“Mission First!”

coca-cola-goes-along di ppm manajemenSetiap hari jutaan orang di seluruh dunia minum Coca-Cola. Di Indonesia sekali pun minuman berkarbonasi ini dapat dengan mudah didapatkan hingga ke pelosok negeri. Seperti bisnis yang lainnya, Coca-Cola juga berawal dari bisnis berskala kecil.

“Superbrand” sebuah program TV besutan BBC Knowledge, mengungkapkan bahwa Coca-Cola mulai menggurita pada saat Perang Dunia II (PD II) berkecamuk sekitar penghujung tahun 40-an. Demi melihat tentara Amerika yang dikirim hampir ke seluruh belahan dunia, CEO Coca-Cola pada saat itu, dengan balutan semangat nasionalisme yang tinggi membawa misi untuk memberikan dukungan semangat kepada semua tentara Amerika, dengan menyediakan Coca-Cola dengan harga 1 USD di mana pun tentara Amerika bertugas.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, tentunya Coca-Cola harus membangun jaringan distribusi dan logistik yang andal di semua negara dimana tentara Amerika menjalankan tugas. Bisa dibayangkan dalam situasi perang, biaya yang dibutuhkan pasti akan sangat mahal.

Namun, siapa nyana, setelah PD II usai, ketika semua pesaing Coca-Cola masih berpikir untuk membangun pabrik, Coca-Cola sudah menjadi merek dunia dengan kekuatan yang terletak pada jangkauan distribusi dan dukungan logistik yang tanpa disadari terbangun selama PD II berlangsung.

Pada saat CEO Coca-Cola memutuskan untuk mengemban misi dukungan yang berlandaskan semangat nasionalisme tersebut, dan menempatkan pertimbangan bisnis sebagai pertimbangan kedua, tentunya tidak terbayang bahwa langkah tersebut akan membawa kesuksesan yang luar biasa.

Namun karena Coca-Cola mewujudkan misi itu dengan sungguh, disertai penentuan target dan proses operasi yang benar, pada akhirnya terbentuk operasi bisnis yang diandalkan, bahkan kemudian menghasilkan keunggulan kompetitif yang sulit tertandingi, hingga mampu bertahan selama 70 tahun lebih. Kasus ini menunjukkan pentingnya kekuatan sebuah ‘Misi’. Mendahulukan kepentingan ‘Misi’ ini yang kita sebut dengan strategi “Mission First!”

Dalam kasus Coca-Cola di atas, kita tidak tahu dengan pasti apakah waktu itu Coca-Cola sudah mengenal pendekatan Visi-Misi seperti yang marak sekarang. Anggap lah mereka sudah memiliki visi, katakanlah Visi mereka adalah “Menjadi pabrikan minuman ringan terbesar di dunia”.

Jika strategi Coca-Cola diturunkan dari visi tersebut, maka dapat  dipastikankan Coca-Cola akan memilih kota-kota besar dengan pertimbangan kebutuhan pasar terbesar dan jangkauan distribusi yang cepat, murah, dan aman, alih-alih memilih daerah penugasan prajurit Amerika yang notabene tidak aman, dan (mungkin) tidak memiliki dukungan infrastruktur yang memadai,  dan jika aman sekali pun, belum tentu mereka mengenal Coca-Cola, sehingga memerlukan biaya pemasaran yang besar, dan dapat saja berujung pada sebuah kegagalan.

Di Indonesia, termasuk BUMN juga senantiasa membawa misi tertentu yang mungkin sepintas tidak pro terhadap bisnis. sehingga misi tersebut agak dikesampingkan, atau setidaknya dimasukkan sebagai bagian dari kegiatan CSR.

Padahal bisa jadi, justru dalam misi tersebut tersimpan faktor pembeda yang dapat menjadi kekuatan daya saing. Contoh kasus Merpati. Jika misi didirikannya Merpati adalah untuk memberikan pelayanan penerbangan perintis yang menghubungkan kota-kota kecil di seluruh Nusantara, yang kemudian menjadi fokus pengembangan strategi, maka dapat saja misi tersebut justru akan menjadi kekuatan Merpati yang tidak dimiliki oleh maskapai penerbangan lainnya.

Karena, bila misi Merpati tersebut menjadi dasar pengembangan strategi, seharusnya Merpati tidak perlu menyewa bahkan membeli terlalu banyak pesawat berbadan besar yang menuntut isian penumpang (Load Factor) yang besar pula, dan tentunya tidak cocok untuk melayani kota-kota kecil.

Hal yang perlu dikejar Merpati adalah keandalan untuk terbang jarak pendek dengan frekuensi terbang tinggi setiap harinya. Dengan dukungan pesawat kecil yang lebih banyak, pelayanan penumpang akan lebih terjamin sehingga meningkatkan kepercayaan penumpang, yang berujung pada peningkatan citra perusahaan.

Sama halnya dengan Merpati, Garuda Indonesia tentu juga memiliki misi, seperti memberikan layanan prima dengan balutan suasana khas budaya Indonesia. Misi tersebut jika dilakukan dengan optimal dapat berujung pada terciptanya keunggulan komparasi yang sulit ditandingi.

Pelindo II yang sekarang dikenal sebagai PT IPC, juga membawa misi menurunkan biaya logistik nasional yang dijabarkan menjadi Konsep Pendulum Nusantara, jika dilakukan dengan benar, dampaknya akan dinikmati juga secara bisnis oleh PT IPC. Karena, jika biaya logistik dapat diturunkan, arus barang akan semakin ramai, maka frekuensi penggunaan pelabuhan juga akan meningkat.

Sebagai kado ulang tahun kemerdekaan Negara Indonesia yang kita cintai, sudah saatnya para CEO BUMN menempatkan diri sebagai perusahaan milik negara yang menerapkan strategi “Mission First” sehingga menjadi BUMN yang mampu  menciptakan  keunggulan komparasi, dan menempatkan strategi ini sebagai pertimbangan prioritas ketika menyusun rencana stratejik.

*Tulisan dimuat di majalah BUMN Track No. 73 Tahun VII Agustus 2013. H. 108.

Andi Ilham SaidIr. Andi Ilham Said, Ph.D. Direktur Utama PPM Manajemen
ais@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s