Merumuskan Kekuatan Mestakung Saat Krisis

AHP Merumuskan Kekuatan Mestakung Saat Krisis 10092013Selama sepekan terakhir Indonesia masih terus dihantam berbagai masalah fundamental ekonomi. Aksi pelemahan rupiah yang masih berlanjut hingga menembus Rp11.200 per dolar Amerika Serikat (AS), bahkan di tempat-tempat penukaran valuta asing rupiah diperdagangkan di level Rp12.000.

Meski cadangan devisa pemerintah meningkat tipis sebagai pengaruh dari efektivitas operasi pasar terbuka Bank Indonesia (BI) lewat lelang forex swap dan term deposit valuta asing, namun ancaman baru seperti kenaikan harga minyak dunia cukup berpotensi mengguncang perekonomian nasional. Kompleksitas pun tak berhenti di situ. Sepak terjang dunia politik Tanah Air menjelang Pemilu 2014 juga turut mewarnai pergerakan ekonomi nasionaL

Tak ayal sejumlah kalangan kini mulai berani menyimpulkan bahwa kita sedang menghadapi krisis multidimensi dalam skala yang berat. Tanpa pola pikir dan paradigma yang tepat niscaya perekonomian kita semakin terpuruk.

Anda tentunya ingat dengan prinsip “mestakung” yang berarti “semesta mendukung.” Ini merupakan suatu prinsip yang menunjukkan bahwa ketika manusia menilai dirinya sedang berada di bawah tekanan, maka secara otomatis semesta akan menciptakan sebuah daya juang yang maha dahsyat sehingga sang individu dapat melepaskan diri dari kondisi tersebut. Kekuatan inilah yang mutlak dibutuhkan saat ini, khususnya di dunia bisnis.

Betapa tidak, aksi pelemahan rupiah secara otomatis telah memorak-porandakan anggaran perusahaan. Asumsi anggaran yang dipatok di level Rp9.300-an di pengujung 2012 kini harus dioperasionalkan pada level Rp11.200- 11.400. Dapat dibayangkan kenaikan pos-pos biaya di dalam perusahaan.

Di lain sisi tingkat kesulitan hidup yang tinggi akibat inflasi (baca: kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok) telah membuat karyawan menuntut peningkatan kesejahteraan. Tengoklah sejumlah pesan demo buruh yang dilakukan di pertengahan minggu lalu. Tuntutan kenaikan upah minimum hingga mencapai 68% merupakan wacana logis dari realitas yang ada.

Meski krisis yang kini terjadi oleh sebagian kalangan dinilai sebagai musibah, bila dicermati lebih lanjut, terdapat sejumlah pelajaran yang berharga. Salah satunya adalah bahwa melalui krisis, bangsa Indonesia diingatkan kembali pada nilai-nilai dasar kehidupan: life within death (dalam istilah aslinya urip sajroningmati).

Secara sederhana prinsip yang terdapat dalam buku Dewaruci tersebut menunjukkan penyatuan antara nilai-nilai mulia dengan nilai-nilai duniawi yang melekat erat di diri manusia. Nilai-nilai mulia dapat dipandang sebagai nilai luhur, sedangkan nilai duniawi sering diidentikkan dengan nilai individualis (seperti berorientasi pada kepentingan individu dan tak jarang merugikan pihak lain). Nah kedua dimensi nilai inilah yang bila dirangkai secara harmonis akan mendatangkan kekuatan mestakung.

Saat menghadapi berbagai tekanan ekonomi, individu cenderung untuk merefleksikan langkah-langkah ke depan yang harus segera diambil. Nah di titik inilah survival terjadi, sebuah daya juang yang dianugerahkan Tuhan sejak seorang dilahirkan. Naluri hidup akan secara spontan mengusung nilai-nilai duniawi (baca: yang penting saya selamat).

Namun seiring dengan berjalannya waktu, ia akan berpikir bahwa untuk selamat dari krisis, ia tetap membutuhkan pertolongan dari pihak lain. Tak jarang bahkan ia harus menolong orang lain lebih dulu agar keselamatan bagi keduanya bisa diperoleh. Di titik inilah nilai-nilai luhur mulai mendapatkan tempat bagi terciptanya paradigma baru yang bersifat positif.

Selanjutnya, paradigma baru akan memunculkan semangat untuk mengarahkan segenap individu pada penemuan daya inovasi yang kreatif. Di situlah pada dasarnya puncak kekuatan mestakung ditemukan.

Modal Bangsa ini sangatlah besar dalam menghadapi krisis; mulai dari dukungan kekayaan alam hingga jumlah penduduk yang lebih dari 250 juta. Dibutuhkan harmonisasi komitmen di era perjuangan yang baru, menggapai cita-cita nasional masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Melalui trilogi nilai kehidupan survival-paradigma inovasi, semoga Bangsa kita dapat segera melepaskan diri dari belenggu krisis.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 10 September 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s