Mengupayakan Kesejahteraan di Masa Krisis

AHP Mengupayakan Kesejahteraan di Masa Krisis 230713Sebagian orang menilai bahwa beberapa waktu terakhir ini Indonesia mulai didera krisis, baik yang berhentuk krisis kepercayaan kepada pengelola negara, krisis pangan hingga ketidakstabilan ekonomi.

Betapa tidak, lonjakan sejumlah bahan-bahan kebutuhan pokok, termasuk daging sapi, hingga aksi melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika menunjukkan tanda-tanda perlambatan ekonomi di Tanah Air.

Situasi tersebut semakin kompleks mengingat dalam dua bulan ini (baca: Juli-Agustus) permintaan masyarakat meningkat hingga tiga kali lipat menjelang Lebaran. Alhasil masyarakat pun terhimpit antara lonjakan harga dengan pendapatan yang tetap.

Di titik ini, wajar bila timbul pertanyaan, mampukah bangsa kita bertahan? Mengidentifikasi peluang untuk terus mengupayakan kesejahteraan di masa krisis memang sulit, namun bukan berarti tak dapat dilakukan.

Melemahnya rupiah hingga menembus Rp10.000/dolar AS setidaknya mengingatkan segenap pemain domestik untuk menciptakan inovasi agar produk-produk mereka dapat diekspor ke luar negeri. Jadi, titik tolaknya ada pada upaya inovasi. Sebab, tanpa kehadiran inovasi niscaya produk tidak akan bemilai tambah, sehingga sangat berpengaruh pada harga jual di pasar.

Inovasi yang sama juga diperlukan dalam mencermati lonjakan harga bahan-bahan kebutuhan pokok, seperti daging sapi yang mencapai Rp95.000/kg bahkan ada yang menembus Rp10.000/kg. Dalam prinsip ekonomi, harga yang terjadi di pasar merupakan titik pertemuan antara permintaan dan penawaran.

Pola ini pulalah yang berhasil membawa daging sapi pada harga yang tinggi. Dengan demikian, bila permintaan akan daging sapi turun, maka secara otomatis produsen akan menurunkan harga agar dapat bertemu dengan calon konsumennya.

Satu kesimpulan yang dapat ditarik dari paparan realitas di atas adalah pentingnya mengelola kesejahteraan di masa apa pun, termasuk ketika krisis. Bila segenap elemen mampu mengelola kesejahteraan dengan baik, niscaya opini yang berkembang adalah opini positif yang dilandasi dengan optimisme. Pasar akan memandang melemahnya nilai tukar rupiah bukan sebagai bencana melainkan sebagai peluang emas.

Demikian pula saat harga bahan naik di luar logika, ketika publik dapat mencermati kondisi tersebut dengan tenang, niscaya opini ketidakwajaran harga satu produk akan membuat konsumen bergeser pada produk-produk substitusi lainnya.Mekanisme ini akan mengembalikan harga produk daging sapi ke titik wajarnya.

Meski terkesan sederhana, mengelola kesejahteraan di masa krisis membutuhkan beberapa hal. Pertama, pengendalian diri. Sejarah ekonomi bangsa kita mengajarkan bahwa pengendalian harga di pasar berawal dari pengendalian diri konsumen terutama saat melakukan konsumsi.

Ajakan kepada masyarakat untuk berhemat hendaknya diubah menjadi bijak. Mengapa demikian? Karena, bijak mengandung unsur rasio untuk menentukan konsumsi saat ini demi kualitas hidup yang lebih baik di masa depan. Sedangkan, berhemat menimbulkan kesan mengebiri hasrat individu dalam berkonsumsi.

Anda masih ingat dengan ungkapan “jer basuki mawa bea?” itu artinya kesuksesan di masa depan membutuhkan pengorbanan di masa kini. Nilai inilah yang seharusnya menjadi dasar pengendalian diri. Sebuah kesadaran bahwa uripiku urup (bahwa hidup itu harus senantiasa¬∑memberikan terang dari waktu ke waktu) menunjukkan bahwa hari esok akan tetap ada sehingga, pengendalian diri saat ini akan membuahkan kesejahteraan di masa depan.

Lalu, kesadaran tugas dan tanggung jawab setiap pelaku ekonomi. Esensi mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan dewasa yang kini mulai meredup hendaknya disulut kembali.

Satu langkah yang dapat menjadi alternatif adalah dengan menciptakan kebijakan yang berorientasi pada terwujudnya optimisme pasar bahwa esok akan lebih baik. Ini tentunya baru dapat dilakukan ketika setiap pengelola negara mampu keluar dari kompartemen politiknya.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa kesejahteraan adalah dimensi yang perlu dikelola secara bijaksana. Direncanakan secara matang serta dikerjakan dengan sepenuh hati. Niscaya cita-cita keadilan sosial itu dapat tetap terwujud.

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 23 Juli 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s