Alam Terkembang Jadikan Guru

Animals Inc di manajemenppm wordpress comPernahkah Anda membayangkan sebuah bisnis pertanian yang dikelola oleh para hewan yang ada di dalamnya sendiri? Pasti dunia telah terbalik! Mungkin demikian pikiran Anda. Namun jika Anda menyimak penuturan Kenneth A. Tucker dan Vandana Allman dalam buku Animals Inc. – A Business Parable for the 21th Century, pikiran Anda mungkin berubah.

Buku setebal 152 halaman ini bertutur tentang pengelolaan sebuah bisnis pertanian. Awalnya seorang manusia bernama Farmer Goode yang mengelolanya. Ia memperoleh tanah pertanian tersebut secara turun temurun. Hingga suatu saat ia menjadi tua dan bermaksud tinggal di sebuah panti jompo karena anak-anaknya tidak ada yang berniat meneruskan bisnis pertanian yang telah ia dan leluhurnya bangun dengan susah payah.

Berbekal keputusan ini, ia kemudian mengundang seluruh hewan termasuk orang-orangan penunggu ladang (Scarecrow) ke dalam sebuah rapat besar. Dalam rapat ini, ia mengemukakan maksudnya dan menawarkan 2 (dua) opsi: mengelola sendiri bisnis pertanian atau ia akan mencari investor yang bersedia membeli pertanian tersebut dan dengan uang hasil penjualan pertanian, ia akan menempatkan seluruh hewan ke dalam kebun binatang.

Sesaat para hewan ribut dan bahkan ada yang bertingkah aneh karena bingung dengan perubahan yang terjadi sekaligus mengkhawatirkan masa depannya di pertanian itu. Setelah suasana kembali tenang, berembuklah para hewan dan menghasilkan sebuah keputusan bulat: mereka akan mencoba mengelola pertanian tersebut. Toh mereka telah melihat caranya dari sang Farmer Goode sendiri.

Singkat cerita, seekor babi bernama Mo yang telah mengabdi selama 8 tahun ditunjuk sebagai CEO. Ia kemudian mengangkat seekor kuda bernama Jerry dan seekor burung hantu bernama Lawrence sebagai wakilnya. Alasannya: senioritas!

Seluruh hewan maklum saja dengan keputusan ini dan mematok harapan yang tinggi kepada Mo. Mulailah Mo belajar bagaimana menjalankan bisnis pertanian. Ia belajar melalui buku-buku bisnis yang dipesannya. Dari banyak buku tersebut, seluruhnya menyebutkan pentingnya menyusun sebuah rencana bisnis. Maka Mo pun menyusun rencana bisnis.

Hal ini diumumkan ke seluruh pertanian oleh seekor ayam jantan bersuara lantang bernama Rocky, yang diangkatnya menjadi Direktur Komunikasi. Di luar dugaan, seluruh hewan menyambut dengan antusias walau dengan pemahaman yang beragam tentang rencana bisnis itu sendiri. Bahkan seekor tikus mengatakan, “Oh ya, saya tahu apa itu rencana bisnis, saya biasa mengunyahnya setiap hari.”

Pada saat yang sama, Mr Biggs, saingan bisnis Farmer Goode mendengar pengalihan pertanian ini. Suatu hari ia datang menawarkan kerja sama, yaitu ia bermaksud membeli pertanian tersebut dan sebagai gantinya masing-masing hewan akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Tentu saja hal ini ditolak mentah-mentah oleh Mo. Namun Mr Biggs tidak berhenti begitu saja. Setiap detik ia memantau pertanian tersebut guna mencari celah untuk mengambil alih.

Berbagai rumor disebarkannya termasuk ‘mempekerjakan anak-anak di bawah umur’ hingga suatu saat Dinas Tenaga Kerja US datang dan menginterogasi Mo. Tentu saja Mo membantahnya dengan mengatakan, “Kami ini hewan. Coba Anda pikir dan perhatikan, mana ada hewan yang berusia dewasa. Saya saja dianggap paling senior karena umur saya 8 tahun. Pahamilah hal ini!” Dinas Tenaga Kerja pun pulang dengan tangan hampa.

Usaha Mr Biggs ini mendapatkan bantuan dari kawanan burung merpati (pigeon) yang membelot dengan meminta imbalan berupa tempat yang nyaman dan makanan yang selalu tersedia. Tentu saja Mr Biggs tak ragu untuk mengabulkan permintaan kawanan burung ini.

Pada saat rencana bisnis selesai dan membuahkan hasil berupa sebuah laporan yang tebal, Mo mengumpulkan ‘anak buah’nya. Rumor kemudian beredar bahwa rencana bisnis yang dibuat Mo tidak bagus. Dengan susah payah Mo membantahnya dengan mengatakan bahwa rencana bisnis yang disusunnya sangat baik. Seluruh hewan pun menyambutnya dengan antusias.

