Tujuh “Penyakit” Pengusaha Kecil

Pengusaha kecil dalam menjalankan operasinya banyak menghadapi permasalahan berupa penyakit yang menyerang. Penyakit ini kadang sepele, tetapi banyak yang mematikan usaha. Memang ada juga pengusaha kecil yang menderita penyakit ini tetapi dapat besar dan sukses, tetapi umumnya mengalami banyak permasalahan.

Tujuh penyakit yang banyak diderita pengusaha kecil adalah sebagai berikut:

  1. Tuli, yaitu kurang dapat menerima informasi. Bila sudah mendengar satu informasi tidak dapat mendengar informasi baru. Penyakit ini dapat mematikan usaha.
  2. Muntah, yaitu mengeluarkan sesuatu dari mulut yang seharusnya diproses dalam perut. Meskipun penyakit ini sederhana tetapi membuat hidup pengusaha kecil semakin susah saja.
  3. Mencret adalah penyakit yang diakibatkan kecerobohan dan kurang hati-hati. Penyakit yang sederhana ini juga bisa mematikan.
  4. Kurap adalah penyakit ‘sederhana yang sering diabaikan tetapi lama kelamaan dapat mematikan.
  5. Batuk juga penyakit yang banyak diderita pengusaha kecil dan penyakit batuk yang menahun sangat berbahaya.
  6. Kutil adalah penyakit lain yang lama kelamaan juga membahayakan pengusaha karena biasanya akan mengecewakan orang lain.
  7. Campak adalah penyakit terakhir yang paling berbahaya dan kebanyakan tidak dapat diobati. Hanya dengan kesadaran yang kuat penyakit ini dapat disembuhkan. Kebanyakan pengusaha yang menderita penyakit dapat mengalami kematian usaha.

Tujuh Penyakit

Tujuh penyakit di atas sebetulnya berkaitan dengan masalah yang dijumpai dan dihadapi oleh pengusaha kecil yaitu dapat digolongkan berdasarkan fungsi-fungsi manajemen sebagai berikut:

• Masalah pemasaran
1. Tuli
2. Mencret
3. Muntah

• Masalah produksi
4. Kurap
5. Batuk

• Masalah organisasi
6. Kutil

• Masalah keuangan
7. Campak

Penjelasan berbagai masalah ini adalah sebagai berikut:

1. Tuli

Yang dimaksud tuli adalah “Satu Pembeli”. Mungkin hal ini sangat janggal, mengapa ada pengusaha hanya memiliki satu atau dua pembeli saja. Untuk lebih jelasnya diberikan contoh-contoh di bawah:

  • Pada kontraktor, perusahaan kecil biasanya hanya mampu mengerjakan sebagian kecil proyek saja . Setelah mengerjakan proyek tersebut, seluruh kapasitasnya sudah habis terkuras. Proyek lain tidak ada lagi, sehingga pembelinya hanya satu, itupun untuk dapat satu proyek harus berusaha dan bekerja dengan susah payah.
  • Catering juga mengalami hal yang sama, setelah menerima order, misalnya selama tiga bulan pada suatu kantor atau pabrik sudah sukar untuk jualan lagi di kantor lain karena kapasitasnya sudah habis.
  • Kadang kala dalam kasus subkontraktor, produsen hanya di sub oleh satu perusahaan besar lain, dan sudah habis tenaganya.

Dan masih banyak contoh lain. Kelemahan utama dari penyakit ini adalah:

  • Harga Jual dikuasai oleh pembeli, pengusaha kecil tidak berani menawar, takut kalau batal ordernya, yang berarti perusahaan tidak dapat penghasilan karena tidak memiliki pembeli lain.
  • Sering order yang diperoleh tidak kontinyu, karena pengusaha jenis ini banyak yang mengantri pekerjaan sehingga diterapkan asas giliran atau arisan pekerjaan.
  • Bila satu-satunya pembeli tidak membeli, perusahaan akan bangkrut.

Kadang kala ada perusahaan yang menderita penyakit ini tapi tetap sukses, tetapi tidak banyak, dan biasanya mereka memiliki suatu hubungan yang khusus dengan pembeli, tetapi hubungan ini putus segera perusahaan mengalami masalah.

