Berbisnis Dengan Hati

berbisnis dg hati di manajemen ppm wordpress comBeberapa waktu terakhir, ekonomi Indonesia kembali dirundung duka, mulai dari nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang terus melemah, hingga Rp 11.400/US$, dibandingkan dengan posisi awal pekan, Rp 11.250/US$, hingga kegagalan mencapai target laju pertumbuhan sebesar 6,3%. Belum lagi ditambah dcngan inflasi tahunan yang mencapai 8,61%,

Angka-angka itu berarti masyarakat harus menanggung biaya hidup yang lebih tinggL Bila dibarengi dengan kenaikan pendapatan di atas tingkat inflasi, maka peluang peningkatan kesejahteraan terclpta, Tetapi jika yang terjadi kondisi sebaliknya, niscaya tingkat kemiskinan di Tanah Air akan meningkat.

“Semakin jauh dari cita-cita luhur bangsa, menciptakan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” ujar Yehuda, pebisnis muda yang kini menempuh pendidikan sarjana manajemen di PPM School of Management.

Meniadi mahasiswa di masa kini harus diakui bukan hal yang mudah. Di satu sisi, terdapat tuntutan untuk menguasai ilmu. Di sisi lain, terdapat panggilan ibu pertiwi terkait perekonomian nasional. Ini berarti, mereka harus segera mampu mengaplikasikan pengetahuannya tanpa perlu menunggu gelar kesarjanaan yang sedang dikejarnya.

“Meski sangat kompieks, namun yakinlah, situasi saat ini adalah saat yang paling tepat untuk sebuah pembelajaran,” tegas penulis sebagai dosen kewirausahaan di sekolah tersebut. Jika kesimpulan itu tepat, apa langkah awalnya?

Melakoni bisnis di kala krisis harus diakui membutuhkan seni dan strategi yang tepat. Namun sebelum berbicara tentang kedua hal itu, ada baiknya kita memaharoi konsep paling dasar dari suatu bisnis.

Di titik awal, seorang pebisnis hendaknya memiliki misi. yang kuat bagi bisnisnya. “Untuk apa bisnis itu dijalankan.” Inilah inti dari misi. “Bisnis saya bergerak di bidang peternakan ayam kampung,” jelas Abimanyu di awal presentasinya. “Meski mungkin terkesan generik (bersifat umum), namun ayam kami bukan sekedar ayam kampung biasa. Kami merawatnya dengan hati. Dan dengan hati pulalah, kami menawarkan kepada masyarakat,” imbuh dia.

Satu hal yang me narik di sini adalah kata hati. Banyak pebisnis yang sudah meiupakan hal tersebut. Iming-iming meraih keuntungan besar telah “membutakan” mereka. Tak jarang, aksi mereka tidak lagi mendatangkan keuntungan, bagi karyawan maupun konsumen.

Meski terkesan begitu sederhana, namun harus diakui komitmen kedua mahasiswa tersebut merupakan representasi suara seluruh siswa yang menempuh pendidikan tinggi di ujung pengkolan Menteng Raya, Jakarta Pusat. Konsep mengeiola dengan hati menyiratkan sejumlah makna.

Pertama, bisnis hadir untuk kesejahteraan masyarakat. Kedua, bisnis hadir untuk memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar. Ketiga, bisnis hadir untuk menginspirasi pebisnis lain.

Meski bagi sebagian kalangan, ketiga dimensi tersebut bersifat retoris, namun dengan semangat yang teguh, niscaya Pebisnis-Pebisnis Mulia (PPM) ini mampu mengubah paradigma yang ada. “Bagaimana bentuk realisasinya?” tanya penulis sembari menatap tajam pada dua presenter tersebut.

“Sejak awal, mulai dari proses pemilihan lokasi usaha, persiapan pembangunan kandang hingga pembelian bibit dan pakan, kami telah mengikutsertakan masyarakat sekitar,” jelas Abimanyu.

“Meski tidak mudah untuk meyakinkan mereka, namun kami tak putus asa. Sekarang, beberapa penduduk sudah mau membantu kami,” imbuh dia. Ungkapan yang sederhana, namun sarat makna syukur.

Dalam minggu pertama berbisnis bukannya semangat dan dukungan yang diperoleh kedua mahasiswa itu, melainkan penolakan dari penduduk setempat. Alasan bahwa peternakan ayam hanya akan menciptakan polusi, mungkin cukup masuk akal.

“Namun kami berulang-ulang berusaha meyakinkan mereka, pola budi daya yang kami gunakan sangat berbeda dengan yang sudah-sudah. Faktor kebersihan dan higienitas kandang merupakan kunci agar ayam bertumbuh dengan sehat. Jadi dengan target ‘kehilangan’ ayam di bawah 10% pada panen perdana, dimensi ini akan tetap kami jaga,” ucap Abimanyu.

“Lalu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk meyakinkan mereka?” tanya sang mentor. “Hingga kini, Pak. Target kami saat panen perdana, minggu pertama September ini, masyarakat sekitar dapat menerima kami. Kami akan membuktikan bahwa dengan pola budi daya ini, tidak ada yang dirugikan,” ujar dia. Di situ, esensi awal berbisnis dengan hati.

Pelajaran kedua yang dapat dipetik dari mereka adalah kekuatan visi dalam berbisnis. Visi menentukan arahan impian yang ingin dicapai dari sebuah bisnis. Ketika visi bisnis adalah menginspirasi pihak-pihak lain, maka kombinasi keduanya (misi & visi) akan menciptakan sebuah inner power.

Dimensi kekuatan yang akan membawa pebisnis melewati satu per satu kendala yang dihadapi. Lebih lanjut, inner power ini yang akan terus menyalakan api semangat pebisnis dalam menghadapi situasi apa pun.

Ingin tahu kisah panen perdana mereka? Dan bagaimana implementasi hati mereka saat pemasaran perdana dilakukan? Simak terus tulisan berikutnya.

*Tulisan dimuat di Mingguan Bisnis & Investasi Kontan, 9-15 September 2013. h.21

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s