Kompleksitas Masalah Pedagang Kaki Lima Jakarta

Semangkok Soto Ayam Surabaya menghangatkan perut saya yang rasanya sudah terlalu lemah untuk mengeluh. Sarapan ini terasa agak telat karena waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 9.30 pagi. Sementara karyawan-karyawan kantor telah sibuk bekerja di meja masing-masing, disini saya masih menikmati kuah soto ayam di trotoar jalan, karena sedang cuti.

“Sotonya sih enak Pak, tapi kursi plastiknya itu lho.. kayanya ndak kuat saya duduki”, begitu kata saya sambil membayar. “He he he.. memang begitu pak kursinya… biar gampang dibawa kabur, kalau ada itu lho… Tramtib…”, jawab penjual soto dengan logat jawa timuran yang kental, sambil nyengir.

Fenomena pedagang kaki lima dan penertibannya oleh pemerintah DKI sepertinya tidak menjadi barang baru bagi kita. Peristiwa konflik antara pedagang dan pemerintah mewarnai berita di televisi dan media massa lainnya, kadangkala seperti minum obat, tiga kali sehari.
Continue reading

Making The Boss Budge

succession planningA director of a state-owned enterprise (BUMN) was appointed as a director of another BUMN and he told me how difficult it was to convince his superior, the president director, to make changes in the organization. He showed me all the data that he discussed and presented to the boss.

The data clearly showed that the company was performing poorly. Why did the president director not do anything about it? Ironically, other members of the board of directors also loudly voiced the need for major changes to save the company. How should one view this situation from the angle of management change?

Based on my observation of such cases, including interviews with a number of top executives in various organizations in the country some lessons have emerged.
Continue reading

Formula Menghadapi Krisis

Banyak kalangan memandang aksi pelemahan Rupiah hingga menembus Rp. 11.000 per Dollar Amerika merupakan indikator kuat dari krisis keuangan. Meski beberapa pihak mengklaim bahwa melemahnya nilai tukar mata uang yang kini terjadi lebih disebabkan karena pengaruh kebijakan ekonomi global, namun itu bukan berarti bahwa ekonomi nasional semakin sehat.

Justru sebaliknya, sebagai konsekuensi pasar bebas, ekonomi Indonesia justru tersistemik dengan dunia. Kenaikan harga pangan domestik hingga mencapai 32% sejak awal Juli tahun ini menunjukkan kepanikan pasar. Alhasil tak hanya laju inflasi saja yang bergerak sangat cepat, kepanikanpun dalam beberapa hari terakhir melanda bursa efek.

Mencermati situasi tersebut, kini publik sangat menumpukan harapan pada empat kebijakan inisiatif pemerintah. Selain bertujuan memperkuat ‘isolasi’ ekonomi nasional, keempat kebijakan tersebut secara konseptual mampu menyehatkan kondisi fundamental yang ada. Tinggal sekarang bagaimana eksekusinya di lapangan.
Continue reading

Membangkitkan Kekuatan Ekonomi Saat Krisis

AHP Membangkitkan Kekuatan Ekonomi Saat Kritis 27082013Beberapa pekan terakhir kinerja ekonomi nasional cukup memprihatinkan. Diawali dengan melemahnya rupiah hingga menembus level Rp11.000 per dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan harga barang-barang pangan secara umum hingga timbulnya gejala deindustrialisasi di sejumlah sektor.

Meski kondisi ini dipahami sebagai dampak krisis global, bukan berartikita {baca: bangsa Indonesia} terima begitu saja. Peluang untuk tetap tumbuh harus terus diupayakan, tidak hanya untuk melepaskan diri dari krisis yang tengah terjadi melainkan juga bertujuan untuk mengejar ketertinggalan dengan beberapa negara maju menyambut ASEAN Community 201S.

Pekerjaan rumah segenap elemen bangsa menyambut, integrasi ekonomi regional ASEAN memang tak kunjung usai. Setelah berhasil memetakan strategi peningkatan daya kompetensi sumber daya manusia lokal agar mampu bersaing dengan para profesional dari sesama negara anggota, kini kita diperhadapkan pada tantangan memperkuat fundamental ekonomi nasional (termasuk kekuatan nilai tukar rupiah).
Continue reading

Success Factors of Managers of The Kadarman Award Receivers: A Grounded Theory Approach

penerima kadarman 2006 ppmABSTRACT
Factors contributing successful manager have been identified from; achievement motive from McClelland (1961). management skill from Katz (1974), in search of excellence from Peter and Waterman (1982), ten management roles from Mintzberg (1990), and management process from Robbins (1991), Stoner and Freeman (1989).

This qualitative research uses grounded research from Glaser and Straus (1967) and Strauss and Corbin (1998) with three steps; open coding, selected coding and theoretical coding in order to develop theoretical framework for factors contributing the successful managers.

Content analysis is used for transcript of the interviews that are recorded and written. Site Content Analyzer Software was used, to process the all transcript from the respondents. In applying grounded theory, 10 alumni of graduate student of the PPM Management and Business School who are the winner of the Kadarman Award were interviewed by the graduate student of the PPM Management and Business School (Batch WM 58) after receiving the grounded theory in the intrapreneurship class.
Continue reading

Tantangan dalam Berinovasi

analog digital watchKemampuan suatu perusahaan dalam berinovasi, tidak diragukan lagi dapat meningkatkan keunggulan bersaing. Terlebih di era Freemium dewasa ini, dimana konsumen semakin menuntut barang atau jasa yang berkualitas dengan harga yang justru semakin terjangkau, bahkan gratis!

Sayangnya, proses inovasi tidak selalu berjalan mulus. Hasil riset yang digelar PPM Manajemen Center of Innovation and Collaboration (CIC) dengan mensurvei 164 perusahaan di Indonesia menyebutkan hampir 80% perusahaan di Indonesia menyatakan bahwa faktor biaya adalah salah satu faktor penghambat aktivitas inovasi, inovasi tidak serta-merta berkembang hanya dengan menambah dana R&D.

Tantangan terbesar justru terletak pada upaya menggerakkan seluruh karyawan yang notabene adalah pelaku aktivitas inovasi itu sendiri, dan untuk memahami pentingnya berinovasi bagi kelangsungan dan keunggulan perusahaan.
Continue reading

“Mission First!”

coca-cola-goes-along di ppm manajemenSetiap hari jutaan orang di seluruh dunia minum Coca-Cola. Di Indonesia sekali pun minuman berkarbonasi ini dapat dengan mudah didapatkan hingga ke pelosok negeri. Seperti bisnis yang lainnya, Coca-Cola juga berawal dari bisnis berskala kecil.

“Superbrand” sebuah program TV besutan BBC Knowledge, mengungkapkan bahwa Coca-Cola mulai menggurita pada saat Perang Dunia II (PD II) berkecamuk sekitar penghujung tahun 40-an. Demi melihat tentara Amerika yang dikirim hampir ke seluruh belahan dunia, CEO Coca-Cola pada saat itu, dengan balutan semangat nasionalisme yang tinggi membawa misi untuk memberikan dukungan semangat kepada semua tentara Amerika, dengan menyediakan Coca-Cola dengan harga 1 USD di mana pun tentara Amerika bertugas.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, tentunya Coca-Cola harus membangun jaringan distribusi dan logistik yang andal di semua negara dimana tentara Amerika menjalankan tugas. Bisa dibayangkan dalam situasi perang, biaya yang dibutuhkan pasti akan sangat mahal.
Continue reading