Dialektika Pancasila dalam Manajemen Modern

AHP Dialektika Pancasila di manajemenppm wordpress comMenempatkan Pancasila sebagai pandangan hidup harus diakui bukanlah hal yang sederhana.Betapa tidak, dalam perkembangan kekinian, peran nilai-nilai Pancasila kian pudar. Angka korupsi yang tinggi serta kompetisi antarelite politik telah menggantikan kedudukan dasar dan falsafah hidup bangsa dengan cara pandang individualistis.

Tak hanya itu, realitas serupa juga dialami di dunia bisnis Tanah Air. Praktik bisnis yang hanya berorientasi jangka pendek sering telah melemahkan daya saing para pemain domestik. Alhasil kekosongan tersebut telah dimanfaatkan asing secara optimal.

Hal ini terbukti dengan semakin tingginya dominasi asing pada perekonomian nasional. Padahal, di lain sisi Indonesia harus segera berbenah guna menghadapi ASEAN Eoonomic Community pada 2015. Jika tak segera dilakukan, niscaya nasib Indonesia dalam AEC akan serupa dengan “seniornya,” ACFTA. Mencermati kondisi tersebut, layaklah jika Ibu Pertiwi mempertanyakan peran Pancasila dalam kekinian.

Mengembangkan dialektika Pancasila di zaman modern ini merupakan hal yang sangat strategis. Bila segenap elemen bangsa masih meyakini kesahihan nilai-nilai Pancasila maka kini tantangannya ada pada bagaimana mendudukkan nilai-nilai tersebut dalam setiap dimensi kehidupan, termasuk di bidang ekonomi. Satu elemen pondasi dalam perekonomian dewasa ini adalah mekanisme pengelolaan (baca: manajemen) perusahaan.

Ekonomi yang kuat berawal dari manajemen yang tepat, ini kiranya jargon bisnis yang ideal pasca perdagangan bebas. Di tataran praktis, manajemen yang tepat selalu dilandasi dengan misi yang kuat. Nah dititik inilah nafas Pancasila sebagai falsafah hidup mutlak dibutuhkan. Selain sebagai faktor pembeda, menghidupkan Pancasila pada fase tersebut diyakini mampu menciptakan sebuah daya saing tersendiri bagi produsen lokal.

Betapa tidak, ada begitu banyak paradigma dalam manajemen modern yang ditemukan dalam refleksi nilai-nilai Pancasila. Sebut saja langkah menempatkan tujuan maksimalisasi kesejahteraan stakeholder sebagai prioritas utama.

Sebagai bentuk reaksi atas sistem kapitalisme barat, prinsip orientasi kepada stakeholder berkembang di era 90-an. Sebuah masa dimana manajemen meyakini bahwa orientasi kepada stakeholder akan memberikan dampak positif pada kelangsungan hidup perusahaan jangka panjang.

Sadar atau tidak, prinsip tersebut dapat dengan mudah ditemukan pada nilai-nilai Pancasila. Secara utuh, pemahaman untuk apa perusahaan di Indonesia dikembangkan mengacu pada sila kelima Pancasila. Mulai dari paradigma bahwa bisnis merupakan talenta dari Yang Maha Kuasa. Sehingga mengelola bisnis secara tepat berarti mensyukuri setiap nikmat yang diberi sekaligus bentuk pertanggungjawaban dunia akhirat.

Selanjutnya, ungkapan syukur tersebut direalisasikan melalui upaya menciptakan produk-produk yang mampu mengembalikan posisi manusia dalam konteks kemanusiaan. Gerakan produk hijau atau yang berwawasan lingkungan merupakan satu bukti nyata.

Tak hanya itu, kesadaran bahwa kehadiran perusahaan merupakan salah satu alat pemersatu bangsa merupakan pengejawantahan sila ketiga. Baik melalui bekerja bersama-sama tanpa memandang bulu, kebanggaan menggunakan produk karya anak negeri juga merupakan pemicu semangat kebangsaan yang efektif sehingga sejak proses eksplorasi kekayaan alam hingga konsumsi, semuanya melibatkan sumbangsih anak negeri. Maka dengan prinsip keadilan dalam ekonomi, niscaya kemakmuran akan lebih mudah terwujud.

Tak dapat dipungkiri bahwa dalam operasionalisasinya, manajemen modern selalu identik dengan perubahan yang terkadang memicu konflik. Dalam kondisi tersebut, sila keempat Pancasila memberikan modal kuat, yakni menyelesaikan masalah melalui musyawarah untuk mufakat.

Cara pandang Pancasila dalam dimensi iniharus diakui sangat strategis. Betapa tidak, musyawarah pada hakikatnya mampu menempatkan setiap individu lengkap dengan apreasi kepentingannya masing-masing sehingga permufakatan yang terjadi merupakan hasil dari pengendalian diri individu demi kepentingan bersama yang lebih besar.

Demikianlah dialektika tersebut akan terus berkembang seiring perubahan zaman. Bersyukurlah kita akan kekinian dari nilai-nilai Pancasila. Selamat berefleksi.

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 2 Juli 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s