Indonesian Corporate Survival and Reform

“Indonesian Co’rporate Survival and Reform” yang kebetulan menjadi tema utama dalam rangkaian seminar PPM-Week ke-34, sekaligus diangkat sebagai judul artikel ini, jika kita renungkan secara mendalam, ternyata bisa dimulai dari pemahaman yang benar mengenai otonomi daerah.

Seperti terlihat pada gambar di bawah ini, pelaksanaan otonomi daerah bisa berhasil jika didukung adanya Good Corporate Governance (GCG) , apalagi jika kemudian GCG tersebut bisa menjelma sebagai sebuah budaya, baik dalam skala mikroperusahaan, maupun makro-negara.

Selanjutnya, apabila ketiga hal tersebut telah berjalan dengan baik dan benar, maka akan dengan sendirinya, kita bisa go international, karena memang itulah tuntutan yang terjadi saat ini. Tentunya, untuk memenangkan persaingan, kita sangat membutuhkan seorang pemimpin yang tepat, tidak hanya untuk masa turbulence ini, tetapi pemimpin yang mampu menarik masyarakat, perusahaan, maupun bangsa menuju arah yang ditetapkan. Jadi, bagaimana mencapai “Indonesian Corporate Survival and Reform”, kuncinya ada di pemimpin, tetapi untuk memulainya, kita bisa berpijak dari otonomi daerah (lihat Gambar).

mwa 1

Mengartikan Otonomi Daerah Secara Lebih Dalam

Berbicara mengenai otonomi daerah, masih banyak orang yang menafsirkannya secara dangkal dengan menerjemahkan otonomi daerah seolah-olah penyerahan wewenang ataupun kewenarigan semata. Padahal, jika ditafsirkan lebih jauh, otonomi daerah berarti upaya untuk melakukan pemberdayaan daerah. Tetapi, pemberdayaan daerah yang dimaksudkan, konteksnya tetap dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, jadi sasarannya tetap untuk kepentingan nasional.

Ilustrasi yang mudah untuk menggambarkan otonomi daerah ini, bisa diibaratkan sebagai sebuah hubungan dalam keluarga, dimana orang tua ibarat pemerintah pusat yang sedang memberdayakan anak-anaknya, yaitu daerah-daerah (provinsi). Dan tentu saja sebagai orang tua yang baik, dia harus menyadari bahwa masing-masing anak memiliki potensi yang berbeda-beda, ada yang tinggi, sedang, maupun kurang.

Oleh karena itu, peran orang tua di sini adalah bagaimana mencoba memberdayakan anak-anaknya sesuai potensinya masing-masing secara optimal. Selain itu, orang tua juga harus sedapat mungkin memotivasi, memonitor, dan mengawasi saat anak-anaknya menjalani proses pemberdayaan atau pemandirian. Sedangkan proses pemberdayaan itu sendiri, dimulai dari saat anak itu lahlr, belajar telungkup, merangkak, mengenaI warna, berbicara, sampai anak itu berjalan dan ditumbuhkembangkan hingga mencapai kemandirian yang sesungguhnya.

Setelah itu dia bisa menjadi center untuk menumbuhkembangkan apa yang ada di sekitamya. Atau dengan kata lain orang tua harus memberdayakan anak-anaknya dari “tidak bisa apa-apa” sampai “bisa apa-apa”, dan untuk ini pun orang tua harus membekali dirinya dengan orientasi jangka panjang, yang artinya apabila anak-anak telah berhasil diberdayakan secara optimal sesuai potensinya, maka kelak mereka akan menjadi orang-orang yang berguna tidak saja bagi dirinya, keluarganya, tetapi juga bangsanya,

Kalau ini yang terjadi, maka yang senang tidak hanya anak itu sendiri, tetapi juga orangtuanya dan bahkan saudara-saudara iainnya, termasuk orang-orang yang ada di sekitamya. Dan kembali lagi ke konteks otonomi daerah, kita harus mencoba memberdayakan daerah sesuai potensinya masing-masing secara optimal.

Sebetulnya yang namanya ekspektasi masyarakat, yaitu agar pembangunan di daerah dilakukan secara berimbang, bukanlah sesuatu yang berlebihan, karena jika mereka kita berikan kesempatan berkembang sesuai potensi pertumbuhannya, maka mereka pasti akan tumbuh dan berkembang sesuai potensinya masing-masing, sesuai batasannya.

