Entre & Intrapreneur: Siapa Lebih Baik?

ahp entre dan intrapreneur 30092013Masih ingat kisah minggu lalu? Ya, pekan ini Yehuda Ardhito dan . Abimanyu sedang menikmati hasil panen perdananya. Terlihat jelas optimisme yang terbangun. Namun lain halnya dengan Syahri dan Nicholas. Kini kedua pebisnis muda pengkolan Menteng itu harus kembali menentukan arah karier mereka di masa depan.

“Saya akan memilih untuk magang dahulu di perusahaan Pak. Untuk berguru,” ujar Nicholas dengan nada lirih. Spontan jawaban itu membuat ruang diskusi yang semula riuh menjadi tenang. Satu demi satu pasang mata anggota Pebisnis Pengkolan Menteng terarah ke “Suju,” panggilan akrab Nicholas, yang berpenampilan identik dengan boyband asal Korea Selatan itu.

Alhasil yang muncuI adalah pertanyaan: “Lo, kok begitu? Apa Suju maumengurungkan niat menjadi pebisnis?” Bagi sebagian orang, berbisnis dipahami sebagai sebuah hasil alias result dari sebuah pemikiran. Namun ada juga yang memahami berbisnis sebagai sebuah proses.

Daripada gagal lalu mutung, lebih baik mencoba berguru terlebih dahulu di perusahaan yang sudah mapan, untuk secara khusus memahami seluk beluk bisnis yang akan digeluti. Lalu setelah proses itu tuntas, baru ia memasuki tahapan membuka usaha sendiri.

“Saya tetap akan menjiadi pebisnis. Saya ingin mandiri secara ekonomi. Namun saya merasa perlu belajar dari perusahaan yang menjiadi acuan saya,” tutur Nicholas.

Pemikiran Nicholas mengingatkan saya akan dua dimensi dari entrepreneur. Satu yang dikenal dengan istilah serial entrepreneur, yakni mereka yang pada suatu waktu tertentu bekerja di sebuah perusahaan sambil mempelajari seluk beluk operasional yang ada. Kelak, jika tiba saatnya, ia akan mengundurkan diri dari perusahaan itu untuk membuka unit bisnis tandingan atau malah meniadi pemasok atau kepanjangan tangan distribusi perusahaan.

Dimensi kedua adalah entrepreneurial minded people. Istilah ini merujuk ke mereka yang berpikir sebagai wirausahawan, namun sama sekali tidak berminat untuk membuka usaha sendiri. Malah dengan pola pikir wirausahawannya, mereka mampu memberikan ide-ide terbaik bagi peningkatan kinerja perusahaan di masa depan. Dalam konteks manajemen, dimensi kedua ini juga dikenal dengan istilah intrapreneur.

“Apa salah menjadi serial entrepreneur ya pak,” tanya Nicholas. Sebagian orang memberi stigma opportunist ke tipe ini. Meski sedikit bernada negatif, namun saya pribadi menyatakan tak ada yang salah dengan tipe tersebut.

Keluar dari perusahaan untuk menjadi mitra kerja di masa depan, sebenarnya memberikan sejumlah keuntungan. Bagi perusahaan tempat ia bekerja, ini merupakan sarana bagi manajemen untuk mengapresiasi pola pembelajaran yang berlangsung selama ini.

Realitas itu menunjukkan keberhasilan perusahaan menjadi organisasi pembelajaran bagi segenap karyawannya. Kendati, organisasi harus kehilangan salah seorang talent terbaiknya. Dari sisi eks karyawan, komitmen batin akan membawanya untuk lebih loyal ke perusahaan yang selama ini telah membuatnya bertumbuh dengan memberikan peluang luas kepadanya untuk belajar lebih tentang seluk beluk bisnis yang ada. Dengan cara ini, sinergi antar perusahaan dan eks pekerjanya akan terjadi.

Zona Nyaman

“Lalu bagaimana jika Suju keterusan Pak?” tanya Syahri. Itulah titik tolak bagi pebisnis dalam hidupnya. Jika selama menjadi karyawan di sebuah perusahaan ternyata malah menciptakan zona nyaman alias comfort zone, maka saya menyarankan agar ia bertumbuh  sebagai intrapreneur. Artinya, ia tetap menggunakan feeling pebisnis dalam menjalankan tugasnya di perusahaan. Namun apabila zona nyaman itu tak berhasil terbentuk, maka serial entrepeneur adalah pilihannya.

“Berarti sekarang saya harus berani berbisnis sendirian tanpa mitra ya Pak?” ucap Syahri dengan nada optimistis. Pemuda yang memperoleh sense bisnis dari kedua orang tuanya ini harus diakui sebagai pribadi yang sangat berkomitmen. Selain karena dikuatkan oleh pengalaman hidupnya sebagai ayah seorang putera, komitmen untuk terus mengupayakan kesejahteraan bagi sekelilingnya merupakan misi utama dari mereka yang belajar di Menteng Raya 9-19 Jakarta Pusat.

Di kampus yang terletak di depan patung Pak Tani inilah, mereka diajak untuk memahami bahwa berbisnis tidak akan pemah sendirian. Mitra bisnis yang dipahami sebagai stakeholder dapat mereka temukan di mana-mana.

“Minggu ini Iahan sudah siap. Saya sedang menyiapkan testing project dengan menyebarkan beberapa benih lele sesuai rencana,” ujar dia. Bagi Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM), tahap uji proses merupakan tahap yang penting. Sebelum proses produksi benar-benar dilakukan, maka kegiatan mempelajari sampel akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Sebagai sarana pembelajaran, cara ini diyakini mampu mengalihkan pebisnis dari kemungkinan menderita kerugian di masa depan. “Sudah diolah dahulu lahan untuk kolamnya?” tanya Abimanyu dengan nada ingin tahu. “Sudah, mulai dari infrastruktur pemasangan terpal, ijuk, sirkulasi air hingga penyemaian pupuk,” tutur Syahri. “Jangan lupa mempertimbangkan suhu air, karena jika terlalu panas, lele bisa mati’, kata Abimanyu menambahi.

Inilah jiwa yang dibangun dari PPM. Sebagai pemain lama dalam budidaya lele, Abimanyu tahu banyak bagaimana menciptakan efisiensi dan produktivitas bisnis tersebut. “Saya bantu di lapangan yah,” tambah dia, yang kemudian memicu riuh tepuk tangan di dalam ruangan.

*Tulisan dimuat di Mingguan Kontan, 30 September – 5 Oktober 2013. H. 21

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s