2. Mencret

Yang dimaksud mencret adalah “Menjual Ceroboh dan Teledor”. Pengusaha sering kurang perhatian terhadap pembelinya. Pelayanan yang tidak baik, sering “mengecewakan pembeli” dapat menyebabkan pembeli lari ke tempat lain. Diberikan beberapa contoh di bawah:

  • Seorang calon pembeli menanyakan harga produk yang ditawarkan, tetapi salesman tidak dapat menjawab dan mempersilahkan pembelinya langsung telpon ke pemilik perusahaan karena masalah harga menjadi wewenang pemilik. Calon pembeli marah dan berkata, “Kalau jualan tidak tahu harga produk jangan jualan, pemiliknya saja suruh jadi salesman, kamu duduk-duduk di kantor saja,” Itu pemilik tidak profesional. Memang pemilik tidak mau sampai anak buahnya berhasil menjual, karena dapat merongrong kewibawaan, meskipun karyawan ikut memajukan perusahaan.
  • Seseorang menjahitkan setelan jas untuk resepsi. Setelah disepakati tentang lama pemesanan, pemesan datang lagi pada hari yang ditentukan. Ternyata jasnya belum selesai, sedangkan jas harus segera dipakai untuk pertunangan, tentu hal ini akan membuat keributan.
  • Seorang pembeli datang ke toko dan akan membeli penggaris busur derajat, yaitu penggaris berbentuk setengah lingkaran untuk mengukur besarnya sudut. Penjual berkomentar, “Kalau mencari barang selalu yang tidak ada, beli penggaris biasa yang lurus saja.”
  • Penjual selalu memberikan kembali dengan permen. Oleh seorang pembeli permen tersebut dikumpulkan lalu dipakai untuk membeli di tempat penjual tersebut. Penjual marah, “Yang benar saja beli pakai permen, memangnya toko bapakmu.”

Banyak contoh lain yang menyebabkan pembeli tersinggung misalnya saja sebagai berikut:

  • Stoking ini bagus untuk ibu sehingga kaki ibu yang banyak bekas koreng akan tertutupi.
  • Ukuran kaki ibu terlalu besar, silahkan pergi ke rak sepatu basket pria, di sana banyak yang cocok.
  • Rok ini dapat menutupi ibu yang tidak memiliki pinggang.

Masalah yang dapat timbul adalah:

  • Penjual sering menyinggung perasaan pembeli.
  • Penjual tidak dapat memahami kebutuhan dari pembeli.
  • Pembeli tidak datang lagi karena kecewa sehingga pembeli lama-lama habis.

3. Muntah

Yang dimaksud muntah adalah “Menjual Mentah”. Pengusaha sebagai penjual tidak melakukan nilai tambah apa-apa, barang yang dijual persis seperti yang dibeli. Untuk jelasnya diberikan contoh di bawah:

  • Penjual cabe, hanya menjual cabe saja, tanpa proses. Waktu produksi sedikit, harga jual baik, tetapi harga beli cabenya juga naik, waktu kelebihan produksi harga jatuh, pengusaha menderita kerugian.
  • Penjual ayam juga hanya menjual ayam seperti yang dibeli, ketika kelebihan ayam, harga jual di bahwa harga pokok produksi. Pernah tersiar kabar tahun lalu bahwa jutaan telor dihancurkan untuk menjaga harga ayam.

Banyak contoh lain seperti penjual jeruk dan sebagainya.

Masalah yang dihadapi oleh pengusaha ini antara lain adalah:

  • Laba yang diperoleh tidak banyak, karena pengusaha tidak melakukan proses tambahan.
  • Karena tidak diproses maka produknya bersifat umum dan biasa sehingga mudah direbut pesaing.
  • Harga tidak stabil cenderung merugikan pengusaha.

4. Kurap

Penyakit kurap adalah “Kurang Pemasok” atau pembekal atau suplier. Banyak perusahaan hanya memiliki satu pemasok. Karena mereka menganggap pemasok tersebut sebagai langganan, mereka percaya penuh, sehingga tidak pernah membandingkan dengan pemasok lain, sedangkan pemasok lain harganya dan syaratnya bisa jauh lebih baik.

Akibat pengusaha tidak memiliki hubungan dengan pemasok lain, sehingga kalau terjadi masalah dengan pemasok tersebut, maka pengusaha tersebut akan menghadapi masalah besar. Bahkan banyak pengusaha hanya memiliki satu pemasok bahan baku sekaligus pemasok tersebut menjadi satu-satunya pembeli produknya.

