Antisipasi Fluktuasi Kurs

Gonjang-ganjing perekonomian Eropa kini memasuki babak baru terhitung sejak Standard and Poor’s memutuskan untuk menurunkan peringkat utang Italia. Aksi tersebut spontan memicu kepanikan pasar sehingga aliran ‘hot money’ turut hengkang dari Indonesia.

Hasilnya adalah melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar hingga menembus level Rp. 9.000. Jika tak segera diantisipasi oleh otoritas moneter, maka Rupiah bisa terkerek hingga Rp. 9.300-an dalam sepekan ke depan sebagai konsekuensi penerapan rezim devisa bebas.

Melemahnya nilai tukar Rupiah kini merupakan tantangan terberat bagi industri di tanah air. Bukan hanya karena sebagian bahan baku diperoleh dari sejumlah negara asing, namun pelemahan nilai tukar juga terjadi pada Dollar Amerika sehingga berpeluang mengganggu aktivitas ekspor domestik.

Kekhawatiran serupa juga dialami dalam hal pendanaan. Dengan kurs yang menembus Rp. 9.000 maka bertambah pula dana Rupiah yang harus disiapkan oleh perusahaan-perusahaan lokal dalam melunasi kewajibannya. Untuk itu diperlukan sebuah strategi jitu dari perusahaan dalam mengantisipasi kondisi yang tengah terjadi.

Satu keputusan keuangan yang secara langsung terkena dampak dari situasi tersebut adalah pendanaan, khususnya pendanaan jangka pendek. Dapat dibayangkan jika pada masa krisis perusahaan anda menumpuk  pendanaan pada sumber dana jangka panjang.

Melemahnya nilai tukar secara otomatis berdampak pada peningkatan beban bunga atas pinjaman jangka panjang tersebut sehingga strategi yang mulanya dinilai aman, ternyata membawa dampak negatif  pada kinerja keuangan perusahaan.

Di antara tiga strategi pendanaan modal kerja (pendekatan konservatif, pendekatan moderat dan pendekatan agresif), pendekatan moderat oleh sebagian kalangan dinilai sebagai strategi yang ideal. Pendekatan ini dilakukan dengan memenuhi kebutuhan modal kerja permanen dengan dana jangka panjang.

Sedangkan kebutuhan modal kerja musiman sebagian didanai dengan dana jangka panjang, sebagian lagi dengan dana jangka pendek. Fleksibilitas yang dimiliki pendekatan ini memungkinkan manajemen untuk beralih dari sumber dana yang membebani perusahaan dengan biaya tinggi ke sumber dana dengan biaya rendah.

Keuntungan lain yang dapat diperoleh dari pendekatan ini adalah terciptanya pengaman atas pemenuhan kebutuhan dana perusahaan. Penggunaan dana jangka panjang pada kebutuhan modal kerja permanen bertujuan untuk menjaga stabilitas operasional perusahaan sehingga dapat diarahkan sebagai mekanisme dalam menghadapi kondisi krisis.

Selanjutnya realitas di lapangan juga menunjukkan bahwa pendekatan ini terbukti tak hanya mampu mempertahankan stabilitas bisnis, namun juga menurunkan biaya bunga. Artinya, ketika kebutuhan modal kerja menurun, manajemen dapat melunasi pinjaman jangka pendek.

Dengan demikian langkah meminimalkan dana yang idle dapat dilakukan secara efektif. Sebaliknya saat terjadi peningkatan kebutuhan modal kerja, manajemen hanya perlu mencari sebagian kecil dana tambahan dalam bentuk pinjaman jangka pendek.

Strategi lain yang dapat digunakan dalam antisipasi risiko kurs adalah berdagang dengan mata uang yang sama. Meski langkah ini masih menjadi bahan diskusi hangat di kalangan praktisi, namun dalam sejumlah kasus terdapat bukti bahwa perusahaan-perusahaan yang berhasil melewati masa krisis menggunakan mata uang yang tidak terlalu variatif dalam proses bisnisnya.

Misalnya, jika sebagian besar proses produksi didanai dengan mata uang US$, maka manajemen dapat meningkatkan orientasi ekspor dalam US$ untuk mengimbangi kondisi tersebut, demikian pula sebaliknya.

Meski di atas kertas strategi ini dinilai mudah dilakukan, namun realitas praktik bisnis mungkin tak semudah yang dibayangkan. Untuk itu aktivitas hedging dapat menjadi pilihan terakhir bagi manajemen dalam menghadapi risiko perubahan kurs.

Melalui beberapa instrument keuangan seperti kontrak forward dan option, manajemen berkesempatan untuk melakukan ‘lindung nilai’ atas pendanaan baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran.

Harus diakui bahwa aktivitas ini sering tidak menjadi pilihan disebabkan karena tingginya biaya transaksi. Namun setidaknya dapat dipertimbangkan keuntungan yang diperoleh dari aktivitas hedging. Tak hanya lindung nilai semata, tehnik ini bersifat meminimalkan ketidakpastian yang terjadi di masa depan. Selama biaya yang timbul tak jauh lebih besar dari benefit yang diperoleh maka hedging dapat tetap menjadi pilihan terbaik.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai perusahaan Anda!

*Tulisan ini dimuat di harian Kontan, [September] 2011.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s