Sukses Berawal dari Nilai yang Diusung

ahp sukses berawal dari nilai yg diusung 16092013 gbrAwal September tahun ini adalah momen yang tak terlupakan bagi Yehuda dan Abimanyu. Di pekan itu, kedua mahasiswa yang tergabung dalam Pebisnis Pengkolan Menteng tersebut memasuki aktivitas panen perdana ayam.

Dari 1.000 ekor ayam, mereka berhasil memanen sekitar 800 ekor. “Sisanya mati dalam proses pemeliharaan,” tutur Yehuda dengan bangga. “Sepengetahuan kami, angka tersebut cukup bagus mengingat pada umumnya angka kematian berkisar antara 9%-11% dari total bibit yang dibudidayakan,” imbuh Abimanyu.

Prestasi tersebut ternyata tidak sekadar kebanggaan. Keduanya berhasil memetik pelajaran berharga, yakni masih banyak hal-hal kecil yang harus diperhatikan. Mengelola hal-hal kecil berarti menyiapkan diri bagi sukses besar di masa depan.

“Suhu sangat berpengaruh pada tinggi rendahnya angka kematian ternak, Pak. Apalagi, dalam kondisi cuaca yang kurang mendukung akhir-akhir ini. Pernah suatu ketika, hujan turun dengan lebatnya di malam hari. Di saat yang sama, pemanas kandang kami mati karena elpiji habis, dan itu tidak termonitor dengan baik oleh pengelola. Keesokan harinya, sebanyak 28 ekor ayam mati karena perubahan cuaca itu,” tutur Yehuda.

Mencermati hal-hal kecil mengingatkan saya ke konsep nano management, yakni pengelolaan secara mendetail setiap hal yang berhubungan dengan bisnis, mulai dari sisi operasi dan produksi, pengelolaan sumber daya manusia, pemasaran, hingga keuangan.

Semakin rinci perhatian pengelola (baca: manajer) pada bidangnya, maka semakin luas pemahaman tentang best practice yang dapat dilakukan. Di situlah sebenamya titik awal munculnya inovasi yang berujung pada efisiensi.

“Lalu apa yang Anda perbuat dengan ayam·ayam yang mati tersebut?” tanya saya, mentor bagi bisnis kedua mahasiswa itu. “Dicek dahulu, Pak. Jika belum terlalu lama, bangkai dapat dibakar lalu diolah schingga bisa dijadikan pakan lele,” tutur Abimanyu.

“Dengan demikian ada tambahan pendapatan bagi kami Pak. Namun bila sudah lama, maka kami hanya akan membakar bangkainya lalu ditimbun,” imbuh dia.

Meski sederhana, pernyataan tersebut mengiaskan makna inovasi. Memanfaatkan sesuatu yang terbuang agar tercipta produk-produk baru, yang berpotensi menjadi bisnis utama di masa depan.

Trilogi manajemen

Sebagai pebisnis, Anda selalu dihadapkan pada permasalahan. Bahkan, tidak jarang pebisnis merasa terkurung oleh masalah, yang tidak kunjung usai. Namun kini, cobalah untuk keluar dari kurungan tersebut, dengan mengusung trilogi filosofi manajemen: survival-paradigma-inovasi.

Sadarilah bahwa masalah itu ada, hingga secara otomatis tercipta tuntutan untuk tetap bertahan (baca: survive). Di situlah sebebarnya terbentuk paradigma bahwa ada kepentingan lain yang lebih besar yang membuat kita bertahan. Selanjutnya, cara berpikir tersebut akan mendatangkan semangat baru yang mengarahkan kita ke sebuah penemuan, atau inovasi.

Sterling, Mosie, dan Reis (2008) menyimpulkan bahwa inovasi tidak hanya berbicara tentang hal-hal yang baru, melainkan juga menjawab pertanyaan “Lalu apa?” (what’s next). Poin kedua itulah yang sering digunakan pebisnis untUk menemukan solusi yang tepat bagi masalah yang dihadapinya sekaligus menemukan ide-ide baru bagi pengembangan bisnisnya.

Bagi sebagian kalangan, hal itu dipahami sebagai cara pebisnis memaknai prestasi, “tak pernah puas hingga mampu berkontribusi dalam upaya membangun lingkungan”.

“Kami berencana untuk menambaih lini baru di September ini Pak, yakni budidaya lele dan gurame. Selain untuk memanfaatkan lahan yang kosong, kami percaya ada beberapa limbah dari ternak ayam yang bermanfaat bagi lele dan gUrame,” tutur Yehuda.

“Tak hanya itu, sih, Pak. Kami ingin mengajak Nicholas Agung dan Mohammad Syahri (kcduanya mahasiswa Sarjana Manajemen Bisnis Reguler angkatan VI) untuk bertumbuh bersama,” imbuh dia, sambil tersenyum sembari melirik kedua rekannya.

“Saya dan Abi akan mengelola ayam, mereka berdua kelola lele dan gurame. Dengan mekanisme kerja dan perjanjian yang jelas, niscaya kami berempat bisa bekerjasama untuk meraih keuntungan yang lebih,” jelas Yehuda.

Sebagai mentor, saya sangat tertarik dengan pernyataan lugas mereka tentang “bertumbuh bersama.” Inilah pesan utama dari misi komunitas Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM). Kolaborasi demi tercapainya cita-cita bersama merupakan langkah pasti untuk ikut meningkatkan kesejahteraan lingkungan.

“Cita-cita kami, sih, ingin menduplikasi pola bisnis ini ke dalam mata kuliah community development. Agar semakin banyak orang yang paham bahwa di tengah krisis pun keuntungan itu tetap ada,” ujar Abimanyu dengan nada optimistis.

“Tidak hanya itu, Pak, sudah beberapa minggu terakhir kami mencermati pasar untUk dapat menetapkan harga jual yang setidaknya mampu menurunkan harga ayam kampung di pasar target kami. Sehat tak harus mahal, kan?” ujar dia.

Terlihat jelas, implementasi berbisnis dengan hati di proses keseharian mereka. Lalu, bagaimana dengan kegiatan pemasaran hasil panenan perdana tersebut? Berapa harga yang dipatok dan pertimbangan apa saja yang digunakan? Masihkah mereka berorientasi ke nilai-nilai hati untuk membangun masyarakat ketika mulai menikmati rupiah dalam jumlah besar? Ikuti terus Diary PPM – Pebisnis Pengkolan Menteng.

*Tulisan dimuat di Mingguan Kontan, 16-22 September 2013. H. 21

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s