Lumbung Desa dan Problematika Nasional

AHP Lumbung Desa dan Problematika Nasional 160713Salah satu nilai lokal dari Nusantara yang dikenal luas adalah sistem lumbung desa. Bagi sebagian orang, lumbung dimaknai sebatas tempat menyimpan hasil panenan.

Ketika musim paceklik itu tiba, masyarakat dapat memanfaatkan segala sesuatu yang ada di dalam lumbung untuk mencukupi kebutuhan pangan mereka. Dengan cara ini, penduduk desa takkan kekurangan.

Bila digali lebih dalam, ada sejumlah pesan yang dititipkan melalui lumbung ini. Pertama, ajakan untuk berpikir akan ada kehidupan pada masa depan. Kehadiran lumbung desa telah mengingatkan kita akan hadirnya musim panen dan paceklik sebagai sebuah konsekuensi kehidupan.

Ada kalanya berlebih, ada kalanya juga berkekurangan. Dengan memandang kedua hal tersebut sebagai suatu yang kodrati, menjadi bijaksana bila saat berlebih manusia menyiapkan diri untuk memasuki saat kekurangan.

Prinsip tersebut sangat tepat bagi proses pemanfaatan sumber daya alam mineral Nusantara. Beberapa pekan lalu sejumlah media sempat meliput krisis energi di Tanah Air. Mencari alternatif sumber energi lain mungkin kini telah menjadi pilihan yang tepat, khususnya sumber energi yang terbarukan. Selain memberikan dampak positif bagi keseimbangan alam, langkah tersebut juga mencerminkan besarnya kesadaran akan masa depan pelestarian bumi Nusantara.

Kedua, lumbung desa sarat dengan pesan berhemat demi masa depan yang lebih baik. Menyisakan sebagian hasil panenan untuk menyokong kehidupan pada masa depan merupakan salah satu esensi berhemat. Dengan cara ini, seorang individu belajar tidak hanya untuk mengalokasikan kekayaannya, tapi juga mengatur kesadaran emosionalnya.

Berhemat dalam sebuah tekanan ekonomi dewasa ini harus diakui bukanlah hal yang mudah. Kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok (seperti cabai dan daging sapi) secara otomatis telah mempersulit kehidupan bagi sebagian besar orang. Namun, sadarkah kita bahwa realitas pahit ini ternyata memberikan pelajaran

berharga yakni menunda pemenuhan salah satu kebutuhan dan menggantikannya dengan pemenuhan kebutuhan lain yang lebih mendasar. Tak hanya itu, berhemat dalam koridor kekinian juga mengajarkan kita untuk lebih bijaksana dalam memilih mana hal yang termasuk dalam kategori kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan.

Nilai ketiga dari lumbung desa adalah semangat gotong-royong dalam kebersamaan untuk menggapai hari depan yang lebih baik. Bukanlah hal yang mudah untuk mengajak masyarakat menyerahkan sebagian kekayaannya bagi pemanfaatan bersama. Dibutuhkan kesadaran yang kuat akan pemahaman manusia sebagai makhluk sosial. Semangat inilah yang mutlak dibutuhkan pada masa kini.

Kompleksitas permasalahan kehidupan serta tuntutan ekonomi telah membuat manusia dan perusahaan domestik bertumbuh sebagai pribadi yang individualistis. Padahal untuk bertahan dalam persaingan global dibutuhkan sebuah gerakan bersama dari segenap pemain domestik {baca: perusahaan, pemerintah, dan lembaga swadaya
masyarakat}.

Dalam dua bulan terakhir ini setidaknya dua masalah nasional, yakni kenaikan harga bahan bakar minyak serta kelangkaan sejumlah bahan makanan. Sejumlah daya upaya pun telah dilakukan mulai dan pembagian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) hingga upaya impor bahan makanan yang diharapkan mampu menstabilkan harga-harga sehingga terjangkau oleh daya beli masyarakat.

Namun, tanpa disertai dengan pemahaman lumbung yang kuat, niscaya kedua strategi tersebut hanya akan mampu memberikan solusi jangka pendek dan bukan jangka panjang. Dibutuhkan peran serta aktif dari berbagai pihak untuk melakukan pergeseran paradigma ini.

Memberikan kail dan bukan ikan memang sangat efektif dalam membangun kemandirian masyarakat. Namun, jika tak ada pemahaman bahwa kail yang kini diberikan nanti dapat digunakan untuk mencari ikan, sia-sialah strategi tersebut. Program pendampingan masyarakat, baik oleh kalangan akademisi maupun institusi bisnis harus terus diupayakan agar transfer pengetahuan dapat berjalan secara efektif.

Dengan demikian, pesan lumbung desa yang dahulu terbukti mampu mengantar Indonesia pada swasembada pangan akan juga mampu mengentaskan bangsa ini dari permasalahan klasik BBM dan kelangkaan pangan.

Selamat menunaikan ibadah puasa, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 16 Juli 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s