Dari Manager Menuju Leader: Tren Masa Kini

Inilah tren leadership masa kini: mengembangkan manager menjadi leader.  Terminologi manager dan leader tetap saya pertahankan agar makna aslinya tidak hilang.

Saat ini kabinet SBY–JK sudah diumumkan.  Lenyap sudah segala rumor yang beredar di masyarakat.  Walau tidak mampu memenuhi keinginan seluruh pihak, namun marilah kita berharap agar Kabinet Indonesia Bersatu ini mampu menjalankan amanah seluruh rakyat Indonesia di pundaknya masing-masing.  Merekalah leader di bidangnya masing-masing.

Mungkin masih terasa segar dalam ingatan betapa gencarnya rumor dan tarik ulur yang dilakukan oleh masing-masing partai untuk mendudukkan para calonnya di kabinet SBY–JK.  Pemanggilan para calon menteri ke Puri Cikeas menjadi berita yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Mekanisme yang sama kurang lebih terjadi pada Mark Gibson, seorang manajer pabrik di Pendleton Technology, seperti dikisahkan dalam buku ini.  Ia dipanggil oleh atasannya, Patricia.  Dalam pertemuan singkat tersebut Patricia memaparkan kesuksesan Mark sebagai manager yang baru bergabung dengan Pendleton Technology, terhitung baru 3 (tiga) tahun, sekaligus keinginan untuk ‘meminjam’ Mark guna memperbaiki ‘kesalahan’ di salah satu anak perusahaan.

Di akhir pertemuan, Patricia menanyakan apakah Mark siap untuk menjadi leader.  ‘Are you ready to lead?’  Hal ini ditanyakan karena Mark sedang dipersiapkan untuk menjadi leader oleh perusahaan dan Patricia menjadi mentornya.

Dapat diduga bahwa jawaban Mark adalah ‘Yes, I am ready to lead.’  Patricia mengajukan pertanyaan lanjutan, ‘Apa definisi Anda tentang leadership?’  Mark diberi waktu 1 (satu) jam untuk mendefinisikannya.

Waktu 1 (satu) jam pun berlalu, dan Patricia meminta Mark untuk memikirkannya lebih lanjut.  Mulailah ia mencarinya di kamus, pergi ke toko buku, dan bahkan tidur dengan pikiran tentang apa makna yang terkandung dari kata leadership. 

Setelah ia menemukannya keesokan paginya, ia segera mengirimkan e-mail kepada Patricia.  Namun setelah lari pagi dan berdiskusi dengan isterinya, Jean–seorang direktur sebuah lembaga non-profit, sebuah pemikiran baru muncul.  Saat ini definisi Mark tentang leadership adalah menentukan tujuan dan memotivasi orang-orang dengan kekuatan personal dirinya.

Tak lama, e-mail Patricia tiba dan ia mempertanyakan: jika definisinya demikian, apa perbedaan antara leadership dan management?  Patricia mengundang Mark untuk makan siang bersama siang itu.

Pada saat makan siang, Mark disodori pertanyaan: apa dan siapa saja yang menginspirasinya.  Inspirasi adalah pengalaman yang membekas dalam ingatan dan mampu mengubah perilaku kita ke arah yang lebih baik tentunya.

Kemudian Patricia memaparkan bahwa apa yang dicari oleh perusahaan adalah leader yang driven dan passionate.  Driven dalam artian berorientasi hasil dan mampu meyakinkan orang.  Passionate dalam artian mampu menggerakkan orang-orang sehingga mereka mampu mencapai tujuan mereka.  Tugas lanjutan untuk Mark adalah melakukan wawancara dengan orang-orang dan mencari tahu dari sisi apa Mark menginspirasi mereka.

