Memahami Semangat Berbagi

AHP Memahami Semangat Berbagi 23092013Memasuki minggu kedua September ini, Yehuda Ardhito dan Abimanyu terlihat sangat antusias melakukan panen perdana mereka. Dengan wajah ceria yang menyiratkan rasa optimistis yang tinggi, mereka mengisahkan panen pertama
yang tidak terlupakan.

“Puji Tuhan Pak, panen berlangsung sesuai rencana, mulai dari komitmen pihak-pihak yang membantu pelaksanaan panen hingga respons positif dari para konsumen. Studi tentang pasar kami lakukan selama ini benar-benar bermanfaat. Tidak ada hasil panen yang tersisa. Semua telah terserap pasar,” ujar Yehuda.

Ungkapan yang sederhana, namun bermakna. Di usianya yang muda, kedua pebisnis itu telah paham peran penting pendidikan untuk berbisnis, terutama dalam wacana mengelola atau manajemen usaha dengan tepat.

Dengan pengalaman itu, niscaya, keduanya tidak akan pernah setuju dengan pandangan klasik bahwa “bisnis tak perlu sekolah” yang selarna ini dipahami oleh masyarakat. “Bisa diceritakan bagaimana proses studi pasar yang berlangsung beberapa waktu sebelum panen,” tanya penulis, sebagai mentor.

“Awalnya, kami berusaha memahami segmen pasar kami sesuai dengan misi bisnis yang dibangun. Dari segmentasi itu, kami beranikan diri menentukan target pasarnya. Wilayah radius empat kilometer dari lokasi budidaya merupakan target kami,” ujar Yehuda.

inilah yang saya sebut dengan pebisnis sejati, yakni mereka yang benar-benar berani ambil risiko dengan melakukan apa yang diyakini sebagai misi usaha. Tak ayal keluar masuk pasar tradisional telah menjadi rutinitas kedua anggota Pebisnis Pengkolan Menteng ini.

“Pada fase selanjutnya, kami berusaha mengenal setiap pedagang ayam di pasar-pasar tersebut. Setidaknya, mengetahui siapa nama mereka serta memperkenalkan produk kami,” tambah Abimanyu.

Penetapan harga

Mengenal calon konsumen memang satu hal yang tak boleh luput dari pebisnis. Pengenalan itu jugalah yang akan membawa pebisnis pada keberuntungan. Ketika pasar mulai mengenai nilai unik dari produk Anda, di situlah tercipta peluang memperoleh kepercayaan. “Dari mereka, kami memahami benar berapa harga serta berapa jumlah pasokan serta kualitas ayam yang diharapkan,” imbuh dia.

“Lalu bagaimana dengan strategi harga Anda? Apakah menyesuaikan dengan permintaan pasar?” tanya mentor. Pertanyaan yang cukup sulit dijawab, mengingat umumnya pebisnis akan berusaha untuk menutupi besaran keuntungan (margin) yang ditetapkannya.

Namun tidak demikian halnya dengan PPM (Pebisnis Pengkolan Menteng). Berbekal nilai-nilai kejujuran selama menempuh pendidikan di Kampus Menteng Raya Nomor 9-19 Jakarta Pusat itu, kedua pebisnis ini pun dengan lantang menjawab,

“Kami memang sengaja menggunakan harga pasar sebagai acuan. Pertama, kami melihat bahwa di harga tersebut margin yang diperoleh sesuai dengan target kami. Kedua, kami paham benar bahwa kami masih baru, Pak. Jadi, sekali-kali boleh dong kami memberikan diskon,” ujar Abimanyu.

Dari perspektif manajemen, strategi penetapan harga melalui pola itu dikenal dengan. teknik benchmarking. Tak ada yang salah dengan cara tersebut. Masalahnya, ada pada keberanian pebisnis menunjukkan kelebihan produknya dibandingkan dengan produk pesaing. Hingga kelak, jika penentuan harga jual tidak lagi menggunakan benchmarking, melainkan teknik target margin, niscaya pasar tak akan berpindah ke lain hati.

“Jika dibandingkan pesaing, kami masih lebih murah Rp 2.000, Pak. Belum lagi ditambah dengan masalah baru, yakni kenaikan harga pakan yang mencapai 18% lebih selama sebulan terakhir. Bisa jadi pemain lain sudah menaikkan harganya, kami tidak.”

Mendengar kesaksian itu, ada satu hal yang menghampiri saya. Mengapa mereka tidak ikut menaikkan harga jualnya? Toh, masih wajar, mengingat semua pemain melakukan hal yang sama.

“Kami ingat dengan konsep berbisnis dengan HAT! yang diajarkan selama ini, Pak. Margin kami memang tergerus hebat. Tapi, kami percaya jika niat berbisnis tulus untuk membuka akses masyarakat ke makanan terbuat dari ayam yang sehat, maka berkat akan tiba dengan sendirinya, Pak. Buktinya, harga jual saat ini juga masih masuk dalam target laba kami,” tutur Yehuda.

Tak banyak memang pebisnis muda yang memiliki paradigma seperti itu. Yehuda dan Abimanyu membuktikan bahwa kekuatan magis rupiah belum membutakan pandangan mereka terhadap arti penting berbagi.

Jika semangat ini dimiliki sebagian besar pebisnis muda di tanah air, niscaya prinsip ‘berbagi’ dalam bisnis di Indonesia akan menjadi daya saing terpenting di kancah persaingan global.

Betapa tidak, konsep ini akan mengedepankan prinsip kewajaran harga yang selama ini banyak dilupakan pemain besar. Ketika suatu merek sudah tenar, dengan seenaknya mereka menetapkan harga jual produknya. Apalagi, ketika produknya sudah menjadi bahan kebutuhan pokok masyarakat. Akhirnya, konsumen yang dirugikan.

“Kami tetap yakin, prinsip berbagi ini yang akan mengantarkan kami ke kesuksesan di masa depan. Laba yang kami peroleh, juga kami sisihkan untuk dana sosial sesuai kornitmen awal kami, Pak. Sebagian lagi untuk membantu anggota PPM lain, Syahri, yang mengawali bisnis budidaya lele,” ujar Yehuda.

Sungguh indah memandang optimisme kedua pebisnis itu.

*Tulisan dimuat di Mingguan Kontan, 23-29 September 2013. H. 21

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s