Inovasi Organisasi Ciptakan Daya Saing

Diskusi singkat yang mencermati hasil penelitian tentang inovasi pada perusahaan-perusahaan di Indonesia beberapa saat lalu menyimpulkan dua hal penting.

Pertama, bahwa upaya menggiatkan aktivitas inovasi di dalam perusahaan bukanlah hal yang sederhana. Selain karena waktu yang dibutuhkan bagi kesuksesan inovasi cukup panjang, 99 dari 100 perusahaan di dunia diyakini mengalami kegagalan dari inovasi perdananya.

Itulah yang membuat manajemen memutuskan untuk ‘menggeluti’ lebih dalam program inovasinya sehingga pada percobaan yang kesekian kalinya akhirnya prestasi itu dapat dengan mudah diraih. Samsung merupakan salah satu contoh perusahaan yang berhasil dalam konteks ini.

Simpulan kedua adalah bahwa inovasi diyakini berasal dari tautan dan kolaborasi pola pikir para profesional di dalam perusahaan. Dengan kata lain inovasi merupakan hasil dari pengelolaan manusia (innovation is about managing human) dalam konteks organisasional perusahaan.

Semakin kuat dukungan organisasi agar segenap karyawan mampu dan berani secara konsisten menumpahkan ide-idenya, maka makin besarlah peluang perusahaan untuk mencetak prestasi dalam inovasi.

Dukungan organisasi ini sangat bervariatif, mulai dari langkah penyederhanaan sistem birokrasi yang dianut manajemen hingga upaya teknis dalam menciptakan atmosfer kerja yang mendukung inovasi. Kebebasan dalam berkarya yang oleh sebagian perusahaan dipahami sebagai hal yang tabu, kini mulai dilirik sebagai langkah awal dalam menciptakan ide kreatif.

Studi yang dilakukan Kuratko di Amerika Serikat pada 2011 menunjukkan bahwa inovasi berawal dari pertemuan non formal yang terkadang tidak terkonsep dengan jelas serta lingkungan kerja yang memungkinkan individu merasa sangat nyaman.

Dalam realitasnya, dukungan di atas mutlak membutuhkan inovasi organisasi dari manajemen. Tak jarang bahkan di beberapa perusahaan domestik, langkah inovasi ini dilakukan dengan mengubah paradigma serta struktur organisasi perusahaan. Mekanisme formal diubah menjadi non formal. Meski pola ini masih menjadi perdebatan, namun studi menunjukkan bahwa formalitas pada titik tertentu berhasil ‘membunuh’ ide-ide kreatif.

Senioritas dan kompetisi divisional yang oleh paradigma manajemen 80-an dipercaya membawa perusahaan pada posisi puncak di pasar kini dipahami sebagai kendala terkuat dari keberhasilan proses inovasi.

Persaingan antar direktorat atau divisi ternyata telah memicu budaya individualis yang menghilangkan prinsip kolaborasi di dalam perusahaan. Padahal jika dilihat secara helicopter view, mekanisme kolaborasi menjunjung tinggi prinsip global optima; satu divisi sebagai pencipta pendapatan, yang lain bisa jadi pencipta biaya. Namun dengan kerja sama yang efektif di antara keduanya perusahaan akan mampu mencapai skala ekonomis.

Hal lain yang menarik untuk dicermati adalah bahwa sukses tidaknya inovasi organisasi ternyata turut dipicu oleh keberanian manajemen puncak dalam mengatakan ‘YA’ pada proyek-proyek inovasi.

Meski secara statistik ditemukan insignifikansi antara peran manajemen puncak terhadap inovasi, namun temuan menunjukkan bahwa restu manajemen puncak pada manajemen madya untuk melakukan inovasi berujung pada teraihnya prestasi bagi perusahaan.

Realitas tersebut dipandang cukup beralasan mengingat di beberapa perusahaan, manajemen harus mengambil langkah mencermati misi dan visi perusahaan untuk memberikan ruang gerak lebih luas kepada proyek inovasi. Ini merupakan langkah yang sangat strategis tentunya. Karenanya, inovasi organisasi diyakini membutuhkan stabilitas kepemimpinan di dalam perusahaan sebagai persyaratan mutlak.

Pernyataan terakhir di atas bagi sebagian kalangan mungkin bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Namun mengingat keberanian manajemen sangat menentukan jalan tidaknya proyek inovasi, maka mempertahankan kepemimpinan yang merestui inovasi dinilai sebagai langkah yang bijaksana.

Temuan ini tentunya memberikan referensi tambahan bagi investor di pasar modal. Bila perspektif fundamental yang digunakan niscaya keberhasilan dan keberanian manajemen dalam melakukan inovasi organisasi akan menambah peluang keberhasilan perusahaan di masa depan. Tak hanya itu, jika pola ini berhasil dilakukan oleh sejumlah perusahaan domestik, niscaya akan tercipta daya saing nasional di pasar global.

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 9 Oktober 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s