Menjawab Tantangan Hyperspecialization

Era persaingan global dewasa ini menuntut perusahaan untuk beroperasi secara lebih efisien, salah satunya adalah dengan mengembangkan kemampuan khusus di bidang tertentu atau lazim disebut dengan spesialisasi.

Dengan adanya kemampuan khusus ini diharapkan kualitas output dapat ditingkatkan dengan biaya relatif  lebih rendah. Alhasil fenomena industri ini telah membawa perubahan yang cukup signifikan pada program pelatihan dan pengembangan karyawan.

Kini kita dapat dengan mudah mengidentifikasi jenis-jenis pelatihan yang berupaya untuk mengarahkan individu tidak hanya terbatas pada suatu keahlian, namun lebih kepada jenis sub-keahlian tertentu (baca; hyperspecialization).

Sebagai contoh untuk jenis pekerjaan pengelola website perusahaan dibutuhkan sejumlah sub-keahlian seperti di bidang peng-kodean (coding), pengolahan data hingga keahlian seorang designer situs yang akan mempercantik tampilan website perusahaan. Dengan begitu banyak keahlian yang dibutuhkan maka cukup sulit dewasa ini untuk mempekerjakan seorang individu yang memiliki kemampuan di semua sub-keahlian.

Di sisi lain,  dunia pendidikan dan pelatihan kerja secara otomatis menjawab kebutuhan industri dengan menyediakan kurikulum yang dapat meningkatkan keahlian khusus dari masing-masing individu. Pertanyaannya kini adalah: sampai kapan era hyperspecialization ini terjadi sehingga dapat memberikan jaminan keamanan atas kesejahteraan individu sebagai seorang pakar di bidang tertentu.

Debat seputar  hyperspecialization muncul pasca terbitan salah satu artikel dalam Harvard Business Review yang berjudul ‘The Big Idea: The Age of Hyperspecialization’. Di Amerika Serikat, fenomena ini serta merta mendapat tentangan keras dari sejumlah serikat buruh. Mereka bahkan menuding bahwa era inilah yang memicu lamanya proses pemulihan krisis ekonomi selama ini.

Seorang individu yang telah terbiasa bekerja dalam satu jenis keahlian akan mengalami kesulitan beralih keahlian, meski jenis keahlian tersebut bersifat umum dalam tipe pekerjaan yang sama. Alhasil muncul lah tuntutan pada pemerintah untuk segera membuka lapangan kerja pada sub-keahlian tertentu agar dapat mengurangi angka pengangguran.

Tak hanya itu, di Indonesia era hyperspecialization kini mulai dirasakan kehadirannya. Ini terlihat dari banyaknya jenis pekerjaan yang terpaksa dialihdayakan pada institusi lain (outsource) yang menguasai keahlian khusus tersebut.

Sebut saja jasa kebersihan lingkungan kantor baik di dalam maupun luar gedung. Alih-alih mempekerjakan individu dengan keahlian tersebut, manajemen lebih memilih untuk menyewa penyedia jasa untuk menyelesaikan pekerjaan.

Terlepas dari pro-kontra yang terjadi, maraknya hyperspecialization harus ditanggapi secara serius oleh berbagai pihak, termasuk dunia pendidikan sebagai lembaga pengembangan keahlian dan ketrampilan kerja. Menjadi tenaga trampil berkeahlian khusus harus dipahami sebagai sebuah hal positif, terutama jika manajemen perusahaan ingin mencapai skala ekonomi yang optimum. Penggunaan kemampuan secara optimal dari karyawan perlahan namun pasti akan mengarahkan perusahaan pada pencapaian hal tersebut.

Namun demikian ada beberapa hal yang perlu dicermati. Satu diantaranya terkait pola pengembangan keahlian khusus. Fenomena di Amerika Serikat yang tengah terjadi menunjukkan adanya pola pengembangan yang kurang tepat.

Seseorang dengan keahlian khusus  seharusnya telah menguasai jenis keahlian umum dalam satu bidang sehingga peralihan dari keahlian khusus ke keahlian umum dan sebaliknya dapat terjadi secara mudah. Rumusan ini bertujuan agar individu tidak sampai mengalami masalah keuangan jika jenis keahliannya tergantikan oleh tenaga lain.

Hal lain yang juga tak kalah pentingnya untuk dicermati adalah bahwa pengembangan keahlian khusus harus didasarkan pada proses yang berkelanjutan. Artinya bahwa pengembangan keahlian harus diupayakan berjenjang hingga inidividu dapat menjadi ‘pakar’ dalam keahlian tersebut.

Pertimbangan ini bertujuan untuk menghindari adanya gejala ‘keahlian tua – keahlian muda’. Keahlian tua merupakan jenis keahlian yang sudah tidak lagi banyak dibutuhkan karena dapat tergantikan dengan keahlian muda (baca: yang baru).

Dengan pola tersebut niscaya era hyperspecialization tidak akan lagi menakutkan bagi kita, sebaliknya melalui pengembangan terencana, berkeahlian khusus dapat memberikan jaminan keamanan ekonomi bagi seorang individu, termasuk perusahaan.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai perusahaan Anda!

*Tulisan ini dimuat di harian Kontan, [Oktober] 2011.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s