Pekerjaan Rumah Setelah Rupiah Melemah

Aksi jual Rupiah yang dipicu oleh ‘terbangnya’ sejumlah dana asing dari Indonesia kini mulai menciptakan sejumlah pekerjaan rumah bagi sebagian besar pelaku bisnis di tanah air. Perbankan adalah salah satu sektor yang merasakan imbasnya. Tuntutan untuk segera meningkatkan suku bunga kredit maupun simpanan telah mulai dijawab sejumlah bank.

Mengakhiri Juli 2013 ini setidaknya beberapa bank besar telah menaikkan suku bunga kreditnya. Bila perbankan tetap pada target pendapatannya maka peningkatan bunga simpanan untuk menarik dana akan berdampak pada kenaikan suku bunga kredit.

Meski terkesan positif, namun kenyataan pahit bagi kebijakan tersebut ternyata berdampak pada segenap aspek kehidupan konsumen (baca; nasabah). Bagi kelompok yang memiliki dana berlebih, situasi ini dapat dipahami sebagia peluang untuk meraup keuntungan lebih dari investasi di perbankan.

Namun dengan kenaikan harga barang-barang secara umum baik barang produksi maupun modal, niscaya keuntungan tersebut akan terkompensasi negative dengan pelunasan kewajiban. Sehingga secara bersih bisa jadi tidak mengalami peningkatan kesejahteraan.

Hal yang sama juga berlaku di sisi kredit. Kenaikan suku bunga kredit perbankan di angka 0,5% – 0,65% per tahun telah menciptakan kewajiban lebih kepada nasabah. Artinya tanpa kenaikan pendapatan yang cukup signifikan maka bisa dipastikan mereka akan mengalami penurunan kesejahteraan. Inikah cita-cita yang ingin dicapai Bangsa?. Tentu saja tidak.

Satu solusi tepat bagi pekerjaan rumah ini adalah dengan segera meningkatkan daya saing produk-produk lokal. Pesan utama yang hendaknya menjadi semangat dasar pelaku ekonomi lokal adalah bahwa produk impor tak selalu lebih baik daripada produk lokal. Sebab secara psikologis seharusnya pemain lokal lebih menguasai potensi permintaan pasar domestik. Dengan memanfaatkan nilai-nilai kearifan local niscaya ikatan bathin yang menjadi perekat anak bangsa akan mampu menempatkan produk lokal di benak konsumen.

Tengok saja gerakan menggunakan produk batik sebagai kebanggaan Bangsa. Berawal dari sebuah kebijakan untuk menggunakan batik di hari krida (baca; hari Jumat) setiap pekannya, kini batik telah mendunia. Tak hanya itu, batik kini telah dipahami sebagai salah satu warisan dunia. Sehingga kini tantangannya ada pada bagaimana mempertahankan keunggulan produk batik local di antara serbuan batik ‘murah’ dari China.

Harus diakui bahwa rendahnya harga jual produk impor dari China muncul akibat kebijakan ‘proteksi’ yang dilakukan pemerintah kepada kalangan pebisnis lokalnya. Birokrasi yang sederhana ditunjang dengan subsidi pajak yang longgar telah menciptakan daya saing tersendiri. Alhasil ditopang dengan prinsip bisnis ‘quanxi’ (pemasaran melalui system jaringan), produk-produk tersebut mampu merebut pasar domestik.

Satu pembelajaran yang didapat dari realitas tersebut adalah keberhasilan mereka dalam menciptakan ketergantungan pada produk-produknya. Inilah yang dinamakan daya saing. Dalam kajian lanjutan, Indonesia sebenarnya menyimpan kekuatan pencipta ketergantungan tersebut dalam jumlah yang cukup besar. Berlimpahnya kekayaan alam dengan kualitas terbaik sepatutnya mampu memberi nilai tambah besar pada produk-produk lokal sehingga jika asing mampu menciptakan ketergantungan dari murahnya harga jual, Indonesia dapat menciptakan ketergantungan dari tingginya kualitas produk yang dihasilkan.

‘Pasar lebih memilih kualitas ketimbang harga’ ini adalah simpulan yang menunjukkan besarnya peluang pemain local dalam membawa produk-produknya ke pasar global. Untuk itu pemain domestik perlu segera menjajaki persyaratan agar produk-produk besutannya dapat memperoleh ijin untuk masuk ke Negara lain seperti Eropa, Jepang, Korea Selatan dan China.

Esensi daur ulang serta keberpihakan kepada lingkungan yang kini menjadi salah satu syarat utama telah dimiliki bangsa. Sehingga dengan kata lain, prasyarat utama telah terpenuhi. Kini tinggal melihat pada persyaratan lokalnya.

Dengan mekanisme tersebut, produk local akan bertumbuh sebagai duta (baca; ambassador) Rupiah di masa depan. Tak kan ada lagi kisah sendu Rupiah, yang ada adalah kisah heorik Rupiah dalam mempertahankan kredibilitas Bangsa di kancah internasional. Sukses menyertai Anda.

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 1 Agustus 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s