Dalam pertemuan ini, Mo mengatakan bahwa bisnis pertanian ini tidak akan dikelola dengan cara yang biasa, namun dengan cara yang luar biasa. Pertama adalah dengan membentuk 3 (tiga) bagian besar: administrasi, operasi, dan sales and marketing – termasuk di dalamnya riset dan pengembangan. Masing-masing hewan akan ditempatkan di pos yang sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Untuk itu akan dilakukan Animal Opinion Survey (AOS).

Ketakutan melanda sebagian besar hewan karena mereka tidak mengerti esensi survei. Malah ada yang menyamakan survei tersebut dengan jarum suntik yang biasa diterimanya apabila sakit! Hasil AOS adalah sederet kompetensi yang harus dimiliki oleh anggota pertanian, misal: kemampuan untuk fokus, kemampuan untuk berdiri lama, dan memiliki kesabaran yang tinggi.

Langkah selanjutnya, sebelum plotting hewan ke dalam pos-pos yang ada, dilakukan analisis 3600. Tidak sedikit resistensi yang diterima Mo, namun pada akhirnya ia berhasil meyakinkan anak buahnya. Hasil akhirnya adalah masing-masing hewan tetap melakukan apa yang biasa ia lakukan; para ayam tetap memproduksi telur, para sapi tetap menghasilkan susu, dan para domba tetap menghasilkan bulu.

Mo rupanya memiliki visi yang jauh ke depan. Ia kemudian mengganti nama pertanian dari Goode Farm menjadi All Animals Agriculture Industry Inc. (AAA Inc.). Struktur organisasi yang dipilih adalah divisional dan diberi nama yang tergolong ‘canggih’, misal Egg House diganti menjadi Female Chickens Residence dan Ant Hills menjadi Ant Mountain.

AAA juga melakukan IPO (Initial Public Offering). Berkat rumor yang disebarkan Mr Biggs, nilai per lembar saham AAA pada saat IPO melesat mencapai US $ 9! Sebuah nilai yang tinggi untuk sebuah pertanian. Serta merta, di atas kertas, AAA menjadi perusahaan yang kaya raya. Mr Biggs sendiri melalui ‘tangan-tangan’ konglomerasinya, menguasai sebagian besar saham AAA di pasar.

Diangkat pula para manajer dan diberi gaji. Masalah gaji (salary) ini sempat bermasalah karena kawanan bebek langsung menyambut gembira akan diberi celery, jenis makanan favorit mereka, dengan lebih teratur. Walau sebagian besar bingung – dan sebagian kecil langsung berkhayal — akan diberi gaji berupa uang yang dapat dibelanjakan untuk berbagai keperluan, namun seluruh hewan menerimanya.

Ia pun meminta para manajernya untuk membuat IDP (Individual Development Plan) dari masing-masing anak buahnya. Ini berguna untuk menyusun jalur karir. Dikisahkan setelah melalui diskusi yang panjang dengan sang manajer yang tak lain sepupu Mo, sang Scarecrow akan dipromosikan ke bagian produksi telur.

Karena ia tidak memiliki kompetensi di sana, maka atasannya mengirimnya ke kelas pelatihan (training) yang dibuka oleh Mo. Ada 35 kelas yang ditawarkan; kelas yang mengasah hard competency dan soft competency, diantaranya: How to Control Your Inner Animal, Anger Management, Diversity in Action, Biting the Hands that Feeds you, dan Enhancing Self Esteem.

Mo juga memberlakukan 5 (lima) jargon peraturan di AAA yang harus ditaati oleh seluruh hewan. Walau tak mengerti maksud jargon-jargon yang dilontarkannya, seluruh hewan menerimanya. Setelah beberapa lama, pekerjaan rumah Mo menunjukkan hasil: secara keseluruhan mengalami penurunan walau di beberapa divisi hasilnya meningkat pesat.

Promosi menjadi langkah selanjutnya. Scarecrow ditempatkan di bagian Female Chickens Residence. Tugasnya menjaga ladang dialihkan kepada burung gagak yang gemar memakan biji-bijian, yang biasanya diusir oleh Scarecrow. Setelah beberapa waktu, Scarecrow putus asa karena tak juga mampu memproduksi telur, walau seluruh teknik yang diajarkan pada saat pelatihan sudah dilakukannya dengan baik, dan biji-bijian di ladang habis dimakani burung gagak.

Saatnya AAA merasakan roda di bawah: produksi turun drastis, demikian pula dengan nilai sahamnya. Seluruh hewan dirundung rasa putus asa. Waktu inilah Farmer Goode datang. Ia kemudian membagi tips pengelolaan bisnis pertanian kepada Mo. Intinya adalah jalankanlah bisnis dengan normal, rasional, dan good sense. Betul bahwa alat-alat manajemen yang canggih-canggih itu penting, namun jika tidak digunakan pada tempatnya justru akan mendatangkan kemudharatan.

