Menyoal Efektivitas Program LCGC

Program low cost green car (baca; LCGC) yang pada akhirnya digulirkan bulan ini memang mengundang cukup banyak kontroversi. Di satu sisi dengan semakin rendahnya harga jual mobil maka secara otomatis permintaan akan makin meningkat. Alhasil tanpa diimbangi dengan peningkatan kualitas infrastruktur jalan raya niscaya program ini hanya akan berujung pada meluasnya kemacetan khususnya di kota-kota besar.

Belum tuntas kontroversi tersebut, wacana LCGC-pun dilengkapi dengan pemberian fasilitas tax holiday dari pemerintah Indonesia. Meski sebenarnya pemberian tax holiday telah mengacu pada regulasi yang ada, namun bagi sebagian kalangan keputusan tersebut dinilai tidak tepat sasaran. Jika demikian bagaimana kita mencermatinya?

Konsep low cost green car berkembang sejak awal 2000. Kala itu di sejumlah Negara maju, perhatian masyarakat akan keberlanjutan ekosistem alam semakin meningkat. Manusia semakin sadar bahwa kualitas kehidupan generasi mendatang akan sangat ditentukan dari kualitas ekosistem alam.

Perkembangan dunia industri dan teknologi pun mulai terkena imbasnya. Gerakan konsumen lalu berjung pada tuntutan bagi produsen untuk segera memproduksi produk-produk yang ramah lingkungan. Mulai dari penggunaan material yang dapat dengan mudah terdaur ulang hingga residu dari produk yang tidak terlalu merusak lingkungan.

Tak ketinggalan di sektor otomotif. Tingginya harga bahan bakar minyak tiga tahun terakhir telah membuat para produsen ‘gerah’. Di satu sisi mereka harus berani menjawab tantangan produk ramah lingkungan, di sisi lain tingginya harga BBM dinilai cukup berdampak pada volume penjualan produk. Pada kondisi inilah sebenarnya kehadiran produk mobil yang ramah lingkungan (diindikasikan dengan iritnya penggunaan bahan bakar) dengan harga terjangkau mutlak dibutuhkan.

Kelahiran konsep LCGC secara otomatis menjawab kebutuhan daya saing bagi industry otomotif nasional, terlebih di tengah-tengah gonjang-ganjing perekonomian seperti saat ini. Dengan memandang potensi pertumbuhan industri di masa depan, daya serap pasar tenaga kerja serta peluang adanya alih teknologi kepada pemain domestik maka pemerintah dengan optimis memberikan fasilitas tax holiday. Fakta inilah yang kemudian membuat harga jual mobil menjadi lebih murah.

Meski terkesan sangat menjanjikan, namun ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian lebih.

Pertama, prinsip ekonomi secara lugas menunjukkan kaitan antara harga produk dengan pertumbuhan permintaan. Meski mobil bagi sebagian kalangan dinilai pada posisi tersier (baca; barang mewah), namun karakteristik pasar Indonesia yang cenderung konsumtif dengan mudah merubah posisinya pada tingkat sekunder. Apalagi ditunjang dengan skema pendanaan melalui leasing. Tanpa aturan yang tegas, niscaya mobil LCGC akan melenggang bebas di tanah air. Artinya kemacetan lalu lintas akan semakin menjadi ‘lumrah’ baik di kota besar maupun kota-kota kecil.

Kedua, terkait penggunaan material lokal. Konsep LCGC telah mensyaratkan pemanfaatan bahan baku lokal. Pada praktiknya penggunaan kandungan lokal tersebut dibagi dalam beberapa fase mulai dari 40% kemudian meningkat hingga 80% lebih dan bahkan 100%. Dengan demikian produsen mempunyai pekerjaan rumah tambahan, yakni mengembangkan sektor penghasil bahan baku. Ini berarti membuka peluang daya serap tenaga kerja yang semakin tinggi.

Tak hanya itu, pengembangan sektor tersebut mutlak membutuhkan campur tangan investor asing baik dalam hal pendanaan maupun teknologi. Karenanya diperlukan regulasi yang jelas dan transparan agar alih teknologi benar-benar dijadikan syarat utama investasi. Tanpa adanya konsep alih teknologi maka Indonesia hanya akan menjadi tempat ‘sewaan’ asing dalam kegiatan produksi.

Mencermati fakta tersebut maka satu solusi yang menjanjikan bagi LCGC adalah wajib berorientasi ekspor. Pada praktiknya LCGC harus dapat menjadi daya saing Indonesia di pasar internasional. Realitas bahwa permintaan global akan produk LCGC bertumbuh hingga 24% per tahun merupakan merupakan peluang emas bagi Indonesia.

Tak hanya itu, dengan peningkatan nilai ekspor niscaya masa depan Rupiah akan bertumbuh menjadi primadona di pasar internasional. Di titik inilah penguatan Rupiah berpeluang terjadi.

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 18 September 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s