Menjadi Pendengar yang Baik

Menurut sejumlah penelitian, 75% dari seluruh waktu kita digunakan untuk berkomunikasi. Jika kita sekilas mengingat kegiatan di organisasi atau tempat kerja setiap hari: memberi instruksi, memotivasi karyawan, melakukan presentasi, menulis surat, mejawab telepon, menegur bawahan, rapat dsb., merupakan gambaran kegiatan kerja kita akan selalu diliputi oleh komunikasi.

Komunikasi merupakan suatu proses dalam mengirim dan menerima informasi. Jika komunikasi yang kita lakukan berjalan dengan baik maka orang lain akan mengerti apa yang kita inginkan, bicarakan atau bahkan mereka akan mengerjakan apa yang kita instruksikan. Selain itu kita pun dapat mengetahui informasi apa yang ingin mereka sampaikan, apa yang mereka butuhkan, dan sebagainya.

Masalahnya adalah untuk melakukan komunikasi yang baik kita seringkali mengalami hambatan, salah satunya adalah ketika kita menjadi pendengar dalam proses komunikasi. Banyak persoalan dan kesalahpahaman yang timbul dalam komunikasi yang disebabkan karena kita kurang berkonsentrasi pada saat mendengarkan seseorang berbicara.

Pada tahun 1980-an suatu tim penelitian dari Loyola University mengadakan suatu riset yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menentukan keterampilan seorang manajer dalam komunikasi bisnis.

Satu kesimpulan yang dihasilkan adalah bahwa seorang manajer harus dapat mengenali dan memecahkan persoalan yang ada pada para karyawannya. Untuk itu seorang manajer harus bisa menjadi pendengar yang baik.

Sayangnya, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian manajer belum menjadi pendengar yang baik. Hal tersebut terlihat dari beberapa komentar karyawan:

  • “Atasan saya selalu mendominasi pembicaraan sehingga saya tidak dapat memberikan saran untuk mengatasi persoalan di Bagian Produksi.”
  • “Atasan saya selalu memotong pembicaraan.”
  • “Saya tidak mengerti apakah manajer saya mengerti apa yang sedang kami diskusikan.”
  • “Berbicara dengan atasan? Hanya membuang waktu saja!”
  • “Sebenarnya hal tersebut sudah seringkali dibicarakan.”
  • “Atasan saya tidak pernah menatap saya ketika kami sedang terlibat percakapan.”

Komentar-komentar tersebut bisa saja terjadi pada diri kita. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita sudah menjadi pendengar yang baik?

Mengapa kita perlu menjadi pendengar yang baik?

Menjadi pendengar yang baik bukanlah usaha yang mudah. Seseorang harus dapat bersikap objektif dan dapat memahami pesan yang disampaikan oleh lawan berkomunikasinya. Mendengarkan dengan efektif membutuhkan konsentrasi, pengalaman dan keterampilan. Manfaat dari menjadi pendengar yang baik di antaranya:

  • Lawan berbicara kita akan lebih mudah dalam menyampaikan informasi.
  • Hubungan kerja akan semakin baik.
  • Mendorong pembicara untuk tetap berkomunikasi.
  • Informasi dalam bentuk instruksi, umpan balik dan lainnya akan lebih jelas diterima.

Menjadi pendengar yang baik

Menjadi pendengar yang baik membutuhkan usaha dan latihan yang teratur. Langkah terpenting pertama yang harus kita lakukan adalah menyadari bahwa mendengarkan seseorang berbicara adalah suatu kebutuhan yang sama pentingnya dengan keterampilan berkomunikasi yang lain seperti: berbicara, menulis dan membaca.

Berikut ini disampaikan beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai panduan pada saat kita mendengarkan seseorang berbicara.

1. Perlu diingat bahwa kita tidak dapat mendengarkan dan berbicara pada saat bersamaan. Hal ini merupakan prinsip dasar dari mendengarkan efektif. Seseorang cenderung untuk selalu menambahkan pendapatnya pada saat ia berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini menjadi persoalan jika lawan bicara kita belum selesai berbicara. Ia bisa saja merasa terganggu. Dari pihak pendengar jelas konsentrasi akan terpecah.

2. Mencoba memahami pokok pikiran atau ide utama pembicara. Seorang pendengar yang baik selalu mencoba untuk memahami intisari dari suatu pesan.

3. Hindari gangguan dari lingkungan sekitar. Pendengar yang baik selalu mencoba untuk memfokuskan diri pada pembicara. Mencoba mendengarkan keluhan karyawan sebagai contoh, tanpa terpengaruh oleh dering telepon, orang yang berlalu lalang, dan sebagainya. Oleh karena itu dianjurkan untuk pembicaraan yang serius, faktor lingkungan perlu diperhatikan.

4. Mencoba untuk mengendalikan emosi. Pendengar yang baik selalu mencoba untuk mengesampingkan emosi, sehingga ia dapat menerima pembicaraan dengan jernih. Selalu mencoba untuk memahami pembicara tanpa membuat penilaian pribadi atas pembicara.

5. Membuat catatan jelas dan singkat. Buatlah catatan kecil tanpa mengurangi konsentrasi kita pada saat mendengarkan. Harap diingat kita tidak dapat mengerjakan dua tugas sekaligus tanpa mengurangi keefektifan salah satu di antaranya.

6. Mencoba untuk bersikap empati. Mencoba untuk menghargai posisi pembicara, sehingga kita terhindar dari mendengar apa yang hanya mau kita dengar saja.

7. Memperhatikan komunikasi nonverbal. Tataplah lawan bicara, dan perhatikan bahasa tubuh mereka. Seringkali terjadi pemahaman akan suatu informasi lebih bisa kita pahami dengan memperhatikan raut muka dan gerak tubuh lawan bicara. Dan sebagai pendengar, kita pun harus memperhatikan bahasa tubuh yang kita tampilkan, seperti posisi duduk, raut muka, anggukan kepala dan sebagainya.

8. Mendengarkan dengan selektif. Seringkali dalam suatu pembicaraan, pembicara memberikan informasi-informasi yang penting. Kadang informasi tersebut tersembunyi di dalam konteks pembicaraan. Kita diharapkan dapat memilah-milah informasi tersebut untuk mendapatkan yang kita butuhkan.

9. Bertanya pada tempatnya. Tunda dahulu pertanyaan dan gagasan yang ingin disampaikan sampai pembicara selesai. Ajukan pertanyaan untuk memperjelas maksud pembicara.

10. Buatlah kesimpulan atas apa yang menjadi inti pembicaraan. Dengan mencoba menangkap intisari pembicaraan diharapkan kita dapat memahami permasalahan dengan kata kita sendiri.

11. Memberikan umpan balik. Memberikan umpan balik kepada pembicara sehingga ia mengetahui sejauh mana kita sudah memahami pembicaraan.

Dengan memperhatikan hal-hal di atas diharapkan kita dapat menjadi pendengar yang baik dan memperlancar proses komunikasi yang sedang berlangsung.

*Tulisan ini dimuat pada Kolom Peluang Karir, Harian Republika pada 9 Agustus 1998.

Riza AryantoRiza Aryanto. Staf Pengajar PPM Manajemen, Konsultan – PT Binaman Utama
RAR@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s