Keluar Dari Jebakan Krisis

dollar-to-10000 rupiahKrisis memang identik dengan kendala atau kesulitan dalam menjalankan kegiatan ekonomi dan bisnis. Tingginya nilai tukar US$ ketika industri lokal masih sangat tergantung pada material impor disebut-sebut sebagai titik awal problematika nasional.

Padahal bila dicermati lebih lanjut ketika efisiensi tak berhasil dilakukan maka umumnya pengurangan karyawan akan menjadi pilihan terbaik. Hanya saja, terbaik bagi bisnis bukan selalu berarti terbaik pula bagi perekonomian nasional. Riak-riak gejala deindustrialisasi kini mulai terasa di sejumlah sektor, salah satunya di bidang pangan.

Bisnis tempe pun kini terkena imbasnya. Melambungnya harga kedelai akibat rendahnya pasokan dalam negeri telah menempatkan pebisnis pada posisi yang tidak menguntungkan. Di satu sisi terdapat tuntutan kenaikan biaya produksi, sedangkan di sisi lain konsumen ‘menolak’ untuk membeli produk dengan harga baru. Di titik tersebut, perdagangan antara keduanya sulit terjadi.

Meski terkesan chaos, namun sebenarnya krisis juga turut menciptakan sejumlah peluang emas. Aksi pelemahan Rupiah secara otomatis telah membuat konsumen berpikir berulang-ulang untuk mengkonsumsi produk impor.

Di sinilah peluang emas itu muncul. Kealpaan produk impor di kala permintaan pasar domestik meningkat seharusnya dapat digantikan oleh produk-produk lokal. Simpulan tersebut membawa kita pada pemaknaan produk ‘lokal’ yang baru.

Kini sudah menjadi rahasia umum bahwa hampir di seluruh sektor, ketergantungan Indonesia pada material impor sangat tinggi. Tak terkecuali material vital, seperti pupuk, bibit tanaman pangan hingga bahan baku di industri farmasi, sehingga yang disebut-sebut dengan produk lokal ternyata tak sepenuhnya lokal.

Di lain sisi fakta bahwa kekayaan alam Indonesia begitu berlimpah seharusnya mampu membukakan peluang bagi pasokan material dunia industri. Memang dalam praktiknya tak sesederhana itu. Dunia industri harus mau berinvestasi lebih pada upaya eksplorasi material lokal untuk mencukupi kebutuhan produksi.

Bisa jadi ini tak hanya menuntut biaya penelitian dan pengembangan yang besar, namun juga harus ditunjang dengan pengadaan mesin dan peralatan produksi yang mampu berdapatasi dengan material lokal. Nah di sinilah sebenarnya muncul peluang emas bagi industri hulu, khususnya dalam menyiapkan piranti produksi yang tepat bagi material Nusantara.

Ketika definisi lokal telah diperbarui, maka di titik inilah krisis dipandang sebagai momen emas bagi produk lokal untuk kembali menguasai pangsa pasar dalam negeri. Apalagi, harus diakui bahwa saat ini tuntutan konsumen terhadap suatu produk menjadi lebih tinggi.

Derasnya arus informasi melalui media teknologi on line telah membuat wawasan sang konsumen menjadi lebih luas. Di sinilah ‘kepekaan’ dunia industri dalam negeri diuji. Mampukah mereka mengkolaborasikan produk-produknya dengan isu global yang tengah terjadi?

Ada ungkapan, produk murah identik dengan tidak ramah lingkungan.’ Inilah salah satu pembelajaran yang diusung produk impor berlabel ‘murah’ saat ini. Namun di situlah sebenarnya awal tantangan pemain lokal. Ketika pemain mampu menempatkan nasionalisme bangsa (seperti gerakan ramah lingkungan bagi kelestarian alam bumi pertiwi di masa depan) sebagai payung besar bagi produknya, niscaya konsumen dalam negeri akan lebih mudah ‘jatuh hati’. Nah ketika ini yang terjadi maka secara tidak langsung akan tercipta daya saing yang kuat bagi produk-produk lokal untuk bekiprah di kancah internasional.

Betapa tidak, ketika krisis global berhasil melemahkan daya beli rumah tangga, produsen Indonesia mampu mengajarkan arti pentingnya kewajaran harga. Alhasil di saat tingkat kepercayaan pasar mulai tumbuh maka di situlah peluang emas tercipta.

Di satu sisi perusahaan tetap memperoleh keuntungan saat krisis, di sisi lain kenaikan permintaan produk lokal dari orientasi ekspor akan berdampak positif pada penguatan Rupiah serta efektivitas Indonesia untuk melepaskan diri dari jeratan krisis global.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda.

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 4 September 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s