Diberikan contoh sebagai berikut:

  • Seorang pengusaha sepatu membeli kulit dari pemasok kulit, yang ternyata adalah sekaligus juga pembeli dari seluruh produk sepatu.
  • Suatu perusahaan jasa membeli komputer pada satu pemasok tiap kali beli komputer, menurut penjualnya komputer tersebut baru, tetapi baru dipakai satu bulan rusak, kalau rusak penjualnya minta tukar tambah. Beli baru lagi ditempat itu lagi, rusak lagi. Perusahaan tersebut telah membeli komputer sekitar sepuluh buah, semuanya rewel, tetapi pimpinan perusahaan tidak mau berpindah. Perusahaan ini telah dirugikan, juga kegiatan kerja sangat terhambat. Ketika karyawannya minta ganti pemasok, pimpinan perusahaan marah besar dan mengatakan kalau tidak suka kerja di sini silahkan keluar saja. Pemasok tersebut ternyata milik anak dari pimpinan tersebut. Dan perusahaan jasa ini sudah dalam kebangkrutan dan semua karyawannya yang berjumlah sepuluh orang resah, karena pembayaran upah-upah sering terlambat dan bahkan ada upah yang dihapus begitu saja. Pimpinan yang tidak bertanggung jawab ini lebih mengutamakan perusahaan lain dari pada karyawannya.

Masalah yang dihadapi oleh pengusaha ini adalah:

  • Harga beli dikuasai oleh pemasok.
  • Bila pasokan berhenti perusahaan dalam masalah.
  • Muncul masalah komplek yang lain.

5. Batuk

Penyakit batuk atau “Barang Tunggal dan Ketinggalan”, juga sering dijumpai di berbagai pengusaha. Sampai pengusaha itu bangkrut tetap mempertahankan barang tersebut. Pengusaha tidak menyadari bahwa barang itu memiliki usia untuk dapat laku terus menerus. Beberapa contoh diberikan:

  • Pengrajin lurik dengan ATBM (alat tenun bukan mesin) banyak yang bangkrut di daerah Delanggu. Pengrajin grabah yang memproduksi kendi, celengan, dan sebagainya yang juga mengalami gulung tikar karena barangnya ketinggalan.
  • Seorang pengusaha hanya memiliki satu produk. Pasar produk tersebut mulai direbut pesaing dan pesaing dapat memberikan pelayanan yang lebih baik. Ketika karyawannya akan mengadakan diversifikasi produk, pemilik marah, karena memang usaha tersebut hanya akan menjual satu produk. Ternyata pemilik yang hanya punya satu ketrampilan takut pada bawahan kalau bawahan lebih ahli yang akan menurunkan wibawanya. Perusahaan ini kemudian memilih kebangkrutan daripada diversifikasi produk. Karyawannya sangat menderita memiliki pimpinan yang tidak bertanggung jawab ini.

Masalah yang dijumpai adalah:

  • Barang tunggal mudah disaingi dan bila barang tunggal yang dimiliki pengusaha disaingi, maka akan timbul masalah karena pengusaha tidak memiliki produk lain yang dapat dijual.
  • Barang memiliki usia dan bila barang tersebut mulai tidak laku atau tidak ada pembeli, pengusaha tidak dapat menyesuaikan diri untuk beralih ke produk lain. Bahkan sampai bangkrutpun, pengusaha tidak berusaha dan tidak membuat produk yang lain.
  • Pengusaha ini sangat tidak kreatif dan tidak bisa diberi saran.

6. Kutil

Yang dimaksud kutil adalah “Kurang Trampil”. Banyak pengusaha memasuki bisnis tanpa memiliki ketrampilan atau ketrampilan yang terbatas dan hal ini terus dipertahankan salama usaha. Pengusaha tidak bersedia meningkatkan kemampuannya yang memang sangat minim. Lebih-Iebih meningkatkan kemampuan bawahannya, dianggap sangat merugikan pengusahanya, akibatnya mutu produknya jelek dan lama kelamaan kehilangan pasar. Bila ada tawaran peningkatan kemampuan misalnya pelatihan, pengusaha menolak untuk ikut, lebih-Iebih mengirimkan bawahannya ikut, akan ditolak mentah-mentah. Diberikan beberapa contoh:

