Tantangan dalam Berinovasi

analog digital watchKemampuan suatu perusahaan dalam berinovasi, tidak diragukan lagi dapat meningkatkan keunggulan bersaing. Terlebih di era Freemium dewasa ini, dimana konsumen semakin menuntut barang atau jasa yang berkualitas dengan harga yang justru semakin terjangkau, bahkan gratis!

Sayangnya, proses inovasi tidak selalu berjalan mulus. Hasil riset yang digelar PPM Manajemen Center of Innovation and Collaboration (CIC) dengan mensurvei 164 perusahaan di Indonesia menyebutkan hampir 80% perusahaan di Indonesia menyatakan bahwa faktor biaya adalah salah satu faktor penghambat aktivitas inovasi, inovasi tidak serta-merta berkembang hanya dengan menambah dana R&D.

Tantangan terbesar justru terletak pada upaya menggerakkan seluruh karyawan yang notabene adalah pelaku aktivitas inovasi itu sendiri, dan untuk memahami pentingnya berinovasi bagi kelangsungan dan keunggulan perusahaan.

Kita mungkin pernah mendengar cerita klasik mengenai jam produksi Swiss. Hingga tahun 1968, Swiss masih mendominasi pasar jam tangan dunia, dengan pangsa pasar mencapai 90% dalam nilai uang. Pembuat jam Swiss juga sangat inovatif selama 60 tahun terakhir. Mereka menemukan jarum detik, menemukan teknologi yang membuat jam semakin akurat, meluncurkan desain jam analog baru.

Namun di tahun itu penjualan jam merosot tajam, tidak hanya secara nasional, namun juga secara global. Pangsa pasar turun drastis hingga kurang dari 20%. Selama dua tahun berikutnya, 50.000 dari 62.000 pembuat jam Swiss kehilangan pekerjaan. Dunia sedang dilanda demam jam digital yang dipopulerkan oleh pembuat jam Jepang,

ironisnya, teknologi jam digital ditemukan oleh para ilmuwan Swiss dari Research Institute di Neuchâtel, Swiss. Penemuan baru tersebut sebelumnya ditolak oleh pembuat jam Swiss sehingga akhirnya dipamerkan di World Watch Congress. Resistensi akan sesuatu yang baru seringkali menjadi penghambat terbesar dalam berinovasi.

Sangat menarik menelusuri apakah karakter nasional suatu negara dapat mempengaruhi kemampuan negara tersebut dalam berinovasi. Nilai-nilai dan norma yang berlaku secara umum di suatu negara bisa jadi mendukung pengembangan ide-ide baru dan menghasilkan terobosan-terobosan dalam beraktivitas atau dalam berbisnis, atau bisa jadi justru menghambat munculnya perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Studi ternyata menunjukkan bahwa budaya nasional berperan penting dalam menentukan tingkat inovasi suatu negara. Riset mendalam dari Scott Shane, seorang profesor dari The Wharton School, University of Pennsylvania, dengan mengambil data dari 33 negara selama kurun waktu lima tahun (1975-1980) menunjukkan bahwa tingkat inovasi berkaitan erat dengan nilai-nilai budaya suatu bangsa.

Bangsa yang cenderung menerima ketidakpastian, cenderung individualis dalam kaitannya dengan kebebasan dan otoritas, serta memiliki pandangan bahwa masyarakat tidak terkelas-kelas berdasarkan ras, gender, kekayaan, dst., akan lebih mentolerir perubahan-perubahan, mendukung proses pengembangan produk baru dan menjadi lebih inovatif.

Sejalan dengan budaya nasional yang berpotensi mendukung atau menghambat inovasi, dalam skala mikro, nilai-nilai atau budaya dalam organisasi dapat mendukung kemampuan perusahaan dalam berinovasi.

Studi Meta-Analysis terhadap 6.341 perusahaan oleh  Büschgens dkk. (2013) menunjukkan bahwa perusahaan yang inovatif adalah perusahaan yang fokus pada pembinaan hubungan eksternal dan berorientasi pada fleksibilitas (atau disebut sebagai developmental culture). Artinya, perusahaan-perusahaan ini mengutamakan kolaborasi dengan pemasok, konsumen, atau stakeholder lainnya, ketimbang hanya berfokus pada pembinaan internal perusahaan.

Dikombinasikan dengan orientasi fleksibilitas, dimana perusahaan lebih mengutamakan pertumbuhan, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi, perusahaan-perusahaan ini cenderung menjadi lebih dinamis dan selalu berupaya bertransformasi.

Kombinasi yang kurang kondusif bagi aktivitas inovasi, menurut Büschgens dkk. adalah kombinasi nilai-nilai organisasi yang menekankan pada kontrol dan berorientasi pada internal perusahaan (atau disebut sebagai hierarchical culture).

Perusahaan ini mengutamakan pada pembinaan internal untuk mencapai konsistensi, stabilitas, serta formalitas. Para karyawan di perusahaan ini cenderung dievaluasi berdasarkan ketaatan mereka pada prosedur, sementara para manajer dan pimpinan perusahaan cenderung mengutamakan fungsi monitor untuk menjamin kesesuaian dengan peraturan yang telah dibakukan. Perusahaan cenderung lebih rigid atau kaku dalam keseluruhan aktivitas bisnisnya sehingga bisa jadi tanpa disadari menjadi lebih resisten terhadap sesuatu yang berbeda atau baru.

Dengan konsumen yang semakin kritis dan persaingan bisnis yang semakin ketat, perusahaan Indonesia perlu meningkatkan daya saingnya dengan terus berinovasi, dan artinya membangun kultur yang mendukung proses inovasi.

Karyawan perlu didorong untuk ‘nyaman’ dan terbiasa dengan perubahan-perubahaan yang bertujuan demi perbaikan organisasi. Pimpinan perusahaan juga perlu senantiasa mengevaluasi, apakah mereka terbuka pada gagasan-gagasan perubahan, atau justru mempertahankan business as usual? Seluruh sistem pendukung (sistem remunerasi, sistem pengembangan karyawan, sistem penilaian kinerja) juga perlu diselaraskan ke arah membangun ‘budaya inovasi’.

Bisa jadi ide-ide baru bermunculan di sekitar kita. Peluang terobosan selalu ada, namun pertanyaannya adalah “Cukup terbukakah perusahaan kita pada peluang dan perubahan tersebut?”

*Tulisan dimuat di majalah BUMN Track No. 73 Tahun VII Agustus 2013. H. 109.

Erlinda N. YunusErlinda N. Yunus
PDMAI Academic Manager & Center of Innovation and Collaboration (CIC) Coordinator PPM Manajemen
erl@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s