalam mendorong inovasi. Inovasi yang dilakukan dari dalam, adalah langkah terbaik sejauh dapat memastikan bahwa biaya R & D dapat dikembalikan dengan cepat, tentunya sebelum pesaing mengikuti, namun  jika melihat gejala positive externalities sangat kuat, maka pilihannya adalah menyiapkan hak paten atau melakukan kolaborasi.

Pilihan kedua akhir-akhir ini banyak dilakukan 0pen innovation, dimana kerja sama inovasi produk baru tidak hanya dilakukan dengan sesama pesaing, bahkan juga melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stakeholder) terutama yang termasuk dalam mata rantai supply-chain seperti pemasok, distributor, logistik, dan juga konsumen.

Hasil penelitian tentang inovasi menunjukkan bahwa pola kolaborasi dengan open innovation ini ternyata memiliki peluang untuk mendulang kesuksesan yang lebih besar.

*Tulisan dimuat di majalah BUMN Track No. 71 Tahun VII Juni 2013, h. 78.

Andi Ilham SaidIr. Andi Ilham Said, Ph.D. Direktur Utama PPM Manajemen
ais@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s