Perception Gap

Tugas seorang CEO pada prinsipnya cukup sederhana. Dalam bahasa keuangan, seorang CEO harus mampu memaksimumkan kekayaan pemegang saham. Seorang CEO yang mengelola sebuah perusahaan dengan nilai ekuitas sebesar Rp 10 milyar diharapkan dapat meningkatkan sebesar Rp 1,2 milyar tahun depan, Rp 1,5 milyar dua tahun berikutnya, dan seterusnya.

Dalam kenyataan, ada kekeliruan persepsi yang mewabah dalam memandang tujuan perusahaan. Observasi yang kami lakukan menunjukkan, pandangan CEO, bahkan pemegang saham pun masih banyak yang keliru. Mereka menganggap, tujuan mendirikan perusahaan adalah memperoleh laba.

Ada satu studi yang pernah dilakukan di Eropa, yang menunjukkan bahwa ukuran laba bisa menyesatkan. Studi tersebut dilakukan oleh seorang mahasiswa akuntansi yang sedang mengambil S3. Dia membuat sebuah simulasi seolah-olah ada perusahaan, sebut saja PT X. Banyak transaksi yang terjadi di PT X, mulai dari investasi, mendapatkan setoran modal, mencari pinjaman, membeli bahan baku, memproduksi barang, memasang iklan, menjual, membayar gaji, membayar deviden, dan segala macam transaksi layaknya sebuah perusahaan nyata.

Atas dasar satu bendel dokumen transaksi tersebut, dia membuat sepuluh salinan dokumen yang sama persis. Masing-masing salinan dokumen tersebut diberikan ke akuntan dari sepuluh negara yang berbeda di Eropa, antara lain Denmark, Jerman, Perancis, Inggris, Belanda, dan lainnya.

Permintaan si mahasiswa kepada ke sepuluh akuntan tersebut sama, “Buat laporan keuangan yang benar, dengan kriteria wajar tanpa syarat, sesuai dengan ketentuan di masing-masing negara Anda.” Maka disusunlah laporan laba/rugi, neraca, arus kas, dan perubahan ekuitas.

Salah satu hasil yang menarik adalah, ternyata tidak ada satu pun dari ke sepuluh laporan keuangan yang mereka buat, khususnya laporan laba/rugi, menunjukkan laba yang sama. Semuanya berbeda. Di manakah permasalahannya? Beginilah esensinya, besar kecilnya laba yang ditunjukkan dalam laporan keuangan tergantung pada pedoman akuntansi yang berlaku di tiap negara.

Itulah sebabnya, mazhab yang berlaku saat ini tidak lagi menekankan pada laba sebagai pegangan. Yang paling penting adalah kekayaan. Kalaupun ingin menggunakan laporan keuangan untuk mengetahui kinerja, lebih baik memperhatikan arus kas, khususnya arus kas operasional, bukan laba.

Kembali pada kekayaan. Bagaimana seorang CEO menunjukkan kekayaan kepada pemegang saham? Pada prinsipnya, ada tiga jenis nilai kekayaan yang menjadi hak pemegang saham.

  • Pertama, nilai buku, yaitu yang tercantum dalam neraca. Umumnya terdiri dari setoran modal, agio, cadangan, dan laba ditahan.
  • Kedua, nilai pasar.  Nilai ini bisa diterapkan bagi perusahaan yang sudah go public. Nilai pasar ekuitas merupakan perkalian antara harga saham dengan jumlah saham beredar.
  • Ketiga, nilai intrinsik yaitu nilai yang dihitung melalui proses penilaian (corporate valuation), berdasarkan  faktor-faktor fundamental. Faktor fundamental pada prinsipnya adalah proyeksi arus kas bebas, pertumbuhan arus kas bebas, dan tingkat risiko perusahaan.

Kecenderungan saat ini dan ke depan, orang cenderung menggunakan nilai pasar dan nilai intrinsik sebagai pegangan kekayaan pemegang saham.  Nilai buku tetap digunakan, paling tidak untuk mendapatkan gambaran sekilas kekayaan pemegang saham. Mengapa? Karena nilai buku menghalami nasib yang sama dengan laba perusahaan, sangat dipengaruhi oleh cara menyusun laporan keuangan, atau lebih kerennya tergantung pada sistem akuntansi yang diterapkan.