Malam itu, Patricia menelepon Mark dan meminta kesediaannya untuk terbang ke Denver.  Di kota ini terdapat anak perusahaan Pendleton Technology, yaitu Oxford yang memproduksi mesin hidrolik dan semacamnya.  Ada masalah di sana: keuangan perusahaan terus menipis.  Ia diberi waktu 90 hari untuk mengembalikan kejayaan Oxford.  Setelah berdiskusi dengan Jean, isterinya, Mark pun menyanggupinya.

Setibanya di Denver, Mark diajak tur keliling pabrik.  Semuanya berjalan dengan baik.  Kemudian ia mengikuti pertemuan rutin yang diadakan oleh Wes Cooper, sang pendiri Oxford.  Dari pertemuan ini, Mark menyimpulkan bahwa Oxford berada dalam masalah besar.

Sayangnya, tidak ada satu orang pun yang menyadarinya.  Atau justru yang sebenarnya terjadi adalah seluruh karyawan termasuk Wes Cooper, sang pendiri dan direktur Oxford, sudah mengetahui hal ini namun berusaha menutupinya.  Yang menjadi perhatian utama Mark adalah larinya pelanggan utama Oxford kepada pesaingnya.

Sore harinya, ia bertemu dengan pendiri Pendleton Tecnology, Sam Pendleton.  Sembari main golf, Sam menyarankan Mark untuk melakukan tur sekali lagi.  Namun kali ini fokuskan perhatian pada orang-orangnya, bukan lagi ke pabrik.

Ia perlu memahami karakter orang-orang Oxford.  Diberikan pula nasihat agar jangan terjebak dengan 2 (dua) hal, yaitu (1) terlalu berpatokan pada leading by example; dan (2) untuk melakukan hal tersebut, sang leader biasanya akan menjadi identik dengan example yang dilakukannya.

Yang terakhir ini tidak begitu baik dampaknya bagi pengembangan leadership seseorang karena tujuan utama membangun leadership adalah bukan untuk mencetak kloning dari siapapun yang memiliki kemampuan leadership yang hebat.

Setelah mempelajari situasinya, Mark mengajak Peter, wakil Wes di Oxford, untuk mengunjungi pelanggan yang telah berpaling ini.  Sesampainya di sana, sang pelanggan mengemukakan masalahnya: barang yang dipesan dari Oxford mudah rusak namun harganya 15% lebih tinggi dari harga pasar.

Untuk menanganinya, Mark pun berjanji untuk segera menyelesaikan masalah ini: dia akan mengirimkan 2 (orang) teknisi untuk memperbaiki alat tersebut secara gratis.  Ia ditantang oleh sang pelanggan: jika dalam 28 hari barang yang diproduksi terbukti bagus, maka ia akan kembali memesan kepada Oxford.

Mengingat tugasnya, berdasarkan pengalaman ini Mark mendefinisikan ulang leadership yang ditulisnya dahulu.  Kini, leadership baginya adalah membantu orang-orang untuk mengerti dan percaya bahwa mereka dibutuhkan untuk membuat perubahan yang akan membawa pada kebaikan yang lebih besar lagi.

Definisi ulang ini dikomentari oleh Patricia yang kemudian memberikan definisi leadership ala Patricia.  Menurut Patricia, leadership merupakan proses penciptaan yang luar biasa (miraculous process of creation).

Terdapat 6 (enam) tahapan dalam proses ini.  Pertama, memvisualisasikan sesuatu yang baru atau berbeda.  Kedua, menemukan arti dan tujuan yang akan menyatukan kamu dan yang lainnya untuk merealisasikan ide ini.  Ketiga, mengerti dan memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri.  Keempat, komunikasi dan menjalin hubungan dengan orang-orang sehingga mereka memiliki kesempatan untuk merealisasikan visi ini.  Kelima, mengorganisasikan dan mengintegrasikan orang dan sumberdaya untuk mencapai tujuan.  Terakhir, fokus kepada hasil dan mencapai tujuan yang telah disusun sebelumnya.

