Mimpi Indah Tentang Indonesia

Saat penutupan kuliah pengembangan komunitas di Sekolah Tinggi Manajemen PPM (PPM School of Management) beberapa waktu lalu, ada sepotong kalimat yang hingga kini mengganggu pikiran saya sebagai pendidik. Seorang anak berusia enam tahunan bersama kelompoknya membawakan operet pendek yang berkisah tentang harmonlsasi hidup di Indonesia.

Pada adegan pertama diperlihatkan indahnya alam nusantara lengkap dengan hijaunya pegunungan. Selanjutnya terlihat sebuah rumah mungil yang terbingkai oleh spektrum pelangi. “Dari rumah inilah akan tumbuh seorang pemimpin Indonesia yang mampu mewujudkan impian rakyatnya. Inilah impian kami,” ungkapnya sembari menatap tajam barisan depan kursi yang diduduki sejumlah dosen pendamping.

Meski terkesan sederhana, namun kalimat tersebut menyimpan makna yang mendalam. Anak kalimat yang menyebutkan “inilah impian kami” secara langsung menyiratkan bahwa realitas kini belumlah sesuai dengan apa yang disiratkan dalam induk kalimat. Dengan bernada jUjur dan polos, pernyataan tersebut tentunya sangat beralasan. Betapa tidak, hampir setiap hari publik di nusantara, disuguhi informasi yang mengisahkan sepak terjang beberapa pemimpin yang diduga kuat melanggar hukum. Ini tentunya bukanlah contoh yang baik bagi generasi mendatang.

Menjadi pemimpin negara memang sangat kompleks, perbedaan cara pandang sering menciptakan kesulitan untuk dapat mengakomodasi setiap kepentingan warga negara. Namun setidaknya ada satu kepentingan bersama yang harus dipenuhi, yakni cita-cita nasional; mewujudkan kesejahteraan umum.

Berpijak pada perspektif manajemen, untuk dapat mewujudkan visi diperlukan integritas dan komitmen yang tinggi dari pemimpin. Sejumlah literatur bahkan secara eksplisit menyatakan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin besar, individu harus mengalami self-trancedence; melupakan dirinya untuk menanggung beban tanggung jawab lain yang lebih besar. Proses ini pulalah yang oleh para rahib dikenal dengan pemahaman abnegatio sui. Sebuah spirit yang menciptakan komitmen untuk hidup pada cita-cita luhur.

Cara pandang di atas seharusnya bUkan hal baru bagi kita. Spirit abnegatio sui sudah beraba-abad lalu diajarkan dalam dandanggula dengan istilah “mati sajroning urip”, suatu pemahaman dimana seorang individu tak lagi melihat kepentingan pribadinya sebagai hal yang harus dipenuhi melainkan kepentingan bangsanya.

Dalam konteks ini disimpulkan bahwa integritas pemimpin baru akan muncul ketika ia memahami benar taklimat sumpah jabatan yang diucapkan ketika dilantik. Momen itu dipahami sebagai titik balik kehidupan seorang pemimpin. ‘Ia tak lagi hidup untuk diri dan keluarganya, melainkan bagi bangsa dan negaranya.

Tengoklah kesatuan integritas dan komitmen yang timbul di antara pemimpin bangsa ketika Indonesia masih berjuang meraih kemerdekaan. Ada banyak kepentingan prihadi yang terpaksa harus dibawa hingga ajal menjelang karena semasa hidup hanya terfokus pada upaya mencapai kemerdekaan. Pertanyaannya kini, mengapa kita tak bisa meniru jejak langkah mereka?

Dalam penelusuran lebih lanjut, kini perjuangan bangsa ada di bidang penguatan eksistensi negara di antara persaingan global.Untuk itu kehadiran pemimpin yang telah mengalami transendensi diri serta cerdik dalam menyusun strategi mutlak dibutuhkan. Kedua kapabilitas tersebut diyakini akan membawa Indonesia pada cita-cita luhurnya sebagai bangsa dan negara, khususnya dalam mengayomi rakyatnya.

Terakhir, mewujudkan mimpi indah tentang Indonesia tak hanya menjadi kewajiban para pemimpin negara, melainkan juga segenap pemimpin bisnis di nusantara. Transendensi diri juga hendaknya dimiliki oleh para pemimpin di dunia industri. Pemahaman bahwa jabatan yang diemban merupakan amanah dari sang pemberi hidup  hendaknya dipahami sebagai esensi dasar dalam kepemimpinan strategis di perusahaan.

Melalui kebijakan manajemen dan strategi bisnis yang berorientasi pada kesejahteraan karyawan serta pelestarian alam nusantara niscaya langkah Indonesia dalam mencapai visinya akan lebih mudah. Semoga kita mampu mewujudkan impian anak-anak tersebut. Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 8 Oktober 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s