Dalam kondisi ideal, nilai pasar seharusnya sama dengan nilai intrinsik.  Nilai pasar mencerminkan nilai intrinsik.  Mekanismenya adalah, segala sesuatu yang terjadi di dalam perusahaan akan diterjemahkan ke dalam proyeksi arus kas, pertumbuhan arus kas, dan tingkat risiko. Ketiga variabel tersebut menghasilkan nilai intrinsik perusahaan berdasarkan rumus yang sudah baku dalam penghitungan nilai perusahaan.

Nilai intrinsik tersebut kemudian disampaikan ke pasar oleh corporate secretary melalui berbagai media. Pelaku pasar, termasuk pemegang saham, kemudian mengolah informasi tersebut dan menterjemahkannya ke dalam ketiga variabel di atas menurut keyakinan mereka.

Jadi kalau cara menterjemahkan informasi menjadi ketiga variabel di atas dan  keyakinan sama antara pihak internal perusahaan dengan pelaku pasar dan pemegang saham, nilai pasar dan nilai intrinsik akan sama persis.

Namun beberapa studi dan observasi yang kami lakukan menunjukkan, nilai pasar berbeda dengan nilai intrinsik. Akhir-akhir ini ada kecenderungan, nilai intrinsik lebih tinggi dari nilai pasar. Artinya, keyakinan orang internal perusahaan (CEO dan bawahannya) lebih tinggi dalam hal masa depan perusahaan dibandingkan orang luar (pelaku pasar termasuk pemegang saham).  Perbedaan nilai tersebut cenderung konsisten sekalipun penghitungan nilai intrinsik menggunakan beberapa model.

Perbedaan antara nilai pasar dan nilai intrinsik juga merupakan masalah persepsi yang perlu dibereskan. Secara struktural, corporate secretary-lah yang bertanggung jawab meluruskan persepsi pasar tentang masa depan dan nilai perusahaan.

Dalam kerangka restrukturisasi perusahaan dengan pendekatan hexagonal restructuring ala McKenzie, perbedaan persepsi ini merupakan sasaran pertama dalam program restrukturisasi. Ini bisa dipahami, karena percuma saja manajemen melakukan perbaikan-perbaikan perusahaan kalau pasar berpersepsi salah terhadap masa depan perusahaan.

Paling tidak ada dua hal krusial yang harus sampai ke pasar. Pertama, kekayaan informasi.  Bapepam dan Bursa Efek Jakarta mengeluarkan aturan mengenai penyampaian informasi ke pasar secara real time  untuk semua informasi yang bersifat material.

Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa pelaku pasar mendapat semua informasi yang perlu dan tepat waktu, yaitu tepat sesuai dengan kebutuhan saat pelaku pasar harus membuat keputusan. Informasi yang bersifat material adalah semua informasi yang diyakini berpengaruh pada kinerja dan masa depan perusahaan, baik informasi yang bersifat positif maupun negatif.

Siapa yang dapat memastikan suatu informasi bersifat negatif atau positif?  Pada dasarnya tidak ada karena setiap pelaku pasar berhak membuat interpretasi menurut cara dan keyakinan masing-masing. Oleh karena itu, suatu informasi bersifat material adalah selama peraturan mengatakan bahwa informasi tersebut bersifat material, atau berdasarkan pemahaman umum (common sense).

Hal pokok kedua  adalah penggunaan media.  Kemampuan corporate secretary  mempengaruhi pelaku pasar  sangat bergantung pada bauran media yang digunakan. Layaknya sebuah kampanye presiden, pemilihan media, isi berita, dan cara menyajikan berita, mempengaruhi penangkapan dan persepsi mereka yang menangkap berita, yaitu pelaku pasar.

*Tulisan dimuat di Majalah Eksekutif  edisi Mei 2005

Bramantyo DjohanputroBramantyo Djohanputro, Ph.D.Staf Pengajar serta Konsultan Keuangan, Ekonomi dan Investasi Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jakarta.
BRM@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s