Proses pertama hingga keempat merupakan fungsi leadership sementara tahapan kelima dan keenam adalah fungsi management.  Terakhir barulah diketahui bahwa definisi ini merupakan definisi awal Patricia tentang leadership dan management setelah berdiskusi panjang lebar dengan Sam Pendleton.

Sebagai langkah pertama mengembalikan kejayaan Oxford, Mark memutuskan untuk berbicara empat mata dengan Wes.  Mark menyusun strategi untuk menghadapi Wes yang menurut Sam adalah orang yang cerdas namun mudah tersinggung.  Saran dari Sam dan Patricia betul-betul didengarnya: tetap fokus.

Malam hari, ia bertemu dengan Wes.  Di sini ia menyadari bahwa Wes adalah engineer sejati.  Ia memiliki karisma tersendiri sehingga seluruh karyawannya percaya penuh pada apa pun yang dikatakan Wes.  Wes juga tergolong orang yang menyukai pertumbuhan bisnis secara pesat dengan membuka pasar baru namun cenderung melupakan pelanggan yang lama.

Ia pun mengajukan pertanyaan ‘are you ready to lead?’ yang disambut dengan kemarahan Wes.  Akhirnya ia mengganti pertanyaannya menjadi ‘are you ready to examine you definition of leadership?’

Setelah bertemu Wes, Mark mulai melakukan refleksi dibantu oleh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Patricia.  Keesokan harinya, Mark diperkenalkan kepada seluruh karyawan.  Suasana yang kaku pada awalnya akhirnya cair setelah beberapa orang mengajukan pertanyaan.

Dalam kesempatan ini Mark menawarkan 2 (dua) tiket bagi siapa pun yang bersedia datang ke lokasi pelanggan yang telah lari tadi untuk memperbaiki alat hidroliknya sekaligus mengajak untuk bersama-sama mengembalikan kejayaan Oxford.

Pertemuan untuk meningkatkan kualitas produk pun digelar.  Awalnya semua berjalan lancar.  Namun lama kelamaan energi karyawan menurun dan pertemuan pun menjadi kacau.  Melihat hal ini Mark kemudian menelepon Wes yang sedang melakukan negosiasi dengan pelanggan yang lari untuk segera datang.

Setelah 27 hari, Patricia datang ke Oxford.  Ini merupakan saat kritis apakah sang pelanggan akan kembali menjadikan Oxford sebagai mitra bisnis atau justru berpaling kepada sang pesaing.  Pada akhirnya sang pelanggan pun kembali kepada Oxford yang telah berubah.

Patricia menemui Mark yang terlihat lelah karena terlalu sering begadang bersama-sama dengan karyawan Oxford.  Di sini Patricia menerangkan bahwa leader seharusnya tidak perlu turun ke tingkat operasional.  Mark mulai merasa bahwa definisi yang dibangunnya kacau balau.

Telepon Mark tak lama berdering.  Sam menyadarkan Mark bahwa terdapat paradoks leadership, yaitu banyak orang yang menunggu hingga ia menguasai betul konsep leadership sebelum mereka menuliskan beberapa nasihat tentang membangun leadership dan menyebarkannya.

Sam mengatakan: hanya dengan menuliskan pengalaman dan nasihat, menyebarkannya, dan mendiskusikannya, orang tersebut akan menguasai leadership secara lebih baik (have mastery in leadership).

Pada bagian akhir diceritakan Patricia meminta Mark untuk memilih penugasan apa lagi yang patut diberikan kepadanya sehingga kemampuannya sebagai leader akan semakin terasah.  Hal ini penting mengingat salah satu karakteristik leader adalah mampu menciptakan peluang bagi dirinya untuk maju dan menjadi lebih baik.

Paparan dilanjutkan dengan pengutaraan definisi terakhir tentang leadership yang dimiliki Mark kepada Patricia.  Definisi tersebut adalah leadership builds a community of purpose while management builds a community capable of purpose.  Cerita ditutup dengan Mark yang mulai menuliskan pengalamannya.

