Gaya Kepemimpinan “Fit & Match” Untuk Generasi Y

Ada hal yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini di dalam kelas kepemimpinan yang saya sampaikan. Hampir di setiap sesi selalu muncul keluhan dari peserta dalam mengelola bawahannya pada usia tertentu. Mereka mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan memimpin kelompok bawahan yang mereka sebut dengan anak-anak muda.

Keluhan ini dirasakan tidak hanya pemimpin pada level supervisor, tetapi bahkan sampai level manajer juga merasakan hal yang sama.  Beberapa pendapat mereka mengenai karakter anak muda yang mereka maksud, antara lain tidak sopan, egois, susah diajak komunikasi, banyak menuntut, pemalas, serta hasil pekerjaan tidak memuaskan.

Mendengar perubahan fenomena ini, saya mencoba mendalami apa yang sebenarnya terjadi dengan anak-anak muda di beberapa perusahaan. Usia dari anak muda yang dimaksud berkisar 22–33 tahun atau kelahiran tahun 1980 ke atas.

Sebagaimana sudah banyak kita temukan di beberapa forum diskusi, masalah keragaman generasi di perusahaan merupakan isu penting yang harus dipahami dan dimengerti oleh organisasi. Setiap generasi memiliki perbedaan dalam hal-hal tertentu, misalnya dalam hal nilai-nilai yang dianut mereka dan nilai-nilai di dalam pekerjaan.

Banyak pendapat yang berbeda mengenai awal dimulainya tahun suatu generasi. Beberapa pendapat mengatakan bahwa generasi Y (gen Y) adalah generasi yang lahir pada akhir tahun 1970-an, sementara pendapat lain mengatakan gen Y terlahir pada  awal tahun 1980-an.

Namun dari sudut pandang tahun berapa pun Gen Y dimulai, jika dilihat dari rentang usia anak-anak muda yang menjadi bawahan peserta, maka generasi anak muda ini dapat dikategorikan sebagai Generasi Y.

Gen Y adalah generasi terbaru dari pekerja untuk memasuki angkatan kerja saat ini. Mereka berbeda dari generasi lain dalam hal nilai dan sikap yang berhubungan dengan pekerjaan, manajer perlu untuk menyesuaikan pendekatan mereka untuk memimpin Gen Y agar mau terlibat dan mempertahankan generasi ini.

Apa Harapan Generasi Y?

Untuk mengidentifikasi apa yang membuat Gen Y terpisah dari generasi sebelumnya dalam konteks organisasi, perlu mengetahui apa sebenarnya harapan dari Gen Y? Karakteristik yang berbeda dari Gen Y tidak lepas diantaranya karena faktor pola asuh orang tua dan faktor kemajuan teknologi.

Terjadi perubahan pola asuh orang tua zaman dulu dibanding Gen Y, dimana orang tua Gen Y selalu mendampingi dan mengawasi aktifitas anak (gen Y) mulai dari bangun tidur, menyiapkan buku sekolah serta mengatur jadwal kegiatan sesudah jam sekolah berakhir (ekstra kurikuler), bahkan sampai dengan menyiapkan rencana liburan.

Pola asuh ini menjadikan Gen Y, ketika lepas dari orang tuanya mengalami kesulitan mengelola pekerjaannya dengan baik, karena sudah terbiasa beraktivitas mengikuti jadwal dari orang tuanya. Dengan kemajuan teknologi, alat komunikasi seperti handphone menjadikan orang tua dan anak dapat setiap waktu selalu berkomunikasi sehinga akhirnya menimbulkan ketegantungan dari Gen Y terhadap orang tuanya. Gen Y selalu butuh pendampingan dalam menyelesaikan pekerjaannya, sebagaimana mereka selalu dipantau orang tuanya ketika beraktivitas.

Sebagai generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang berubah dengan cepat, memiliki kemajuan teknologi yang berpengalaman seperti internet dan ponsel, mereka tidak hanya mengharapkan perubahan, tetapi menginginkannya.

Mereka membutuhkan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang di dalam dan di luar organisasi, dan jika kebutuhan mereka tidak terpenuhi mereka tidak akan ragu untuk mencari tempat yang akan menampung mereka.

Dari dua contoh dan beberapa hasil penelitian, ada beberapa harapan dari Gen Y terhadap perusahaan, yaitu lingkungan kerja yang menyenangkan; kehidupan nomor satu dan pekerjaan nomor dua; pemberian penghargaan berdasarkan kinerja; fleksible tidak birokrasi, menyelesaikan tugas-tugas dengan kecepatan mereka sendiri dan dalam gaya mereka sendiri; melakukan apa yang ingin mereka lakukan; rekan kerja dan atasan sebagai teman; mengharapkan umpan balik langsung; menyukai keberagaman; akses teknologi cepat.

Mengapa Kita Harus Peduli?

Mau tidak mau, suka tidak suka sebagai pemimpin kita harus peduli dengan karakter Gen Y karena kita tidak dapat menghindari gelombang kedatangan Gen Y ke dalam dunia kerja, dan ini pasti akan terjadi di seluruh perusahaan.