Keesokan harinya, Mo mengadakan pembenahan total, yaitu semua dikembalikan kepada fungsi semula: Scarecrow kembali menjaga ladang bahkan diangkat menjadi Kepala Ladang dan Kepala Keamanan. Sebagai penjaga ladang, ia hapal betul situasi dan kondisi lokasi kerjanya.

Suatu saat ia menyadari bahwa langit cerah tanpa awan dan tanpa burung. Kondisi yang terakhir amat aneh baginya. Setelah mengamati untuk beberapa waktu, ia menugaskan burung gagak untuk menjadi mata-mata. Melalui pengamatan inilah terbongkar rahasia mengapa koran-koran lokal dan nasional mampu menjelaskan dengan detil kejadian-kejadian yang dialami AAA.

Akhir cerita, Mr Biggs bersedia menjual saham AAA yang dimilikinya kepada Mo dengan separuh harga dan seluruh hewan di AAA hidup bahagia hampir selamanya. Dikatakan demikian karena mereka sadar bahwa hidup tidak senantiasa mulus dan di atas roda.

Secara umum, sungguh menarik isi buku ini. Anda akan sangat menikmati membaca buku ini bahkan di beberapa bagian kita dapat terpingkal-pingkal menertawakan diri sendiri. Begitu banyak pelajaran yang dapat dipetik yang ditunjukkan melalui sindiran dan ‘tamparan yang halus’.

Betapa tidak! Lihatlah sekeliling kita dan bahkan kita sendiri. Dengan mudah dapat kita temui organisasi yang berlomba-lomba menerapkan konsep-konsep manajemen terkini dan tercanggih dengan membabi buta namun berujung pada hasil yang sama bahkan lebih buruk dari sebelumnya.

Ambil contoh dengan dilakukannya AOS dan analisis 3600 oleh Mo, hasilnya: semua tetap mengerjakan apa yang biasa ia kerjakan. Sungguh sia-sia waktu dan tenaga yang ia habiskan untuk hal ini saja. Mengapa demikian? Banyak faktor yang mendorongnya, namun yang paling penting adalah – tersirat dalam buku ini – kemampuan sang pemimpin untuk menerjemahkan ide-ide di kepalanya kepada seluruh anak buahnya.

Akan sulit bagi sang pemimpin apabila ia ingin organisasinya maju namun anak buahnya tak mengerti akan hal ini. Ingat kembali apa yang ada dalam pikiran sang tikus seraya mengetahui Mo sedang menyusun rencana bisnis.

Dengan buku ini kita juga dapat belajar memahami karakter orang-orang yang ada dalam organisasi: ada yang sibuk dengan dirinya sendiri, ada yang senantiasa mencari celah dan kesempatan untuk maju sendiri, dan ada yang malas karena takut diketahui potensi aslinya sehingga organisasi akan bergantung padanya. Bagaimana menanganinya pun dijelaskan dengan analogi dalam buku ini – tidak untuk seluruh karakter memang – walau tidak tersurat dengan jelas.

Satu hal lagi adalah pesaing tak selamanya perlu ditakuti. Kadang justru kehadirannya dapat meningkatkan daya saing kita di mata pasar. Lihatlah apa yang terjadi pada AAA dengan adanya beragam rumor yang dilontarkan Mr Biggs. Namun demikian, kita harus tetap waspada dalam artian mesti mengetahui motif tindakan yang diambil pesaing. Jika hal ini tidak kita lakukan, pada akhirnya kita juga yang akan menanggung deritanya.

Di sisi lain, buku ini merupakan ‘tamparan yang manis’ terhadap para penganut sejati manajemen canggih. Sebagaimana yang dikatakan oleh Farmer Goode kepada Mo: jalankan bisnis dengan normal, rasional, dan good sense. Jangan melulu terpaku dan menelan bulat-bulat isi buku-buku teks manajemen yang tebal karena acap kali hasilnya tidak mendatangkan kemaslahatan bersama.

Sungguh bertolak belakang dengan segala penuturan di dalam buku-buku teks manajemen semasa sekolah dulu! Ia juga meminta Mo untuk melihat pada keselarasan alam. Apa yang sudah selaras di alam, jangan diputar-balikkan karena hasilnya akan membawa efek negatif yang tidak sedikit. Hal ini selaras dengan pepatah terkenal: alam takambang jadikan guru alias alam terkembang jadikan guru.

Sekali lagi patut diingat: gunakan jargon-jargon ‘wah’ manajemen pada tempatnya. Jika dipakai sembarangan, jangan-jangan malah senjata makan tuan. Pahami persoalan dengan baik, demikian juga dengan keinginan yang akan diimplementasikan. Jangan mengambil solusi sebelum paham betul apa persoalannya.

Sekali lagi, selamat membaca dan terpingkal-pingkal menertawakan diri sendiri!

*Tulisan ini dimuat di Majalah Swasembada edisi Oktober 2004.

Diah Tuhfat blogDiah Tuhfat Yoshida, Konsultan Manajemen Strategis – PPM Consulting (2003-2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s