  • Pengusaha mebel, tidak pernah meningkatkan ketrampilannya untuk dapat membuat mebel knock down. Pengusaha ini secara pelan-pelan kehabisan pasar. Meskipun kondisinya sudah menyedihkan masih tetap bertahan tidak mau belajar untuk produk baru dengan alasan tidak mampu atau alasan lain yang dicari. Sehingga tampak kalau membuat 2 buah meja makan, bila dibandingkan tidak bisa sama tinggi dan sama lebar. Pengusaha tidak bersedia meningkatkan lagi ketrampilannya.
  • Pengrajin kompor, selalu mempertahankan teknologinya meskipun sudah banyak keluhan dari pembeli kalau sumbunya selalu macet.
  • Seorang pengusaha yang hanya memiliki usaha sablon dengan ketrampilan yang minimum, memiliki karyawan yang jauh lebih ahli dari pemiliknya. Bila produk sablon seluruhnya dikerjakan oleh karyawannya, hasilnya sempurna, tetapi bila pemiliknya turut campur malah hasilnya cacat dan karyawan yang dimarahi, tetapi karyawan tidak berani mengungkapkan balik pada pemilik, kecuali bila bersedia dipecat.

Masalah yang dijumpai di sini antara lain adalah:

  • Pengusaha tidak mau meningkatkan kemampuannya untuk meningkatkan perkembangan perusahaan.
  • Pengusaha juga tidak mau meningkatkan ketrampilan bawahannya, sehingga mutu produknya kurang sesuai dengan keinginan konsumen.

7. Campak

Campak adalah “Campuran Usaha dan Keluarga”. Penyakit ini adalah penyakit yang paling parah dan yang paling banyak dijumpai pada pengusaha kecil. Memang dalam usaha kecil, usaha dan keluarga tercampur, tetapi kalau hal ini dilestarikan, banyak perusahaan kecil justru tidak berkembang atau mengalami kebangkrutan. Faktor yang tercampur biasanya meliputi keuangan, yaitu membeli keperluan keluarga yang dibebankan pada perusahaan dan masalah keputusan, di mana isteri atau anak yang tidak memiliki keahlian ikut campur dalam keputusan.

Perusahaan seperti ini dalam perkembangannya justru semakin menyempit, dimana yang berperan semua anggota keluarga mulai dari isteri dan anak serta saudara, dan orang luar disingkirkan. Pengusaha cenderung menekan biaya karyawan karena merasa telah memberi terlalu banyak pada karyawan, jadi bukan menekan biaya dirinya. Pengusaha menuntut karyawan jujur sedang dirinya sendiri tidak jujur. Motivasi karyawan biasanya menurun, dan banyak karyawan keluar.

Sebenarnya dibandingkan dengan penyakit sebelumnya, penyakit ini merupakan penyakit yang dibuat sendiri. Pada aspek pasar, masalah dikendalikan oleh pembeli, pada aspek produksi dikendalikan lagi oleh pemasok dan aspek organisasi masalah pada faktor karyawan. Dalam aspek keuangan terjadinya masalah karena muncul dari diri pengusaha. Karena pengusaha sering tidak dapat mengontrol diri sendiri, maka banyak masalah timbul.

Diberikan beberapa contoh:

