Efek Dahsyat ‘Agility’

Masih lekat dalam ingatan bagaimana dua raksasa teknologi informasi (Samsung dan Apple) saling beradu memperebutkan hak paten di beberapa negara.

Setelah serangkaian debat di pengadilan alhasil di sejumlah negara menyatakan bahwa Samsung lah yang menjadi pemenang lengkap dengan hak-hak yang menyertainya, namun di beberapa negara lain justru Apple lah yang dinyatakan sebagai pemenang.

Sebuah bukti bahwa penggagas sebuah produk tidak serta merta menjadi pemimpin pasar, namun second player juga bisa berpeluang menguasai pasar. Meskipun realitas tersebut oleh sebagian kalangan dinilai sebagai sebuah kejadian yang bersifat ‘out of context’ (baca: karena keluar dari batas-batas konsep yang selama ini dipelajari).

Namun jika demikian adanya, maka kejadian tersebut setidaknya mengingatkan kita akan filosofi dasar dari konsep manajemen, yakni pentingnya dimensi ‘agility’.

Agility dapat diartikan sebagai; cerdas, tangkas, gesit dan lincah. Anda dapat membayangkan jika manajemen tetap mempertahankan gaya konvensionalnya dalam persaingan saat ini, maka hampir dapat dipastikan bahwa keputusan manajemen nantinya tidak akan berkontribusi positif pada penambahan umur perusahaan.

Berbeda halnya jika manajemen berhasil menghidupkan prinsip agility itu sendiri. Dengan perpaduan antara kelincahan dan kecerdasan, niscaya pendatang baru pun dapat menjadi penguasa pasar dalam waktu yang relatif singkat.

Menumbuhkembangkan agility dalam organisasi memang bukan hal yang mudah. Setidaknya ada tiga unsur yang perlu ada di dalam manajemen perusahaan.

Pertama, adanya dimensi agility dalam nilai-nilai yang dianut perusahaan. Tanpa adanya budaya kerja yang mendukung, niscaya pembentukan etos kerja aktif akan menemui hambatan yang berarti. Kita dapat belajar dari perusahaan kelas dunia yang senantiasa mengedepankan apresiasi terhadap prestasi sang karyawan, baik dalam bentuk pemberian hak paten maupun secara finansial. Budaya tersebut secara langsung memicu motivasi karyawan untuk terus berkarya tidak hanya bagi perusahaan semata namun lebih pada aktualisasi individu.

Kedua, terkait komitmen. Bertumbuh dengan pola ‘agility’ menuntut adanya komitmen dari individu untuk berkarya secara positif. Semangat pantang menyerah dan senantiasa berupaya melakukan yang terbaik, hendaknya menjadi landasan bagi setiap etos kerja. Kita dapat merujuk pada budaya kerja perusahaan di Jepang, China dan Korea yang senantiasa mengedepankan komitmen dalam berkarya.

Pemahaman bekerja tidak semata menguntungkan perusahaan namun juga bagi kepentingan diri sendiri di Indonesia belum sepenuhnya terwujud. Kita masih dapat menemukan hari-hari ‘sibuk’ dan hari-hari tenang dalam satu minggu bekerja. Fenomena tersebut sekaligus dapat dijadikan indikator apakah anggota organisasi benar-benar siap untuk menyongsong era baru.

Ketiga, terkait dengan rencana pengembangan karir bagi masing-masing individu. Di sejumlah perusahaan, rencana ini merupakan prasyarat utama bagi tumbuh kembangnya konsep ‘agility’ dalam organisasi. Tanpa adanya rencana yang jelas, niscaya individu tidak akan tertarik dengan berbagai macam program dan kebijakan manajemen yang mengarah pada terciptanya proses pembelajaran dalam organisasi.

Lebih lanjut, rencana pengembangan karir diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada individu akan jalur karir yang akan dilalui selama ia bekerja di perusahaan. Pada rencana pengembangan yang baik, peta jenis keahlian berikut program pelatihan dan pengembangan yang harus diikuti sudah dapat teridentifikasi sejak dini.

Demikian pula dengan program reward dan konsekuensi dalam bentuk punishment yang akan diperoleh masing-masing individu. Kejelasan ini turut menentukan besar kecilnya motivasi bertumbuh dalam diri karyawan.

Alhasil dengan dukungan nyata pihak manajemen maka masing-masing anggota organisasi akan berkembang dan berkarya dalam lingkungan yang senantiasa menuntut pembelajaran ‘lebih’.

Selanjutnya secara otomatis pola kerja yang tercipta akan senantiasa mengajak individu untuk bekerja secara lebih aktif, lincah dan senantiasa mengembangkan kecerdasan yang tinggi. Dalam kondisi inilah ‘agility’ akan memberikan efek positif bagi peningkatan kinerja perusahaan Anda. Bukan hanya dalam hal keuntungan, namun lebih pada penambahan umur perusahaan.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai perusahaan Anda!

*Tulisan ini dimuat di harian Kontan, [Oktober] 2011.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s