Dengan karakter  Gen Y, apabila pemimpin tidak bisa memperlakukan Gen Y sesuai dengan karakternya, yang terjadi adalah, anak-anak muda tadi akan cepat meninggalkan kita dan mencari tempat kerja lain yang dapat membuat dirinya lebih merasa nyaman. Hal ini juga yang dirasakan oleh peserta saya di kelas kepemimpinan. Mereka mengatakan bahwa tingkat keluar masuk karyawan dari Gen Y di perusahaannya cukup tinggi bila dibandingkan dengan generasi yang lain.

Apabila pemimpin tidak peduli dengan Gen Y, maka sebagai pemimpin kita akan merugi dalam beberapa hal, misalnya berapa waktu yang sudah kita keluarkan untuk mendidik anak buah tersebut, belum lagi bila kita menghitung juga berapa biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk merekrut dan memberikan pelatihan kepada karyawan tersebut.  Setelah mereka meningkat secara kompetensi mereka segera meninggalkan pemimpin dan perusahaannya karena perlakukan yang salah dari pemimpinnya.

Kepemimpinan untuk Generasi Y

Dari paparan yang sudah saya sampaikan mengenai masalah yang dihadapi peserta dan karakteristik dari anak-anak muda yang menjadi permasalahan mereka, apa yang sebaiknya dilakukan dari seorang pemimpin terhadap Gen Y?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemimpin untuk mem-fit & match gaya kepemimpinan untuk Gen Y sehingga mereka lebih bertahan dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya:

Pertama, pahami gaya komunikasi Gen Y.  Sesuai dengan namanya, konon ada pendapat yang menyebutkan kenapa disebut gen Y, karena generasi ini selalu menanyakan “Why = Kenapa” dalam berkomunikasi. Berkomunikasi dengan generasi Y, pemimpin harus menyampaikan informasi dengan jelas, transparan dan apa adanya. Gen Y juga ingin diberikan kesempatan untuk berbicara dan bertanya mengenai semua hal.

Mereka menganggap bahwa semua di perusahaan adalah tim sehingga dengan atasan pun mereka menganggap berbicara dengan rekan kerja/teman bukan dengan orang yang posisinya lebih tinggi.  Hal ini yang biasanya menjadikan ketidakakraban antara Gen Y dengan atasannya, karena pemimpin masih menganggap sikap ini tidak sopan.

Kedua, jadilah pemimpin sebagai mentor bagi Gen Y.  Sebagaimana sudah dibahas di awal, Gen Y terbentuk sebagai hasil pola asuh orang tua yang selalu mendampingi dan mengawasi dalam setiap aktivitasnya. Ketika berada di dunia kerja, maka generasi Y butuh atasan yang selalu siap mendampingi dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Mereka membutuhkan pemimpin yang berfungsi sebagai pelatih dan mentor untuk terus memelihara kebutuhan pembelajaran dan pertumbuhan. Mereka tertarik untuk terus meningkatkan dan mengembangkan diri mereka sendiri.

Mereka menginginkan otonomi untuk membentuk karier mereka sendiri, dan itu berarti pemimpin harus menyediakan alat yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan pribadi dan profesional sehingga mereka memiliki pilihan ke mana mereka ingin berkembang.

Ketiga, berikanlah umpan balik (feedback) cepat.  Gen Y mengharapkan umpan balik langsung dan terus-menerus. Katakan kepada mereka bagaimana mereka harus melakukan secara teratur – jangan menunggu sampai waktu pertemuan. Karena peran teknologi dalam kehidupan mereka, mereka menginginkan feedback dilakukan dengan cepat.

Keempat, kendalikan output bukan proses.  Berikan Gen Y tanggung jawab atas pekerjaannya dan berilah kebebasan serta kepercayaan untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan caranya sendiri. Namun demikian pemimpin harus selalu siap untuk mendukung proses penyelesaian pekerjaannya.

Kelima, dukungan teknologi. Pemimpin perlu untuk memberikan kesempatan Gen Y untuk meningkatkan keterampilan teknologi mereka. Jangan membatasi akses ke situs-situs jejaring sosial karena kita berpikir ini adalah ‘waktu bersosialisasi atau waktu dari pekerjaan.’

Gen Y seringkali tidak memiliki batas yang tajam antara kerja dan sosial dan sering memadukan pekerjaan menjadi pengalaman sosial mereka dan dengan demikian membantu pertumbuhan perusahaan.

Pertanyaan selanjutnya, dapatkah kita menyesuaikan gaya kepemimpinan kita dengan karakteristik Gen Y. Semua jawaban ada pada diri kita masing-masing. Yang perlu dipahami adalah Gen Y bukanlah virus bagi perusahaan, bukan juga penyakit bagi perusahaan, tetapi generasi yang muncul sebagai akibat dari sesuatu yang tidak bisa kita hindari sebagaimana generasi-generasi sebelumnya, untuk itu kita juga hendaknya menyikapi dengan bijak sehingga terciptanya hubungan atasan dan bawahan yang harmonis.

Diyah DumasariDiyah Dumasari Siregar ST, MM, Core Trainer PPM Manajemen.
DUM@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s