Memetakan Karakter Kepemimpinan Nasional

AHP Memetakan karakter kepemimpinan nasional 17092013Beberapa pekan terakhir sejumlah partai besar telah usai mengadakan konvensi dengan agenda politik memilih figur yang akan diajukan sebagai calon pemimpin negara. Beberapa nama pun kini mulai diwacanakan.

Meski terdapat nama-nama baru di panggung politik nasional, sebagian besar calon telah memiliki riwayat kinerja yang cukup tinggi di bidang pemerintahan. Tak ayal nama-nama para pejabat tinggi hingga menteri spontan disebut-sebut sebagai calon kuat penghuni posisi RI 1 untuk periode empat tahun ke depan.

Di lain sisi rakyat pun tengah bersiap mengumpulkan sejumlah kriteria objektif agar tak salah pilih di pemilu nanti. Realitas tersebut terlihat jelas di beberapa jajak pendapat yang dilakukan media massa nasional. Tak ayal dimensi popularitas tokoh turut berpengaruh pada hasil survei. Tokoh yang paling sering diangkat sebagai berita, dialah yang mempunyai peluang terbesar dalam meraih kemenangan. Kini permasalahannya adalah apakah para kandidat telah memenuhi standar karakter kepemimpinan nasional?

Penelusuran tentang karakter kepemimpinan berbasis kearifan lokal Indonesia telah membawa penulis pada konsep dasar buku Dewaruci. Bagi masyarakat Jawa, ajaran-ajaran dalam buku ini telah mengilhami sejumlah petuah hidup, baik yang membahas hubungan antara manusia dengan Sang Penciptanya hingga yang berbicara tentang kekuatan sebuah janji atau komitmen dalam meraih asa. Konsep ini yang sekiranya perlu diwacanakan kembali sebagai salah satu poin krusial dalam kepemimpinan nasional.

Dimensi pertama dalam karakter kepemimpinan nasional adalah kemampuan kandidat dalam menemukan nilai dasar kehidupannya. Melalui pemahaman bahwa dalam dimensi kemanusiaannya, indlvidu juga terdiri dari dimensi keilahian. Sebuah dimensi yang membuat manusia mampu memahami sisi baik dan jahat, kebajikan dan kebatilan.

Dengan ajaran yang sama seperti diterima Werkudara (juga dikenal sebagai Bima) dari sang guru, “Urip ing sajroning pejah” (life within death), seorang pemimpin hendaknya memahami dualisme manusia dan ilahi. Pemimpin yang sejati dipandang sebagai mereka yang mampu mematikan sifat individunya dan dengan cara pandang batin memahami bahwa kepemimpinan merupakan sebuah amanah dari Sang Maha Kuasa.

Sumpah jabatan tak hanya didengungkan melainkan harus dimaknai dunia akhirat: Dengan pemahaman tersebut sang pemimpin akan mampu mematikan prinsip keduniawian untuk memandang bahwa takdir Ilahi telah membawanya untuk memberikan pencerahan kepada kaum yang dipimpinnya. Selanjutnya melalui paradigma itulah karakter pemimpin seperti kejujuran serta tanggung jawab dapat terbangun.

Hal kedua adalah di bidang komitmen. Dalam buku Dewaruci terdapat kisah bagaimana proses Werkudara menemukan ajaran terbesar yang membuatnya mampu memahami kehidupan dengan bijaksana. Mulai dari keberaniannya dalam menerima tantangan sang guru hingga setiap pergumulan yang harus dilakukannya untuk mendapatkan air kehidupan. Satu per satu halangan dapat diatasi dengan cara-cara yang santun hingga akhirnya ujian keimanannya pun berbuah baik, yakni memperoleh pemahaman yang jelas akan makna air kehidupan.

Di antara sejumlah ajaran yang disiratkan, satu hal yang patut mendapat perhatian adalah bahwa komitmen tidak hanya mampu menciptakan semangat daya juang yang tinggi melainkan juga mampu menghantar sang pemimpin pada nilai dasar dari kepemimpinan. Tak hanya kemampuan memahami alur kehidupan, komitmen juga mampu memberikan visi yang jelas kepada sang pemimpin tentang masa depan bangsa yang harus segera dibangun.

Di titik inilah esensi strategis memimpin suatu bangsa diuji. Dengan senantiasa berpijak pada cita-cita pendiri negara (founding fathers) yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, niscaya strategi yang disusun akan mampu membawa kepemimpinan nasional pada jalur yang tepat.

Ketika komitmen itu terlihat maka legitimasi rakyat pun dapat dengan mudah diperoleh. Di situJah sebenarnya harmonisasi gerakan bangsa yang selama ini dirindukan dapat terjadi, sama seperti semangat yang terbangun ketika zaman perjuangan meraih kemerdekaan.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 17 September 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s