Managing Uncertainties

Kejutan demi kejutan sepertinya sudah menjadi hal rutin dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan saking seringnya, kejutan sudah menjadi tidak memiliki efek kejut lagi. Baru saja, gonjang-ganjing BBM, tiba-tiba Rupiah meradang, lalu emas bergolak, balik lagi Rupiah menguat, harga karet jatuh, dan seterusnya.

Kita belum tahu ke depan, apa lagi yang akan terjadi dengan cepat. Yang jelas, belum ada sinyal lingkungan akan tenang. Semua perubahan lingkungan yang terjadi secara cepat akan memberikan dampak ketidakpastian.

Dalam situasi seperti itu, karena semua juga merasakan hal yang sama, maka pemenang persaingan adalah perusahaan yang sukses menyikapi secara cerdas ketidakpastian di sekitarnya. Itu sebabnya pemimpin perusahaan perlu memiliki kemampuan managing uncertainties. Karena semakin besar ketidakpastian, semakin sulit diprediksi, yang berarti juga semakin besar kemungkinan terjadi kesalahan antisipasi yang bisa berdampak pada ketidaksuksesan.
Continue reading

Dari Kompetisi Menjadi Kolaborasi

Jika ditanya hal apa yang harus disiapkan menjelang penerapan ASEAN Economic Community mulai Januari 2015, jawaban yang paling tepat adalah daya saing.

Selang beberapa tahun terakhir, diskusi tentang daya saing industri nasional memang marak terjadi, Mulai daya saing yang bersifat individu (perusahaan) hingga di tingkat nasional.

Satu simpulan yang dapat diambil adalah urgensi bagi perusahaan-perusahaan lokal untuk berinovasi mulai di bidang pemasaran, produk, produksi, maupun organisasi.
Continue reading

Semangat Gotong Royong Ciptakan Inovasi

Mempelajari makna dari gotong-royong bagi orang Indonesia mungkin sudah dianggap sebagai kebiasaan, namun tidak demikian halnya dengan orang asing. Pertanyaan bagaimana mungkin seorang individu dapat melepaskan diri dari keinginan untuk berkompetisi? Bukankah bekerja sama dengan sesama pemain (baca: pesaing) bisa jadi menumpulkan peluang untuk menang dalam kompetisi?

Inilah pemahaman yang banyak digunakan pengelola perusahaan dewasa ini. Ketika sebuah perusahaan mempunyai lebih dari satu unit bisnis strategis, maka kompetisi antar unit pun diinisiasi dengan harapan akan tercapai performa terbaik.

Namun realitas di lapangan sering menunjukkan bahwa model persaingan tersebut malah berdampak negatif pada kinerja. Unit yang mampu menunjukkan kinerja terbaiknya sering memandang remeh unit lain yang mungkin mengalami kerugian. Alhasil istilah unit primadona dan unit penerima subsidi pun kini banyak digunakan.
Continue reading

Bersiap Menghadapi AEC

Tidak sampai 14 bulan lagi, Indonesia akan turut ambil bagian dalam mewujudkan impian ASEAN, yakni menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dengan memberlakukan AEC.

Komunitas ekonomi di kawasan ASEAN alias ASEAN Economic Community (AEC) telah diinisiasi pembentukannya beberapa tahun silam. Kini, sejumlah negara anggota ASEAN menyiapkan diri sebaik-baiknya.

Alih-alih ingin menjadi lebih baik, lemahnya daya saing ekonomi yang dimiliki satu negara akan dipandang sebagai peluang bagi negara anggota yang lain . Nah, mencermati realitas tersebut, Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM) pun tak mau ketinggalan.
Continue reading

Management Certified Program: Why is it a must?

Indonesia adalah negara terbesar di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), baik dari segi jumlah penduduk, produksi sumber daya alam maupun pasar yang dapat digarap. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila Indonesia memiliki peran sentral dan strategis di kawasan Asia Tenggara.

Namun demikian, ‘besar’ dari aspek kuantitas saja tidaklah cukup bagi Indonesia, karena sejak berlakunya AFTA 2010, maka Indonesia perlu memikirkan ulang aspek kualitas sumber daya manusia yang tersedia.

Tantangan berikutnya adalah AEC 2015 dan sejalan dengan Visi ASEAN 2020, dimana Indonesia akan menjadi salah satu negara yang akan mempercepat liberasisasi perdagangan di bidang jasa dan meningkatkan tenaga profesional secara bebas di kawasan Asia Tenggara. Ini berarti bahwa sumber daya manusia Indonesia haruslah sudah mumpuni secara skill dan mentalitas untuk menghadapi tantangan tersebut.
Continue reading

Belajar Hingga ke Negeri Ginseng

Hasil penelitian Product Development Management Association (PDMA), menunjukkan bahwa 50% penjualan yang dibukukan oleh perusahaan high-technology berasal dari produk baru (Mugge, P., & Markham, S.T. 2013).

Penelitian juga memebuktikan bahwa keunggulan daya saing dapat didapatkan melalui upaya inovasi serta kemampuan dalam mendeteksi potensi pertumbuhan di masa mendatang. Pengembangan produk baru yang dihasilkan tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan pasar, namun juga unggul karena memiliki nilai pembeda dibandingkan produk sejenis.

Salah satu pemimpin pasar teknologi saat ini adalah Samsung Electronic (SE). Bergerak dari paradigma bertumbuh secara kuantitatif ke kualitatif di tahun 1990-an. SE melakukan restrukturisasi dan strategi baru dalam mengelola teknologi, hingga melahirkan New Management Program sebagai bukti keseriusan SE dalam melakukan transformasi, dimana Inovasi dan globalisasi menjadi bagian utama dalam program yang akan dilakukan. Program ini diikuti dengan dibangunnnya pusat-pusatĀ  penelitian di Korea Selatan dan terus menyebar hingga Amerika.
Continue reading

Antisipatif Menghadapi Ekonomi AS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pekan lalu ditutup naik, menguat 26,67 poin menjadi 4.518. Aksi ini disebut-sebut karena “angin” segar yang dihembuskan Amerika Serikat (AS). Kebijakan ekonomi negara Paman Sam yang akhirnya menyepakati “Obamacare” itu memberikan “nafas” baru bagi perekonomian dunia yang sedang lesu.

Namun, ini tidak berarti ancaman itu seketika berhenti. Ekonomi regional termasuk nasional yang dipengaruhi secara signifikan oleh kebijakan AS masih dalam posisi siaga satu. Hal ini disebabkan karena peningkatan batas utang menjadi US$ 16,7 triliun itu hanya sampai 7 Februari 2014. Ini berarti bahwa bila pemerintah AS belum mampu memulihkan ekonominya hingga tenggat waktu tersebut, maka akan terdapat kebijakan lain yang turut berdampak pada ekonomi Indonesia.

Satu kebijakan yang kini tengah “dinanti” adalah pengurangan stimulus yang akan dilakukan melalui pembelian kembali obligasi oleh The Fed. Sejak diwacanakan pada Mei tahun ini, spontan arus modal keluar dari Indonesia cukup deras. Cukup beralasan memang, sebab sebagian besar investor masih menumpukkan harapan pada pertumbuhan ekonomi AS.
Continue reading