Menimba Kebajikan Dunia & Akhirat

AHP Koran Sindo 090713 copyMemasuki bulan suci Ramadhan, manajemen perusahaan kembali diingatkan akan jati diri sosialnya. Di bulan ini pulalah manajemen berkesempatan melakukan kegiatan nyata beribadah sekaligus membangun masyarakat melalui program-program corporate social responsibility (baca; CSR).

Alhasil momen refleksi dalam bulan penuh berkah ini dapat dijadikan titik origin bagi terobosan aktivitas CSR secara lebih berkesinambungan sekaligus terukur sehingga diharapkan akan semakin banyak perusahaan yang turut menggeser program CSR-nya dari yang bersifat retorika menjadi aktivitas nyata yang berdampak positif kepada lingkungan.

Meski pelaksanaan kegiatan CSR telah diwajibkan melalui aturan pemerintah, namun program ini pada dasarnya sangat lekat dengan misi setiap perusahaan. Secara umum basis CSR berasal pada tiga elemen: manusia, alam dan profit.

Dengan menempatkan perusahaan di tengah-tengah ketiga elemen tersebut maka secara implisit timbullah pemahaman bahwa untuk dapat mencapai visinya, manajemen harus terus mengupayakan harmonisasi dan keseimbangan di antara ketiga elemen yang ada. Inilah yang menjadi filosofi dasar tanggung jawab sosial perusahaan.

Pada dimensi perusahaan dengan alam, manajemen kembali diingatkan bahwa sebagai konsekuensi eksplorasi kekayaan alam untuk menunjang kegiatan produksi, perusahaan wajib melakukan konservasi agar alam yang sama dapat dimanfaatkan generasi-generasi selanjutnya. Nafas ini juga dihembuskan oleh Pancasila.

Dalam salah satu kristalisasi nilainya, Pancasila mengarahkan kita untuk memahami prinsip keseimbangan antara hak dan kewajiban. Ketimpangan di antara keduanya akan berdampak negatif pada keberlangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang. Bukan hanya menghadapi ‘vonis’ dari masyarakat, melainkan juga tuntutan hukum.

Pada dimensi kedua, manajemen turut diingatkan akan pentingnya harmonisasi dengan manusia (dalam hal ini masyarakat sekitar). Tak cukup dengan mempekerjakan mereka dalam kegiatan operasional perusahaan. Kini manajemen juga diharapkan mulai memikirkan perkembangan kualitas kehidupan mereka.

Program – program seperti peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan khususnya bagi generasi lanjutan diharapkan mampu menciptakan fundamental yang kuat bagi kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Karenanya, upaya pembukaan akses layanan kesehatan bagi masyarakat terutama di daerah-daerah terpencil hendaknya menjadi fokus kegiatan jangka pendek. Tak hanya itu, perubahan paradigma masyarakat atas kesehatan juga menjadi pekerjaan rumah yang belum usai.

Melalui sosialisasi cara hidup sehat di tingkat pendidikan dasar hingga menengah, diharapkan perubahan cara pandang dapat lebih cepat terjadi. Untuk itu langkah inkulturasi dengan nilai-nilai lokal daerah mutlak diperlukan.

Tidak hanya dalam hal kesehatan, aktivitas CSR juga perlu dilakukan dengan membuka akses masyarakat pada kualitas pendidikan yang terbaik, baik di sektor formal maupun non formal. Dengan pendidikan yang baik, niscaya masyarakat akan lebih adaptif pada perubahan lingkungan. Proses adaptif inilah yang akan menghantarkan mereka pada kualitas kehidupan yang lebih baik.

Hal yang sama juga dibutuhkan pada dimensi perusahaan dengan ‘profitnya’. Kristalisasi nilai-nilai Pancasila telah menegaskan bahwa menimba kebajikan sifatnya ‘dunia dan akhirat’. Anda mungkin masih ingat dengan salah satu butir yang menyatakan ‘gemar melakukan kegiatan kemanusiaan’.

Dalam konteks tersebut, manajemen kembali diingatkan bahwa keuntungan yang diperoleh berasal dari kerelaan konsumen sehingga wajar bila perusahaan berkewajiban mengembalikan sebagian dari keuntungannya bagi kesejahteraan pasar.

Dengan cara ini simbiosis mutualisme keduanya akan tercipta. Di satu sisi melalui produknya, perusahaan telah membantu konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. Di sisi lain konsumen bersyukur atas kehadiran perusahaan sehingga bukan hanya doa dipanjatkan, pasar akan turut menjaga keberlangsungan operasional perusahaan di masa depan.

Melalui pemahaman bahwa perwujudan tanggung jawab sosial perusahaan merupakan salah satu bentuk ibadah yang nyata, semoga di bulan suci ini manajemen dapat bergeser dari retorikanya untuk turut menyingsingkan lengan bagi Indonesia yang lebih maju di masa depan.

Selamat menunaikan ibadah Puasa, semoga penuh berkah dan ampunan.

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 9 Juli 2013. h. 4.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s