Saat Realitas Jadi Guru Terbaik

Banyak kalangan memandang bahwa ketika ide bisnis dipraktikkan, di situlah proses pembelajaran mulai berlangsung. Saya sepenuhnya sepakat dengan pandangan tersebut. Namun, bagaimana dengan mereka yang sedang menempuh pendidikan bisnis?

Di satu sisi, mereka mempelajari konsep dan teori, namun di sisi lain juga mereka harus mendapatkan pengalaman praktik di lapangan. Mengutip pandangan Kuratko (2012), seorang pendidik di bidang entrepreneur, ada satu hal yang dapat menjadi jembatan bagi siswa untuk mendapatkan ilmu sekaligus pengalaman, yakni inkubator.

Mengacu cara pandang ilmu manajemen modern, inkubator merupakan masa di mana seorang pebisnis menikmati tahap pembelajaran awal, sebelum memutuskan untuk terjun dan benar-benar menggeluti bisnis tersebut. Pada fase awal ini, setiap strategi yang telah dipelajari di kelas akan diujicobakan untuk mengetahui di titik-titik mana saja, adaptasi perlu dilakukan.

Nah, pola ini yang diterapkan pada kurikulum PPM School of Management. Dengan menerapkan kurikulum semacam itu, kami berharap para Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM) mampu memetik pengalaman berharga dari praktik di lapangan, mulai dari cara berinteraksi dengan berbagai stakeholder hingga trik menerapkan model bisnis yang direncanakan.

“Kami benar-benar belajar dari pengalaman, Pak,” tutur Syahri Ramadhan. “Betapa tidak, masalah pertama yang sudah harus kami hadapi adalah lahan yang akan digunakan untuk bisnis. Ternyata penempatan lahan kami salah, padahal kami sudah membangun kolam, Pak,” ucap Yehuda.

Masalah tanah memang cukup pelik. Bentuk persoalannya beragam, mulai dari surat tanah yang tidak lengkap, hingga batas-batas lahan yang kabur. “Nah, yang sempat membuat kami bingung adalah si empunya sendiri yang dahulu menunjukkan batas-batas lahan, ketika kami berminat membeli. Untung, kepala desa mau menjembatani masalah ini. Akhirnya, kami sepakat untuk menyewa lahan tersebut,” jelas Yehuda.

Satu poin pembelajaran yang dipetik dari masalah tanah itu adalah hubungan antara pebisnis dengan aparatur pemerintah setempat. Kisah di atas menunjukkan pebisnis harus senantiasa membangun relasi, tidak hanya dengan penduduk sekitar, melainkan juga dengan aparat di lokasi masing-masing.

Hubungan itu tidak cuma menyangkut masalah keamanan saja. Kenyataan yang ada di sekitar kita, suatu bisnis harus benar-benar bisa diterima oleh masyarakat yang ada di sekitarnya. Nah, relasi tersebut dapat berfungsi sebagai pintu awal bagi kelanggengan bisnis di masa depan.

“Setelah masalah lahan selesai, langkah berikut kami adalah menyebarkan benih lele, sesuai dengan rencananya, yaitu sebagai project testing,” ucap Syahri.

Kegunaan uji ini bersifat teknis. Ia bisa melihat beberapa indikator, seperti kesiapan lahan sebelum tebar benih hingga periode di mana pebisnis mulai menerapkan ilmu yang diperolehnya selama ini. ‘Kami juga belajar dari beberapa pembudidaya yang sudah malang melintang selama bertahun-tahun. Salah satunya Abimanyu,” ucap Syahri sambil tersenyum.

Nah, di titik inilah tampak pentingnya jejaring alias network dalam sebuah bisnis. Kita bisa membayangkan apabila Syahri tidak mempunyai network dalam bisnis tersebut. Mengingat, di sekolah manajemen mereka hanya mempelajari konsep dan trik pengelolaan bisnis, dan bukan pada tataran teknis. Padahal untuk berbisnis, kita tetap membutuhkan kombinasi dari kedua kemampuan tersebut.

“Saya siap membantu Pak,” tutur Abimanyu. “Sebab saya merasakan sendiri. Dulu ketika mengawali bisnis budidaya lele, saya juga belajar dari sesama pebisnis lele. Membaca berbagai buku budidaya lele yang ada di sejumlah toko, menurut saya, belum cukup. Harus benar-benar melihat dan melakukan praktik di lapangan,” ujar dia.

Inilah yang kami sebut dengan berbisnis dengan hati, suatu nilai yang ditanamkan di sekolah yang terletak di Jalan Menteng Raya Nomor 9-19, Jakarta Pusat, depan Tugu Tani. Setiap pebisnis diajak untuk memahami bahwa jejaring dan sifat saling membantu merupakan syarat mutlak dalam proses pengembangan bisnis. Pandangan tersebut memang berbeda dengan paradigma yang ada di saat sekarang. Pebisnis cenderung memandang pemain lain sebagai “musuh”, dan bukan mitra dalam bertumbuh.

Tak mudah memang menempatkan cara pandang tersebut. Terlebih, ketika tingkat persaingan dalam industri berjalan dengan sangat sengit. Namun, dengan menciptakan semangat untuk bertumbuh bersama dalam harmoni, niscaya pebisnis besar akan bersedia menjadi mentor bagi para pebisnis pemula.

Atmosfer semacam itu yang sebenarnya perlu dikembangkan di Indonesia. Selain bertujuan untuk menambah jumlah wirausahawan di bumi pertiwi, langkah itu mampu mengilhami ide-ide inovasi bagi kedua belah pihak. “Saat berbagi, saya malah mendapat ide-ide baru yang bisa menyempurnakan kegiatan budidaya lele saya Pak,” tutur Abimanyu. “Seakan-akan saya mengulang pelajaran yang dulu pernah didapat. Jadi dengan mengingat lagi, saya bisa memahami trik-trik yang harus disempurnakan saat ini,” tutur dia.

*Tulisan dimuat di Mingguan Kontan, 7-13 Oktober 2013 H. 33

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s