BBM Naik, Tidak Perlu Disikapi Berlebihan

bbm naikKenaikan BBM yang baru saja diumumkan pemerintah, barangkali adalah pengumuman BBM yang terlama prosesnya dan yang paling mudah ditebak. Kenyataannya, sudah lebih dari setahun diskusi tentang perlunya menaikkan harga BBM terus menyesaki ruang publik.

Usaha menghindari kenaikan BBM dengan alternatif ide, juga sudah diuji-publikkan. Beberapa diantaranya bahkan sudah diuji-cobakan. Namun tetap saja tidak bisa menjawab secara tuntas masalah pembekakan beban subsidi BBM. Sampai terakhir pemerintah menyerahkan pada mekanisme politik di DPR.

Selama proses tarik ulur pemerintah dan DPR, berkali-kali menteri terkait menyampaikan secara vulgar tentang kisaran harga dan waktu pengumuman. Bocoran itu ternyata sangat dekat dengan keputusan akhir. Solar sama persis dengan informasi awal, hanya bensin yang sedikit lebih tinggi.

Dalam situasi seperti itu sesungguhnya kenaikan BBM tidak perlu membuat pelaku bisnis terkejut, sampai heboh mendramatisir hingga berlebihan, anak muda jaman sekarang bilang  lebay!

Dengan hiruk-pikuk seperti itu, seharusnya, pada saat membuat rencana 2013, perusahaan sudah mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga BBM. Makanya, semestinya beberapa anggaran terdampak, sudah dinaikkan. Sehingga tertundanya kenaikan BBM sampai pada akhir bulan Juni ini sesungguhnya telah memberikan deviasi biaya positif. Hanya tinggal mengaplikasikannya saja. Keputusan juga bisa dilakukan secara cepat karena dananya sudah tersedia.

Anggap saja, luput diasumsikan dalam RKAPB 2013. Tetap tidak perlu panik sehingga dapat bertindak secara proporsional. Untuk itu, segera lakukan Analisis Persoalan Potensial (APP) terhadap dampak kenaikan BBM.

Pertama, petakan dengan baik dampak sistemik dari kenaikan harga BBM terhadap seluruh proses bisnis di perusahan, internal maupun eksternal. Eksternal, meliputi daya beli konsumen, yaitu analisis tentang seberapa besar sensitivitas konsumen terhadap kenaikan biaya BBM, selanjutnya reaksi pesaing, seberapa agresif langkah yang dilakukan oleh pesaing utama.

Analisis terhadap situasi pemasok juga perlu dilihat dalam arti seberapa kuat dukungan kapasitas dan kelenturan pendanaan dari pemasok. Sedangkan dampak Internal dapat dilihat dari semua fungsi (pemasaran, keuangan, SDM, operasi) dan rangkaian proses perubahan nilai, mulai dari penerimaan, penyimpanan, pabrikasi, sampai pada distribusi.

Setelah semua titik-titik penting telah terindikasi dampaknya dengan baik maka Tahap Kedua adalah menetapkan titik yang paling rawan bermasalah. Ini yang kita sebut dengan titik kritis. Setiap perusahaan akan berbeda titik kritisnya.

Perusahaan padat karya akan sangat sensitif pada aspek SDM, sementara Perusahaan yang mengandalkan distribusi sebagai kunci memenangkan persaingan, maka manajemen logistik menjadi titik kritis, khususnya aspek biaya transportasi.

Tahap ketiga adalah menetapkan persoalan potensial yang mungkin terjadi di sekitar daerah kritis tersebut. Disini manajemen harus fokus pada persoalan yang berpotensi memberikan dampak yang sangat tinggi. Misalnya, pada manajemen distribusi, kemungkinan terjadinya ketidaksepakatan nilai kenaikan tarif pengiriman akan sangat tinggi, dan bila terjadi bisa berdampak serius.

Itu sebabnya perlu diantisipasi dengan Tahap Keempat, yaitu penetapan langkah pencegahan. Pencegahan adalah menghindari munculnya sebab. Dalam kasus ketidaksepakatan tarif, sebabnya bisa berasal dari pemahaman tentang dampak yang secara real dialami karena kenaikan harga BBM ini.

Dalam situasi ini, kedua pihak perlu melakukan pendalaman dan analisis secara cermat, lalu secepatnya duduk bersama untuk membicarakan secara terbuka, sejajar, dan dibarengi semangat untuk saling membantu. Contoh lain, bila masalah potensialnya adalah keresahan karyawan, maka kemungkinan sebabnya adalah dampak ekonomis dan psikologis.

Dampak ekonomis dapat dihitung dari kenaikan biaya transportasi. Secara kasar dapat dihitung misalnya, kenaikan 20-45% harga BBM, kemungkinan berdampak pada kenaikan transportasi sekitar 10-25%, sehingga penyesuaian biaya transportasi bisa ditetapkan di sekitar angka 10-25%.

Sementara itu dampak psikologis, yang biasanya terjadi langsung dan sesaat seperti kenaikan harga-harga barang pokok, dapat diatasi dengan memberikan insentif khusus yang dampaknya juga jangka pendek. Misalnya, membagikan bonus tengah tahun atau membagikan Tunjangan Hari Raya yang sedikit lebih besar dari yang selama ini dibagikan.

Diharapkan, setelah pasar normal kembali, dimana titik keseimbangan baru telah tercapai, maka mekanisme pasar pun berperan untuk meredam kenaikan psikologis tadi. Dengan begitu, insentif jangka panjang seperti kenaikan gaji pokok atau perubahan struktur gaji, tidak perlu dilakukan.

Disini, perlu pengendalian kenaikan harga jual. Jangan latah buru-buru menaikkan harga jual, sebelum keseimbangan baru tercapai. Bila ternyata memang memerlukan penyesuaian, dapat dilakukan mengingat kestabilan pasar telah terjadi. Hal ini akan berdampak positif untuk semua karena mencegah dampak berkesinambungan (multi-player effect) yang bisa berdampak sistemik bagi perekonomian nasional.

*Tulisan dimuat di majalah BUMN Track No. 72 Tahun VII Juli 2013. H. 88.

Andi Ilham SaidIr. Andi Ilham Said, Ph.D. Direktur Utama PPM Manajemen
ais@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s