Menakar Korelasi Rupiah dan Daya Saing

Minggu ini Rupiah sudah bisa bernafas lega setelah The Fed memberikan signal hijau untuk tetap mempertahankan stimulus. Dibandingkan di awal September ini, Rupiah pada pekan lalu ditutup menguat di level Rp. 11.350 per dolar Amerika Serikat (AS).

Banyak kalangan menilai bahwa ini merupakan moment tepat bagi pemain domestik tuk segera menunjukkan daya saing globalnya. Meski di satu sisi keuntungan dari nilai konversi mata uang berkurang, namun biaya produksi sangat dimungkinkan menurun akibat penguatan Rupiah. Akankah daya saing dapat tercipta dari mekanisme tersebut?

Menciptakan daya saing dalam persaingan global harus diakui bukanlah hal yang mudah. Kekuatan internal harus terpadukan secara sempurna dengan peluang dan ancaman eksternal yang ada. Ketimpangan di salah satu titik justru berpotensi melemahkan daya saing. Namun, belajar dari pengalaman Samsung (dan pemerintah Korsel) dalam menguasai pasar Asia, ada beberapa hal yang perlu dicontoh oleh segenap penggerak ekonomi domestik.

Pertama, perlu disadari bahwa sebuah daya saing akan tercipta ketika setiap variable ekonomi memberi dukungan penuh. Penguatan mata uang bisa jadi salah satu pemicunya, namun masih ada pemicu yang lain seperti ‘spread’ antara suku bunga simpanan dan kredit hingga kebijakan proteksi atas industry dalam negeri yang diberikan oleh pemerintah setempat.

Kealpaan salah satu kekuatan variable di atas akan berdampak negative pada proses penciptaan daya saing. Padahal di lain sisi Negara-negara tetangga tengah mempersiapkan diri menjelang implementasi komunitas ekonomi ASEAN di 2015. Sungguh sebuah pekerjaan rumah yang sangat besar.

Satu tantangan terbesar bagi Indonesia adalah memisahkan secara jelas antara kepentingan ekonomi dan politik mengingat adanya agenda besar di 2014 yakni pemilihan struktur kepemimpinan nasional. Meski demikian bukan berarti kini kita hanya berpangku tangan.

Upaya mempersempit kesenjangan antara suku bunga simpanan dan pinjaman merupakan tugas yang harus segera dituntaskan. Spread yang rendah di Korea Selatan (sama seperti di China dan Jepang) telah memungkinkan dunia industry untuk mempercepat arus perputaran modal kerja khususnya yang menopang aktivitas inovasi.

Realitas ini sungguh masuk akal, mengingat tingginya biaya penelitian dan pengembangan serta dana yang dibutuhkan untuk menempatkan hasil-hasil inovasi ke dalam kegiatan produksi. Tanpa adanya dukungan perbankan yang kuat niscaya daya saing dari inovasi akan sulit tercipta.

Kedua terkait keberanian pemain domestik dalam menguasai pasar dalam negeri. Meski beberapa waktu terakhir nilai konversi Rupiah dari US$ cukup menguntungkan namun realitas ekspor ternyata belum berkata demikian.

Kelemahan dalam memenuhi criteria standard ekspor serta hadirnya sejumlah hambatan lain telah mengarahkan pemain domestik untuk melayani pasar local. Namun di saat yang bersamaan, pasar Indonesia tengah ‘terbuai’ oleh pasokan produk-produk impor. Tengoklah kontribusi inflasi bulan Agustus yang dipicu oleh kenaikan harga produk-produk impor.

Merubah cara pandang konsumen memang tidak mudah, terlebih jika kualitas produk impor dipersepsikan lebih tinggi daripada produk local. Namun itu bukan berarti tak ada lagi cara yang dapat dilakukan.

Pemain domestik dapat memanfaatkan sisi nasionalisme pasar. Melalui optimalisasi gerakan cinta produk-produk Indonesia, produsen dapat mengajarkan pasar akan arti pentingnya kewajaran harga saat membeli.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa inilah saatnya bagi pemain local untuk beraksi. Tengoklah bagaimana respon pasar atas kebijakan ‘low cost green car’. Hanya dalam hitungan hari ribuan mobil terjual. Meski di lain sisi memicu sejumlah masalah baru, namun jika orientasi LCGC adalah untuk ekspor maka hal ini perlu didukung.

Dengan konten pemanfaatan suku cadang dan komponen local, pertumbuhan industry domestik ke depan akan lebih mampu melakukan upaya penyerapan tenaga kerja. Selanjutnya bila produk LCGC Indonesia disukai pasar internasional maka di titik inilah daya saing tercipta. Impian peningkatan nilai ekspor yang mendatangkan devisa terlihat jelas, masa depan Rupiahpun semakin cerah.

Meski secara konseptual terlihat begitu sempurna, namun lagi-lagi, negara tetangga juga telah menyiapkan hal serupa. Oleh karenanya setiap komponen penggerak ekonomi hendaknya lebih aktif dalam menciptakan terobosan inovasi di berbagai bidang. Kuncinya hanya satu; menciptakan produk yang dibutuhkan di masa depan. Makin tinggi daya saing lokal, maka produk-produk Indonesia akan semakin diminati.

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 25 September 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s