Memahami Dua Sisi Investor

Studi tentang perilaku pasar telah membukakan pemahaman bahwa manusia meraup ‘keuntungan’ dari kombinasi dua sisi: rasionalitas dan irasionalitasnya. Di satu sisi, rasionalitas mampu mengarahkan manusia untuk mampu membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Sedangkan di sisi lain, dimensi irasionalitas pulalah yang telah menempatkan konsumen untuk loyal pada satu merek. Satu hal yang menarik untuk dicermati adalah bahwa konteks tersebut juga terjadi di ranah pasar modal.

Rasionalitas telah membuat investor sadar akan keputusannya untuk berinvestasi di saham tertentu. Namun di saat yang sama irasionalitas pulalah yang memunculkan dimensi ‘spekulasi’ pada keputusan investasi tersebut. Dengan demikian pertanyaan sisi mana yang mewarnai perilaku investasi di Indonesia akan menjadi premis yang menarik untuk dicermati.

Anda pasti mengenal teori portofolio dalam dunia investasi. Sebuah konsep yang menyatakan bahwa untuk dapat mengamankan target keuntungan dari suatu investasi, investor harus meminimalkan risiko dengan cara mengalokasikan dananya pada beberapa instrumen.

Alhasil ketika satu instrumen memberikan keuntungan sedangkan yang lain menciptakan kerugian maka total keuntungan yang diperoleh akan ‘terkoreksi’. Subsidi silang antara yang menguntungkan kepada yang merugi-pun terjadi.

Mencoba mencari keuntungan dengan cara meminimalkan risiko tidak teraihnya keuntungan tersebut pada dasarnya merupakan output dari dua sisi: rasionalitas dan irasionalitas. Meski keduanya terkesan saling berlawanan, namun pada hakikatnya kekuatan pemikiran akan kedua hal tersebut telah mengarahkan investor untuk ‘sadar’ akan hasil yang diperoleh.

Demikian pula halnya ketika mereka terpaksa menelan pil pahit (menderita kerugian). Sisi rasional akan mengarahkan individu untuk mencari pembelajaran terbaik dari situasi terburuk guna peningkatan potensi perolehan keuntungan pada kegiatan investasi selanjutnya.

Pada realitas tersebut, satu hal yang dipetik adalah bahwa kombinasi rasional dan irasional telah membawa pasar untuk mempelajari kegagalannya. Jika premis ini benar adanya, maka konsep rasionalitas ekonomi yang dikembangkan sejak abad 18 layak untuk dipertanyakan. Aktivitas ekonomi yang dahulu dipahami sebagai bentuk dari sebuah kesadaran manusia dalam memenuhi kebutuhannya, kini harus dipandang dari sudut yang berbeda.

Satu contoh yang dapat digunakan sebagai refleksi realitas tersebut adalah tren investor dalam memburu saham-saham yang ‘bersahabat’ dengan lingkungannya. Sebagai trendsetter di awal 2000-an, konsep peningkatan kesejahteraan stakeholder (bukan hanya shareholder) telah mengubah cara pandang dunia investasi secara signifikan.

Saham perusahaan-perusahaan yang dinilai ‘peduli’ kepada lingkungannya secara otomatis menjadi incaran publik. Tak hanya itu, di ranah produkpun, besutan perusahaan ini juga menjadi primadona konsumen. Alhasil di sisi pemasukan, penjualan perusahaan meningkat drastis, di sisi permodalan jumlah dana yang berhasil diperolehpun semakin besar. Kini cobalah memahami efek elastisitas yang terbangun.

Ketika dana yang diperoleh pada akhirnya diputar kembali dalam kegiatan produksi, maka peningkatan penjualan berarti pula peningkatan profit sehingga dengan pola alokasi untuk kepentingan stakeholder maka ketika laba perusahaan meningkat, maka semakin banyak keuntungan yang didistribusikan kepada stakeholder (baca: lingkungannya).

Refleksi di atas menunjukkan bahwa ketika pasar mengikuti arah (trendsetter) maka bukan berarti ia memahami makna sejati dari gerakan tersebut (sisi irasional-pun berlaku). Namun seiring dengan pergerakan waktu sisi rasional-pun bekerja. Pembelajaran dan logika benar-tidaknya tren yang terjadi akan menentukan apakah investor tetap berada pada keputusan awalnya atau berubah pikiran. Alhasil dengan cara inilah gerakan radikal dari sekelompok investor akan berdampak pada investor lainnya.

Pola tersebut juga mewarnai pasar domestik beberapa waktu terakhir ini. Aksi pelemahan Rupiah hingga menembus level Rp 10.000 serta kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok layaknya menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua. Dibutuhkan opini yang mengkombinasikan rasional dan irasionalitas agar Indonesia dapat terbebas dari belenggu problematika nasional yang ada.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 17 Juli 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s