Formula Menghadapi Krisis

Banyak kalangan memandang aksi pelemahan Rupiah hingga menembus Rp. 11.000 per Dollar Amerika merupakan indikator kuat dari krisis keuangan. Meski beberapa pihak mengklaim bahwa melemahnya nilai tukar mata uang yang kini terjadi lebih disebabkan karena pengaruh kebijakan ekonomi global, namun itu bukan berarti bahwa ekonomi nasional semakin sehat.

Justru sebaliknya, sebagai konsekuensi pasar bebas, ekonomi Indonesia justru tersistemik dengan dunia. Kenaikan harga pangan domestik hingga mencapai 32% sejak awal Juli tahun ini menunjukkan kepanikan pasar. Alhasil tak hanya laju inflasi saja yang bergerak sangat cepat, kepanikanpun dalam beberapa hari terakhir melanda bursa efek.

Mencermati situasi tersebut, kini publik sangat menumpukan harapan pada empat kebijakan inisiatif pemerintah. Selain bertujuan memperkuat ‘isolasi’ ekonomi nasional, keempat kebijakan tersebut secara konseptual mampu menyehatkan kondisi fundamental yang ada. Tinggal sekarang bagaimana eksekusinya di lapangan.

Meski demikian, ada satu hal yang perlu dicermati dari proses pemulihan krisis yakni peranan pembentukan opini positif pasar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar investor di pasar modal kita berasal dari luar negeri sehingga sirkulasi modal pun sangat dipengaruhi kondisi global.

Namun belajar dari kebangkitan ekonomi China pasca krisis keuangan 2008, optimisme investor lokal akan pemulihan ekonomi di negaranya ternyata juga berpengaruh pada terciptanya semangat yang sama pada investor asing.

Untuk dapat menciptakan optimisme tersebut setidaknya ada dua hal yang harus mendapat perhatian lebih. Pertama, peran kepemimpinan nasional di suatu negara. Kepanikan pasar dapat dianalogkan dengan anak ayam yang butuh ‘perlindungan’. Artinya pada kondisi ini pemerintah harus mampu tampil menjadi pelindung kepentingan setiap pemain dalam negeri. Keluar dari tirani politik dengan mengusung kepentingan masa depan bangsa merupakan langkah nyata yang mampu memulihkan kepercayaan pasar.

Kedua, adanya kesamaan semangat dalam mengusung satu gerakan nasional ‘lepas’ dari jebakan krisis. Untuk yang satu ini mungkin kita perlu belajar dari sejarah bangsa dalam mencapai kemerdekaan. Kebangkitan ekonomi Jepang pasca perang dunia kedua menunjukkan bahwa kedisiplinan bangsa dalam menjaga semangat untuk segera mencapai pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang perlu dicontoh.

Kesamaan semangat ini salah satunya dapat diwujudkan dengan gerakan menggunakan produk-produk dalam negeri lebih banyak daripada produk impor. Di titik ini pasar perlu ‘diwacanakan’ secara lebih jelas. Dengan kenaikan tarif pajak atas impor barang mewah, secara otomatis pergeseran ke produk lokal seharusnya mudah terjadi sehingga kondisi inilah yang hendaknya mampu dimanfaatkan oleh pemain domestik secara tepat, melalui penyediaan produk kualitas terbaik dengan harga terjangkau.

Namun demikian, ini tidak berarti produsen lokal harus beramai-ramai menurunkan harga jual produknya. Sebab bila ini dilakukan maka pasar akan mencium ‘ketidakadilan’ yang dilakukan produsen saat menetapkan harga produk-produk perdananya.

Selanjutnya, proses ‘menjaga’ kualitas produk lokal dapat dilakukan juga dengan mengajak pemain untuk segera menstandarisasi produk besutannya sesuai dengan standar nasional serta internasional yang berlaku. Upaya ini juga harus didukung tidak hanya melalui penyederhanaan mekanisme birokrasi dalam memperoleh sertifikat melainkan dengan menggiatkan program ‘mentoring’ agar produsen lokal dapat segera mampu menciptakan produk berstandar kualitas internasional.

Nah pada program itulah sinergi dengan dunia pendidikan tinggi menjadi solusi terbaik. Melalui kerja sama yang efektif niscaya hasil riset dunia pendidikan akan bermanfaat bagi terciptanya daya saing produsen di pasar global. Dengan realitas kekayaan alam yang kita miliki, serta dukungan riset yang objektif dan berdaya guna niscaya menciptakan produk-produk berkualitas global bukanlah hal yang sulit.

Ketika aktivitas ekspor bergairah kembali, niscaya Rupiah akan semakin digemari. Di situlah potensi penguatan ekonomi terjadi. Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 28 Agustus 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s