Menciptakan Budaya Inovasi

Untuk menyongsong era komunitas ASEAN di 2015 maka hal utama yang harus mendapat perhatian lebih dari manajemen puncak adalah inovasi. Betapa tidak, di saat informasi dapat dengan mudah diakses maka tren produk antara satu produsen dengan produsen lainnya akan bergerak ke arah yang sama.

Tengoklah bagaimana tren produksi mobil murah (low cost green car) dilakukan sejumlah produsen baik dalam maupun luar negeri. Atau gebrakan handphone China yang kini mampu menyejajarkan posisi dengan merek atas seperti Samsung. Di sisi lain konsumen terlihat lebih rasional dalam berbelanja. Alhasil inovasi khususnya dalam tataran organisasi merupakan kunci sukses di masa depan.

Menumbuhkan semangat inovasi di dalam perusahaan harus diakui bukanlah hal yang mudah. Manajemen harus memahami karakter setiap karyawan untuk menentukan titik dukungannya dalam aktivitas inovasi selain memetakan sumber daya yang dimiliki.

Studi yang dilakukan PPM School of Management terkait inovasi yang dilakukan sejumlah perusahaan di Indonesia pada 2012- medio 2013 menunjukkan bahwa belum adanya pemahaman yang sama akan budaya inovasi itu sendiri.

Inovasi masih dipandang sebagai hal yang sangat rahasia sehingga tabu untuk diungkapkan kepada publik. Padahal mengaca pada langkah Samsung dalam menerobos pasar dunia, budaya inovasi dibentuk sedemikian rupa sehingga produk-produk inovasi dapat terus tercipta dalam hitungan jam. Tak hanya itu, dengan kekuatan komunikasi pemasaran, perusahaan berani ‘membuka’ rahasia inovasinya untuk satu produk dengan harapan terbentuknya opini positif dari pasar.

Nah dari opini inilah produsen-produsen lain berupaya untuk melakukan inovasi yang sama. Sehingga secara tidak langsung pola tersebut dilakukan untuk mempercepat terbentuknya pasar bagi produk-produk besutan Samsung.

Tengoklah bagaimana pasar Indonesia dengan cepat beralih dari Blackberry dan Apple ke produk-produk Samsung serta produk berbasis Android lain yang dimotori oleh produsen China.

Berkaca dari pengalaman tersebut satu hal yang layak didiskusikan adalah bagaimana membentuk budaya inovasi di dalam perusahaan? Beberapa literatur manajemen menyebutkan factor-faktor seperti atmosfer kerja, dukungan dana hingga sisi intelektualitas karyawan sebagai modal awal inovasi.

Namun telaah lebih dalam menyimpulkan bahwa budaya inovasi diawali dari semangat kreativitas di dalam perusahaan. Sekarang tinggal bagaimana manajemen mampu meracik resep kreativitas itu sendiri.

Pertama, survei menunjukkan bahwa kreativitas muncul dari kegiatan-kegiatan yang sifatnya non formal. Dengan kata lain meminimalkan pertemuan formal dan menggantinya dengan diskusi yang lebih non formal akan memicu ide-ide kreatif dari tim anda.

Tengoklah bagaimana Google mendesain kantornya sedemikian rupa untuk memicu terciptanya pertemuan non formal di antara karyawan. Dengan membiarkan karyawan bekerja secara mobile dari satu tempat ke tempat lain, manajemen membuka peluang luas kepada karyawan untuk saling berinteraksi. Melalui pola inilah pertemuan non formal itu terjadi.

Untuk menumbuhkan semangat tersebut bukanlah hal yang sederhana, terlebih jika organisasi telah bertumbuh sekian lama dengan mekanisme birokrasi yang kompleks. Manajemen perlu melirik hal kedua yakni memicu kontroversi ide dalam setiap kegiatan brainstorming. Keberanian manajemen untuk mengajak setiap anggota organisasi keluar dari zona comfort mereka akan menjadi poin utama. Alhasil kegiatan outdoor menjadi salah satu pilihan terbaik.

Berbicara tentang inovasi tak dapat dilepaskan dari kegagalan. Ada begitu banyak kisah kegagalan sebelum tercipta satu ide inovasi. Oleh karenanya, manajemen perlu mengapresiasi setiap kegagalan. Salah satu literatur manajemen bahkan dengan tegas menekankan pentingnya ‘celebration for failure’ dalam budaya inovasi.

Spirit ini muncul karena kegagalan dipandang sebagai sebuah pembelajaran. Sebab bisa jadi bagi tim, produk itu termasuk gagal, namun tidak demikian bagi bagian pemasaran. Jika memang opini pasar meyakini bahwa itu bukan produk gagal maka di situlah peluang emas perusahaan dalam menguasai pasar tercipta. Namun tentunya manajemen tak dapat berhenti di titik itu, rangkaian kegiatan riset harus tetap dilakukan hingga berhasil menemukan inovasi yang terbaik.

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 2 Oktober 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s