  • Sebuah pabrik kecap, karyawan bagian produksi sangat frustasi akibat masuknya anak pengusaha tersebut dalam proses. Banyak instruksinya yang bila dijalankan membuat kecapnya gagal, tetapi bila diberitahu ke pengusahanya, karyawannya bahkan dimarahi. Perusahaan menderita banyak kerugian, tetapi yang disalahkan tetap karyawannya. Akhirnya banyak karyawannya yang keluar dan membangkrutkan usaha tersebut karena mutu produk semakin buruk.
  • Ada dua orang membuka usaha dengan modal 50%-50%. Dalam operasinya, isteri salah seorang pemilik mengambil uang Rp 1 juta. Agar tidak terjadi masalah, maka pemilik yang lain juga mengambil Rp 1 juta. Saat lain pemilik yang satu mengambil Rp 4 juta, disusul pemilik yang lain mengambil Rp 4 juta dan seterusnya. Karyawannya melihat hal ini sebagai ketidakberesan, memang hal tersebut dilakukan karena uang mereka/pemilik sendiri, tetapi kalau perusahaan bangkrut, karyawan tetap kena dampaknya yaitu kehilangan pekerjaan. Meskipun tidak sebanyak pemiliknya, karyawannya mulai mengambil uang juga dari perusahaan. Akhirnya perusahaan bangkrut.
  • Seorang karyawan dari percetakan telah dapat menangkap temannya yang mengambil barang perusahaan dan dilaporkan pada kepalanya. Kepalanya berkata, “Lepaskan saja, kamu tahu sendiri atasan kita telah mengambil harta perusahaan jauh lebih besar dari harta yang ada di perusahaan ini.” Meskipun kalau perusahaan ini sampai bangkrut, kita dan keluarga kita sangat menderita, tetapi biarlah tindakan itu ditanggung sendiri-sendiri oleh mereka.
  • Seorang pengusaha kalung kayu cendana, karena melihat adanya saldo uang yang banyak, lalu membeli parabola, membeli komputer untuk anaknya membangun rumahnya dengan lantai keramik, sedangkan tempat usahanya masih berdinding kayu, lantai tanah, penerangan redup dan tempat kerja yang tidak layak. Ketika pemasaran lesu, perusahaan ini tidak ada tabungan dan karyawannya satu persatu mulai keluar, dari 20 orang karyawan tinggal 4 orang karyawan, itupun gaji mereka sering tertunda.
  • Seorang pengusaha berfoya-foya ketika perusahaannya untung dengan menggunakan uangnya secara konsumtif untuk kebutuhan keluarga, karyawannya tidak ikut menikmati, bahkan upah lembur diberikan sangat terlambat sampai lamanya bisa lebih dari satu tahun baru dibayarkan. Ketika ada karyawan sakit, pemilik marah pada karyawan lain karena menjenguk temannya yang sakit, sehingga untuk selanjutnya karyawan tidak berani menengok lagi bila ada teman sesama karyawan sakit. Karyawannya juga dimarahi kalau bergaul dengan karyawan di perusahaan lain. Ketika perusahaan surut, upah lembur yang sudah sering terlambat dibatalkan pembayarannya. Karyawan resah tetapi tidak berani mengungkapkan, karena bisa dipecat. Dalam perusahaan, seharusnya utang tidak boleh dihapuskan. Bahkan secara individual, berdasarkan moral bila pemilik sampai meninggalkan utang itu menjadi kewajiban ahli warisnya, itupun kalau ahli warisnya mau membayar dan karyawannya mau menagih. Pemilik yang mengelola usaha tidak dilandasi moral yang baik dan asosial telah membawa perusahaan ke arah kebangkrutan.
  • Ketika seorang pengusaha membeli sebuah komputer untuk perusahaannya, maka dia membeli dua buah komputer untuk anaknya. Ketika pengusaha membeli satu mobil untuk perusahaan, dia juga membeli dua mobil untuk keluarganya. Juga kalau membeli kertas satu rim untuk perusahaannya, pengusahanya akan membawa dua rim kertas ke rumah. Semua pengeluaran dibebankan ke perusahaan. Bila karyawan lembur, maka pengusaha mengambil uang lembur dua kali dari lembur tertinggi karyawannya, meskipun pengusaha tersebut tidak ikut lembur. Karyawan takut minta uang lemburnya, kalau pengusaha lupa, sehingga uang lembur hilang begitu saja, tetapi pemilik tidak lupa mengambil jumlah yang berlipat meskipun tidak ikut lembur. Pengusaha yang bertindak sewenang-wenang. Akhirnya pelanggannya lari ke tempat lain dan kapok. Perusahaannya akhirnya bangkrut, karyawannyalah yang menjadi korban karena memiliki atasan yang kejam dan diktator.
  • Seorang pengusaha bila berhasil menjual produknya memotong komisi untuk dirinya sebesar 40% dari harga jual dan memberi komisi 10% pada pembelinya, tidak peduli apakah penjualannya untung atau merugi. Kadang kala penjual diberikan komisi sampai 30%. Dengan berjalannya waktu, pengusaha yang semakin tua ini menjual barangnya semakin tidak bermutu dan banyak pesaingnya. Karyawannya mencoba minta uang komisi tersebut, pemiliknya marah, karena tidak ada komisi untuk penjualan yang dilakukan karyawan, dan pemilik menyatakan kalau tidak suka kerja di sini, karyawan diminta keluar. Perusahaan yang diawali memiliki karyawan sejumlah 30 orang akhirnya keluar satu per satu tinggal satu orang, dan pemiliknya itu tetap tertutup hatinya terhadap masukan, dan suka memakan hak orang lain serta tidak mengenal etika ini memilih perusahaan bangkrut dari pada memberikan imbalan yang semestinya pada karyawan.