Sungguh sebuah buku yang membawa pencerahan tersendiri.  Secara umum, buku ini sarat dengan nasihat dan pergulatan batin seorang manager yang sedang disiapkan dalam waktu singkat untuk menjadi seorang leader. 

Persiapan ini didukung sepenuhnya oleh pimpinan puncak perusahaan dengan menugaskan seorang mentor sebagai pendamping.  Caranya adalah dengan memberikan penugasan yang sarat dengan kemampuan untuk mengaktualisasikan leadership yang dimiliki seseorang dalam rentang waktu yang sempit.

Bahasa yang digunakan mudah dimengerti dan penyajiannya runtut.  Hal ini memudahkan pembaca untuk memahami pesan yang hendak disampaikan sang penulis.  Tidak diperlukan sebuah pengetahuan khusus untuk memahami pemaparan penulis.  Artinya seluruh kalangan yang tidak memiliki pengetahuan dasar tentang leadership pun dapat membaca dan memetik manfaatnya.

Dengan membaca tuntas buku ini, kita akan menemukan insight baru tentang definisi leadership, bagaimana pergulatan pikiran untuk mendapatkan definisi yang tepat untuk seseorang, dan bagaimana mengembangkan leadership, bahkan oleh diri sendiri.

Alan Price, sang penulis, nampaknya percaya penuh bahwa definisi leadership untuk tiap orang berbeda karena leadership tidak bertujuan untuk mencetak kloning dari leader terdahulu yang telah sukses.  Namun leadership lebih kepada pergulatan pikiran dan diri untuk menjadi seorang leader yang baik dengan cara yang khas dan unik.

Kunci pengembangan leadership pun dituliskan dengan jelas di sini yaitu:

  1. Tanyakan: ‘are you ready to lead?’  Hal ini merupakan pertanyaan yang dilontarkan sebagai pertanda bahwa Anda mulai memilih untuk menjadi leader.
  2. Definisikan leadership untuk diri Anda sendiri.  Bagaimanapun definisi yang Anda hasilkan, jangan berkecil hati dan teruslah mencari pengalaman untuk mengasah kemampuan leadership tersebut.
  3. Tergantung pada poin 2.   Maksudnya, tujuan apa yang akan dihasilkan pada poin 2 itulah yang sebaiknya Anda lakukan.  Yang terpenting adalah Anda memiliki kewajiban untuk membantu orang lain dalam membangun diri mereka untuk menjadi leader ala diri mereka sendiri.

Rasanya mudah memang untuk diterapkan, namun setelah dijalani akan mulai terasa kesulitannya.

Walaupun kasus yang diberikan kepada Mark relatif sederhana dan mudah ditebak langkah apa yang akan dia ambil, namun di sini kita belajar bahwa membangun leadership bukan tahapan yang instan.  Semuanya harus dibangun secara bertahap.

Perlu dimunculkan personal challenge dalam diri sehingga kita selalu terpacu untuk menjadi leader yang lebih baik. Tanpa hal ini, peran mentor – dalam buku ini diemban oleh Patricia – akan menjadi sia-sia.

Nah, setelah melahap habis buku Ready to Lead? ini, pertanyaan terpenting yang wajib Anda tanyakan pada diri Anda sendiri, jika Anda berkeinginan untuk menjadi seorang leader adalah ‘are you ready to lead?’

Selanjutnya, definisikan leadership menurut Anda, dan sebarkan hal ini kepada yang lain.  Teruslah mencari peluang untuk mengembangkan kemampuan leadership yang Anda miliki.  Selamat merenung!

*Tulisan ini dimuat di Majalah SWA, April 2005.

Diah Tuhfat blogDiah Tuhfat Yoshida, Konsultan Manajemen Strategis – PPM Consulting (2003-2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s