Tradisi Mudik dan Pemerataan Kesejahteraan

AHP Tradisi Mudik 20130730Tak lama waktu berselang, Hari Kemenangan itu pun akan tiba. Berkumpul bersama keluarga serta sanak saudara telah menjadi sebuah kebutuhan. Realitas ini pulalah yang menghantarkan kita untuk sejenak meninggalkan kota tempat mengais rezeki untuk menuju ke kota asal.

Tak ayal tradisi mudik (pulang kampung) nasional pun terjadi. Beberapa alternatif sarana transportasi darat, laut maupun udara tak luput dari incaran pemudik. Tak jarang bahkan kenyamanan dan biaya yang sudah tak masuk akal pun dinomorduakan demi bertemu dengan sanak saudara di tanah kelahiran.

Bila dicermati tebih lanjut tradisi nasional ini tidak hanya dimiliki oleh bangsa Indonesia. Di Amerika Serikat, thanksgiving telah membuat setiap perantau kembali pulang ke kampung halamannya. Demikian pula halnya dengan perayaan shogatsu di Jepang. Sebuah perayaan tahun baru yang mengusung tema penghormatan kepada leluhur. Tradisi berkumpul bersama keluarga dan berdoa demi ketenangan arwah leluhur telah menciptakan ikatan di dalam keluarga.

Alhasil waktu kebersamaan serta pertemuan dengan keluarga tersebut bertujuan untuk memperkuat ikatan yang dimiliki. Dalam kemiripan kontekstual tersebut, tradisi mudik atau pulang kampung dapat dicermati sebagai media yang menunjukkan loyalitas serta komitmen individu akan nilai-nilai yang diturunkan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Satu nilai khas yang mewarnai tradisi mudik di Indonesia adalah aktivitas saling membagi rezeki terutama kepada anak-anak kecil. Dengan istilah atau sebutan yang bervariasi, mulai dari angpau hingga tunjangan hari raya (THR), perantau membagi-bagikan rezeki pada sanak saudaranya. Sadar atau tidak, momen ini telah mempersempit kesenjangan ekonomi antara kota besar dengan daerah terpencil.

Alur sirkulasi uang yang tadinya berpusat di kota-kota besar selama Lebaran mulai terdistribusi merata ke daerah-daerah. Aktivitas pemudik yang bercampur dengan warga setempat diakui telah mampu menghidupkan roda ekonomi daerah meski hanya sementara. Hal ini terlihat dari alokasi dana Bank Indonesia CBI) yang umumnya dari tahun ke tahun mengalir ke daerah hingga mencapai 6O% selama Lebaran.

Meski sangat menggembirakan, harus disadari bahwa ini hanya sementara. Setelah pemudik kembali meninggalkan kampung halamannya, aktivitas perekonomian daerah kembali ke titik ekuilibrium awal. Tak hanya itu, arus balik pun akan diwarnai dengan peningkatan urbanisasi ke kota-kota besar. Keberhasilan ekonomi pemudik telah memicu munculnya perantau-perantau baru.

Jika siklus tersebut diyakini sebagai event sekaligus pencipta problematika di kota-kota besar maka harus ada satu hal berbeda yang dilakukan pada tradisi mudik tahun ini. Pemudik hendaknya tidak sekadar menjalankan ritual (bertemu keluarga), melainkan juga menggali potensi ekonomi setempat.  Transfer wawasan bagaimana menjadikan rupiah dari hasil mencermati peluang yang ada di lingkungan sekitar akan berujung pada terciptanya ide-ide bisnis lokal.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang perantau mempunyai keahlian lebih dalam mencari peluang untuk mengais rezeki di kota-kota besar. Persaingan yang begitu kompleks telah memosisikan perantau sebagai ekonom mandiri. Dalam konteks inilah pemudik dapat menularkan pengalamannya agar masyarakat lokal mampu memanfaatkan potensi daerahnya.

Mulai dari kejelian membaca peluang hingga alternatif pendanaan yang pallng dapat diraih. Fungsi pemudik sebagai agen perubahan pada konteks tersebut sangat menentukan perpanjangan periode peningkatan aktivitas perekonomian daerah pasca Lebaran.

Adalah hal yang membahagiakan jika kita dapat turut berpartisipasi aktif dalam menyokong tumbuhnya pemerataan kesejahteraan di daerah-daerah. Dengan pota tersebut pemudik takkan membawa serta sanak saudaranya ketika arus balik. melainkan membawa potensi bisnis daerah ke kota-kota besar. Di satu sisi kota besar mampu terlepas dari arus urbanisasi yang meningkat hampir 18% tiap tahunnya. Di sisi lain pemerataan kesejahteraan pun tercipta.

Selamat mudik semoga selamat sampai di tujuan!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 30 Juli 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s