Menghidupkan Optimisme Pasar

Pasca kenaikan harga bahan bakar minyak beberapa pekan yang lalu, sejumlah media nasional secara aktif mengajak kita untuk menakar dampak yang terjadi. Satu di antaranya adalah simpulan bahwa dengan kenaikan tersebut sontak sebagian besar masyarakat ‘terjepit’.

Di satu sisi terdapat tuntutan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi, di sisi lain realitas memberikan harga-harga ‘baru’ bahkan jauh di atas kenaikan BBM itu sendiri. Dampak krisis global, musim yang kurang bersahabat hingga moment Lebaran disebut-sebut sebagai pemicu kenaikan harga barang–barang kebutuhan pokok. Meski ‘dibantu’ dengan ‘BLSM’ di banyak daerah masyarakat masih ‘menjerit’.

Fenomena yang sama juga terjadi di ranah modal. Pasar modal dan uang pun selama beberapa waktu terakhir sempat terkoreksi. Rupiah kini dipaksa untuk beroperasi di atas Rp 10.000. Terbayang kini; di satu sisi pasar konsumsi bergejolak, di sisi lain pasar modal menjadi ‘lesu’, lalu bagaimana caranya keluar dari realitas ini?

Satu konsep yang dapat dijadikan bahan diskusi adalah ‘membangun’ optimisme pasar. Saya teringat pada pemahaman bahwa di kala pasar sedang ‘bingung’, maka kehadiran kekuatan heroik mutlak diperlukan.

Cara pandang ini sebenarnya cukup sederhana. Secara psikologis, pasar (baca: penawaran dan permintaan atau supply and demand) terjadi karena adanya tuntutan untuk mengamankan kebutuhan hidup dasar manusia. Di satu sisi terdapat kelompok yang mengharuskan mereka menawarkan produknya, di sisi lain ada kelompok yang mewajibkan mereka untuk mencari produk-produk tersebut. Alhasil di titik itulah transaksi terjadi.

Realitas ‘kelesuan’ pasar sebenarnya berangkat dari keberanian masing-masing pihak untuk ‘menahan’ sejenak potensi pemenuhan kebutuhannya untuk kemudian menurunkan kualitas yang diharapkan. Pada kondisi ini sebenarnya pasar sedang hidup dalam bayangan masa depan.

Semakin cerah masa depan yang dijanjikan, makin tinggi optimism pasar yang terjadi sehingga meski kini tengah dihimpit oleh kondisi yang kurang menguntungkan, namun harapan bahwa hari esok akan lebih baik akan memicu semangat pasar.

Satu titik ungkit yang sekiranya kini dapat digunakan dalam mengidupkan optimisme pasar adalah terkendalinya harga barang-barang pasca Lebaran. Upaya nyata pemerintah dalam menjaga stabilitas harga baik melalui operasi pasar ataupun efisiensi-efektivitas jalur distribusi kini dalam fase ujian.

Hal senada juga terjadi di antara pelaku pasar lainnya. Aksi spekulanpun kini tak luput dari ujian. Ketika mereka berhasil mengerek harga menjadi tinggi, namun tanpa dibarengi dengan adanya daya beli masyarakat niscaya harga akan bergerak turun secara otomatis. Inilah salah satu ‘keajaiban’ pasar; manakala bereaksi atas upaya spekulasi.

Titik ungkit lainnya adalah realisasi nyata dari upaya peningkatan efektivitas alokasi anggaran pemerintah. Dalam konsep ini program-program pemerintah yang mampu menstimulus kegiatan produksi berorientasi ekspor di tanah air menjadi hal yang sangat vital. Karena hanya dengan cara inilah pasar domestik akan memperoleh keuntungan lebih sehingga mampu memberikan dampak positif pada kegiatan ekonomi lokal. Rumusan ini telah dibuktikan Singapura pada fase-fase awal kebangkitan ekonominya.

Melalui terciptanya kondisi makro nasional yang kondusif, apalagi didukung dengan pemilikan sumber daya alam yang terbarukan, seharusnya Indonesia lebih optimis dalam melihat masa depan.

Meski sejumlah asset nasional kini mulai dimiliki asing namun melalui regulasi yang mengikat, mereka dapat dipaksa untuk menggunakan keuntungannya bagi kepentingan domestik sebelum ‘dilarikan’ kembali ke negaranya sehingga secara paralel, percepatan kinerja pemain domestik diharapkan mampu mengembalikan asset ke tangan anak bangsa.

‘Badai pasti berlalu’. Selama masih ada optimisme, di situlah sebenarnya nafas kehidupan dihembuskan. Semoga di bulan suci Ramadhan ini masing-masing pihak dapat berinstropeksi demi kehidupan Indonesia yang jauh lebih baik.

Sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 10 Juli 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s