Masalah yang dijumpai dalam hal ini adalah:

  • Sulit melakukan kontrol keuangan, karena pengusaha kecil memang tidak mau keuangannya dikontrol.
  • Pengeluaran keluarga sering dijumpai jauh lebih besar dari pengeluaran perusahaannya.
  • Tidak memberikan teladan yang baik pada karyawan, karena karyawan dapat ikut-ikutan merusak perusahaan.

Alternatif Pengobatan

Alternatif pengobatan yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Tuli (satu pembeli) diobati dengan “permen”
Yang dimaksud permen adalah “Pengecer atau Multi Konsumen”. Pengusaha sebaiknya menjadi pengecer yang melayani partai kecil atau eceran, bukan grosir, yang hanya partai besar. Menjadi grosir dimungkinkan kalau pembelinya tetap banyak. Misalnya yang terjadi di sentra sepatu Cibaduyut, dan sentra jeans di Cihampelas,Bandung. Sentra lukis batik di Ngasem, sentra grabah di Kasongan, Yogya dan sebagainya.

2. Muntah (menjual mentah) diobati dengan “promah”
Yang dimaksud promah adalah “Proses dan Nilai Tambah”. Pengusaha harus memberi nilai tambah dengan alternatif cara adalah melakukan pemrosesan. Misalnya membuat abon ikan, abon ayam. Yang dapat dikembangkan misalnya membuat ayam asin (tidak hanya ikan asin), dendeng ayam (tidak hanya dendeng sapi), lempok nanas (tidak hanya lempok durian), kangkung goreng (tidak hanya bayam goreng), nanas goreng (tidak hanya nangka goreng).

3. Mencret (menjual ceroboh dan teledor) diobati dengan “kemenyan”
Yang dimaksud kemenyan adalah “Ketrampilan Menjual dan Ramah”. Perlu peningkatan ketrampilan menjual, terutama dalam mengatasi keberatan pelanggan secara bijaksana.

Sebagai contoh:
Calon pembeli “Ceret ini kurang bagus dari aluminium”
Penjual “Justru lebih bagus, karena di samping anti karat, ringan dan lebih cepat masak”.

Contoh lain adalah sebagai berikut:
Calon pembeli “Meja ini kurang lebar”.
Penjual “Justru meja ini sangat menghemat ruangan yang sangat mahal pada saat ini”.

4. Kurap (kurang pemasok) diobati dengan “Surbek T”
Yang dimaksud Surbek T adalah “Survey ke banyak pemasok dan tempat lain”. Perlu melakukan survai ke pemasok lain. Meskipun sedikit perlu membeli barang di berbagai pemasok agar dapat membina hubungan, mengetahui perkembangan dan dapat dipakai sebagai pembanding. Memang tidak selalu satu pemasok buruk. Bila pemasoknya baik dengan mengadakan perjanjian tertulis yangterbuka, sangat banyak membantu pengusaha kecil, misalnya franchising.

Sebagai contoh sebagian besar pengrajin sepatu di suatu sentra di Jakarta ternyata belum pernah ke Mangga Dua suatu pusat grosir. Setelah melihat di sana, mereka terkejut, ternyata harganya jauh lebih murah daripada membeli di pemasok langganan sebelumnya.

5. Batuk (barang tunggal dan ketinggalan) diobati dengan “diatab”
Yang dimaksud diatab adalah “Diversifikasi Produk dan Tambah Barang”. Diversifikasi dijalankan dengan produk yang sejenis atau yang mendukung, jangan yang berbeda jenis, kemungkinan pengusaha akan mengalami kesulitan. Pada produk-produk tertentu perlu dilakukan perubahan model tiap suatu periode.

Sebagai contoh: pengrajin sepatu wanita merubah mode tiap dua minggu sekali. Pengusaha sprei juga merubah desain tiap dua minggu. Foto copy membuka penjilidan. Ganti oli mengembangkan usaha ke cuci mobil dan sebagainya. Kontraktor diversifikasi untuk renovasi rumah dan sebagainya. Kain tulis batik menjadi lukis batik. Gerabah untuk kebutuhan dapur diganti menjadi suvenir perhiasan.

