Merestorasi Daya Tarik Rupiah

AHP Merestorasi Daya Tarik Rupiah 13082013Melemahnya nilai tukar rupiah relatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) beberapa waktu terakhir ini mengingatkan kita akan pentingnya strategi untuk merestorasi daya tarik mata uang kebanggaan anak bangsa.

Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa aksi jual rupiah yang dilakukan oleh sebagian besar investor telah membawa keterpurukan hingga menembus angka psikologis Rp 10.000 per dolar AS. Alhasil. pertanyaannya kini adalah mengapa mereka menjual rupiah?

Satu jawaban klasik yang diperoleh adalah kebutuhan membayar kewajiban dalam denominasi mata uang dolar. Tak ada yang salah sebenarnya dengan pandangan tersebut. namun hal lain yang perlu dicermati adalah jika pembayaran dilakukan dalam dolar melalui proses konversi maka berarti terdapat penggunaan dua mata uang dalam aktivitas bisnis domestik.

Bisa jadi utang dalam dolar kemudian digunakan sebagai dana operasional dalam rupiah. Alhasil ketika produk dijual dalam denominasi rupiah maka pelunasan utang dolar akan berujung pada aksi jual rupiah untuk membeli dolar.

Tanpa berupaya untuk menjustifikasi tepat tidaknya langkah tersebut, satu hal yang perlu menjadi perhatian bersama adalah bagaimana mengembalikan daya tarik nilai rupiah, terutama di masa krisis.

Secara konseptual ada dua langkah yang paling layak dilakukan saat ini. Pertama, menciptakan kemandirian ekonomi bagi segenap anak bangsa. Meski harus terpaksa hidup di tengah-tengah perdagangan bebas, namun semangat untuk terus mengupayakan kemandirian ekonomi bangsa harus tetap membara. Setidaknya pada produk-produk bahan pangan pokok bangsa. Untuk itu swasembada pangan merupakan target utama yang harus dicapai.

Sampai saat ini sejumlah komoditas pokok cukup tergantung dari pasokan impor. Ketidakseimbangan antara permintaan dengan penawaran sering disebut-sebut sebagai alasan utama pemerintah menerapkan kebijakan ini. Namun bukankah realitas tersebut merupakan pernbelajaran yang vital untuk segera menentukan strategi swasembada bagi pemenuhan permintaan pasar domestik dalam jangka menengah maupun jangka panjang.

Pemahaman tersebut datang dari pengalaman positif di era sebelumnya. Ketika swasembada pangan tercapai, praktis produksi dalam negeri diorientasikan bagi kepentingan ekspor sehingga dalam konteks ini aksi jual dolar untuk membeli rupiah secara otomatis terjadi. Dengan volume yang cukup signifikan niscaya mekanisme tersebut akan mampu mempertahankan daya tarik rupiah.

Kedua,yang secara konseptual dinilai cukup menjanjikan adalah dengan penyederhanaan penyajian nilai mata uang. Realitas di lapangan membuktikan bahwa aksi penguatan atau pelemahan nilai rupiah sangat ditentukan oleh aspek psikologis setiap pelaku pasar.

Artinya jika masyarakat sudah tidak percaya kepada rupiah sebagai sarana berinvestasi maka aksi jual pun akan terjadi. Sebaliknya bila kepercayaan kepada rupiah pulih maka aksi beli akan terjadi. Dalam konteks inilah penyederhanaan nilai rupiah memberikan berjuta peluang emas.

Konsep penyederhanaan nilai mata uang atau yang lebih dikenal dengan istilah redenominasi memang bukanlah hal yang mudah. Menghapus tiga angka nol (Rp 10.000 menjadi Rp 10) membutuhkan partisipasi positif dari masyarakat serta waktu pelaksanaan yang tepat.

Tidak terpenuhinya salah satu dari kedua prasyarat tersebut akan membalikkan kenyataan redenominasi dari yang tadinya bertujuan untuk meningkatkan nilai rupiah menjadi potensi krisis moneter. Untuk hal ini kita perlu beIajar dari Brasil dan Argentina yang pernah mengalami keterpurukan ekonomi pascaredenominasi.

Untuk dapat menciptakan respons positif dari pasar, pengajaran tentang makna redenominasi perlu disosialisasikan kepada seluruh lapisan masyarakat. Pemahaman bahwa redenominasi tidak sarna dengan konsep pemotongan nilai uang (baca: sanering) harus benar-benar terdistribusi merata sebelum kebijakan diberlakukan.

Untuk itu satu hal yang perlu dijaga oleh segenap elemen ekonomi adalah stabilitas daya beli masyarakat. Sebab dalam redenominasi dapat dipastikan bahwa masyarakat tidak akan mengalami penurunan kekayaan. Hanya penyataan nilai kekayaanlah yang disederhanakan.

Melalui mekanisme tersebut rupiah akan lebih kecil jika dikonversikan ke dalam dolar AS. Respons positif psikologis diharapkan timbul sehingga mampu memulihkan daya tarik rupiah. Bukan mustahil bila di masa depan rupiah akan menjadi primadona global.

Selamat berefleksi, Sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 13 Agustus 2013. h. 10.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Merestorasi Daya Tarik Rupiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s