Tiga Pilar Dasar Kepemimpinan Indonesia

AHP Tiga pilar dasar kepemimpinan Indonesia 24092013Bagi sebagian orang, menjadi pemimpin dipandang sebagai bakat atau garis tangan yang dianugerahkan Tuhan sejak lahir. Namun, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, timbul pula sebuah kesimpulan bahwa kepemimpinan merupakan hal yang dapat dipelajari.

Dengan jam terbang yang tinggi niscaya seorang individu mampu menjadi pemimpin tanpa harus melihat latar belakang dari mana ia berasal. Nah penelusuran tentang kepemimpinan Indonesia telah membawa saya pada kesimpulan bahwa pola kepemimpinan nasional dibangun dari tiga pilar, yakni spiritualitas, intelektualitas, dan kebangsaan. Tanpa adanya harmonisasi di antara ketiganya maka seorang pemimpin tak akan mampu mengarahkan gerakan nasional di bangsa yang besar ini.

Mengapa harus spiritualitas? Ini merupakan pertanyaan awal yang harus terungkap. Bicara tentang kepemimpinan berarti bicara tentang bagaimana seseorang memahami tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin dalam konteks adikodrati.

Saya teringat kisah Wrekudara meneapai kesempurnaan batin setelah mengikuti ajaran sang guru. Dalam kisah tersebut dinyatakan bahwa ketika berhasil memahami nilai dasar kehidupan Wrekudara dapat melihat bahwa dalam diri manusia terdapat dua dimensi yang saling melekat erat; dimensi kemanusiaan itu sendiri dan identitas Ilahi.

Dari dimensi identitas Ilahilah pemimpin memahami mana yang benar dan mana yang tidak. Namun, di saat yang sarna (karena prinsip melekat tersebut) seorang pemimpin dihadapkan pada kelemahan sosok manusia yang jauh dari kesempurnaan.

Di titik inilah potensi penyalahgunaan wewenang kepemimpinan muncul. Ketika dimensi Ilahi lebih kuat, maka dengan cepat sang pemimpin akan mematikan hasrat individunya untuk berpikir pada kepentingan yang jauh lebih besar. Hal senada berlaku sebaliknya.

Selanjutnya, untuk mencapai pada pemahaman tersebut harus diakui bukanlah hal yang mudah. Wrekudara saja dalam kisahnya harus menghadapi sejumlah hambatan yang tak kalah hebatnya, mulai dari pertarungan hingga kontra batin dalam dirinya sendiri; antara iman akan kebenaran yang diperintahkan sang guru dengan intelektualitasnya. Pada posisi inilah intelektualitas pemimpin diuji. Mana yang akan mendominasi paradigmanya, nalar (baca: logika berpikir) atau keyakinannya?

Tampak jelas bahwa spiritualitas pemimpin akan membuahkan intelektualitas yang sejati. Makin kuat spiritualitasnya maka makin besar pula daya Ilahi bekerja di setiap pemikirannya. Inilah yang bagi sebagian orang diyakini sebagai aura seorang pemimpin. Ada keteguhan, komitmen serta kemampuan memberi rasa tenteram dan damai kepada mereka yang dipimpinnya.

Tengoklah sosok kepemimpinan nasional yang ada seperti Ki Hajar Dewantara. Prinsip tut wuri handayani mengajarkan kita akan tanggung jawab utama pemimpin, yakni selalu hadir di setiap semangat rakyatnya dalam meraih kehidupan yang jauh lebih baik.

Dalam pemahaman bahwa antara spiritualitas dan intelektualitas merupakan dua sisi mata uang, maka buah yang sejati dari keduanya adalah nilai-nilai kebangsaan. Suatu nilai yang akan membawa pemimpin mampu keluar dari kepentingan dirinya untuk melihat pada kepentingan mereka yang dipimpinnya.

Nah dari sini jelas bahwa spiritualitas dan intelektualitas akan menciptakan sebuah kekuatan yang akan membuat pemimpin berani keluar dari zonanya untuk hidup di ranah kehidupan orang lain. Konsep inilah yang kini dikenal dengan istilah servant leader (pemimpin yang melayani), di mana kehadiran seorang pemimpin lebih bertujuan pada pelayanan dan bukan untuk dilayani.

Fakta uraian pandangan tersebut mungkin kontra dengan kondisi sosial yang kita hadapi. Namun perlu disadari bahwa pembentukan kepemimpinan nasional juga memerlukan peran serta aktif dari mereka yang dipimpinnya (rakyat).

Pemahaman bahwa rakyat adalah mitra kerja pemimpin harus terus menerus diupayakan secara objektif. Artinya pada posisi sebagai mitra, rakyat tak hanya dituntut untuk terus menerus memberikan penilaian berupa kritikan semata, melainkan juga memberikan alternatif ide yang akan membawa bangsa pada kehidupan yang jauh lebih baik.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 24 September 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s