6. Kutil (kurang trampil) diobati dengan “kurma”
Yang dimaksud kurma adalah “Kursus dan Magang”. Mengikuti baik pelatihan ketrampilan teknis maupun manajerial dan juga perlu mengikuti permagangan. Pengusaha juga harus bersedia mengirimkan bawahannya mungkin sampai berbulan-bulan untuk magang tanpa menghasilkan pada saat magang.

Sebagai contoh pengrajin tenun Palembang magang membuat prada di Yogya. Pematung daerah lain magang di Bali dan sebagainya.

7. Campak (campuran usaha dan keluarga) diobati dengan “oralit”
Yang dimaksud oralit adalah “Moral dan Iktikad”. Obat utama dari penyakit ini adalah moral, etika dan nilai yang baik, tidak hanya dipahami tetapi juga diterapkan. Tanpa hal ini banyak perusahaan tidak berkembang bahkan mengalami berbagai masalah.

Tanpa didasari moral yang baik, maka pelatihan manajemen keuangan, harga pokok produksi, pembukuan sesederhana apa pun dan sebagainya, tidak ada manfaatnya sama sekali. Umumnya, harga beli bahan, upah, harga jual sudah standar. Yang tidak standar adalah pengeluaran pribadinya. Pemilik tinggal mengatur pengeluaran pribadinya, karena ini satu-satunya pengeluaran yang tidak standar. Pengontrolan hanya bisa dilakukan dengan moral yang baik dan kuat. Bila pemilik sudah tertutup hatinya dan tidak dapat menerima masukan (umpan balik) dan tidak dapat mengontrol dirinya, maka perusahaan terus menerus dalam kesulitan.

Sebagai contoh seorang pengusaha telah menggaji dirinya perbulan dengan jatah tertentu. Bila pengusahanya atau isterinya atau anaknya mengambil uang dianggap utang yang akan dipotong dari gaji bulan depannya.

Penutup

Masih banyak penyakit lain misalnya penyakit kanker (kantong kering) di mana pengusaha kekurangan uang, yang hal ini dapat disebabkan karena akibat 7 penyakit sebelumnya, misalnya tidak ada pembeli, boros untuk pengeluaran pribadi dan sebagainya.

Ada juga pengusaha yang menderita “penyakit parah”, yaitu : pembelinya cuma satu (tuli), dijual oleh pemilik sendiri secara serampangan (mencret), menjual barang persis seperti barang yang dibeli tanpa nilai tambah (muntah), membeli barang di satu pemasok (kurap), barang yang dijual hanya satu jenis dan hanya itu-itu saja sekian lamanya (batuk), hanya punya satu ketrampilan, itupun tidak sempurna (kutil) dan mengambil uang perusahaan jauh lebih besar daripada untuk pengembangan usahanya (campak).

Ada juga yang mengobati sakit perusahaan hanya dengan satu obat semacam “segelas air putih” atau “sebutir pil dewa”, yang menyembuhkan semua penyakit. Sebagai contoh suatu lembaga training hanya memiliki satu paket kewirausahaan, dipakai untuk menyembuhkan semua penyakit, penjualan menurun, mutu produk yang jelek, kurang dana dan sebagainya. Ada lembaga lain yang hanya memiliki paket pelatihan motivasi, yang digunakan untuk menyembuhkan semua penyakit. Ada juga lembaga lain yang hanya memiliki paket manajemen usaha dan sebagainya. Lembaga seperti ini sebetulnya juga baru menderita penyakit batuk (barang tunggal dan ketinggalan) yang sangat parah tetapi mencoba mengobati orang lain.

Pengusaha kecil meskipun banyak yang berhasil, sebagian tidak berhasil. Untuk pengusaha yang belum berhasil dapat melihat di mana penyakitnya untuk melakukan penyembuhan. Dengan suatu usaha yang keras semua masalah semoga dapat diatasi.

*Tulisan dimuat di majalah Manajemen & Usahawan Indonesia No. 08 Th XXVI Agustus 1997. Hal. 55-59.

Yanto Sidik PratiknyoYanto Sidik Pratiknyo, Founding Member of International CEFE Association for Entrepreneurship, Frankfurt Germany
yantosp@yahoo.com

2 thoughts on “Tujuh “Penyakit” Pengusaha Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s