Di sinilah kita mencoba mengidentikkan otonomi daerah seperti itu, sehingga kalau misalkan otonomi daerah ini bergerak atau berjalan, sehingga setiap daerah bisa mandiri, dan menghasilkan sesuatu secara optimal sesuai dengan yang kita harapkan, berkembang sesuai potensinya, maka inilah titik awal yang sangat baik sekali. Ibaratnya, saat kita mengajari anak kita berjalan, maka hasilnya sangat tergantung kepada kita, apakah kita terlalu berlebihan atau kurang saat mengawasi mereka.

Kuncinya adalah bagaimana pemerintah pusat mempunyai sikap bijak sebagai orang tua, sekaJigus punya motivasi untuk mengembangkan anak-anaknya, sehingga masa depan anak-anaknya atau keiuarganya bisa dinikmati oleh semuanya. Jadi sekali lagi, pengertian otonomi daerah bukanlah perebutan wewenang maupun perebutan kekuasaan, tetapi lebih kepada bagaimana orang tua mulai melepas anak-anaknya secara mandiri.

Membangun GCG dan Membudayakannya Menuju Go Global

Untuk mewujudkan kemandirian tersebut, kita harus memiliki GCG, sebagai konsekwensi karena kita menggunakan modal ekstemal, memakai uang orang lain yang bukan dari bangsa kita sendiri, sehingga sudah pasti si pemberi dana meminta jaminan kepastian, agar dananya bisa digunakan secara tepat dan efisien, atau dengan kata lain manajemen melakukan yang terbaik untuk perusahaan.

Lebih jauh lagi, jika kita sadar bahwa setiap kekayaan yang dimiliki oleh bangsa ini bisa dimanfaatkan dengan baik, dikembangkan dengan baik, maka sebagai khalifah yang baik, mestinya kita tidak harus menunggu sampai krisis, atau pun menunggu sampai orang lain mengulurkan tangannya, menanamkan modalnya, sehingga mereka yang akhimya memaksa kita untuk berbuat produktif.

Nah! ini sebenamya yang diatur dalam Corporate Governance (CG) , yaitu bagaimanakita bisa berbuat produktif dalam menggunakan sumber daya, karena adanya dana dari luar. Dan tidak ada artinya jika baru sebatas CG saja tanpa Good, seperti dikatakan Ria BWS Sidabutar, Direktur Bank Danamon dalam artikel “Mengimplementasikan GCG Dalam Sistem lnternaI Perusahaan” (hal. 30-31). Karena CG yang dituju haruslah yang GCG.

Selanjutnya, saat memberdayakan GCG, makayang sangat penting, adalah dapat dibangunnya sebuah budaya perusahaan, yaitu budaya yang memastikan bahwa misi dan visi perusahaan benar-benar dapat tercapai. Atau bisa disebut juga sebagai budaya produktif, yaitu budaya dimana seluruh komponen yang mendukung operasi perusahaan (misal SDM, SDA, modal, mesin) harus berupaya secara produktif, mengarah kepada sesuatu yang bisa diandalkan, reliability.

Tentunya, dengan budaya produktif ini, kita mencoba untuk mencapai tingkat keandalan dari segala sisi. Selama sikap kerja kita produktif, dan kita reliable dalam melaksanakan segala sesuatu, maka sebenarnya untuk go global, masalahnya hanya penyesuaian saja. Karena begitu kita ketemu dengan orang-orang yang berbeda, maka sikap kita harus adaptif, harus fleksibel di lingkungan yang multi-cultural.

Untuk bangsa Indonesia, sebenamya bukanlah sesuatu yang aneh, karena kita sudah global sebelumnya, yaitu dengan adanya multi bahasa, multi-kultur antara berbagai suku, tetapi mengapa kenyataannya kita justru terpuruk saat ciri global diberlakukan sebagai kunci sukses persaingan? Jawabannya adalah karena kita tidak mencoba me-maintain toleransi kita, adaptasi kita, sikap produktif kita, sehingga pada saatnya diperlukan, kita terpuruk.

Jadi saat isu global ini muncul, harusnya kita yang sudah memiliki kompetensi di sana, sangat bervariasi suku bangsanya, bisa menjadi negara yang leading di era globalisasi. Tidak terpuruk seperti sekarang ini. Dan itu semua sebenarnya sangat tergantung kepada leader-nya.

Seperti apa sebenarnya pemimpin yang kita perlukan? Jelas sekali, kita memerlukan pemimpin yang mampu melihat ke depan, menentukan visi dan misi yang tepat, bisa menggerakkan, bisa memberi manfaat bagi banyak orang, dan selalu proaktif baik saat membangun kultur maupun saat pemberdayaan SDM-nya.

Khusus untuk menghadapi masa turbulence ini, maka kunci utamanya adalah cepat dan fleksibel, karena perubahan yang terjadi di masa ini pun demikian cepatnya. Dan terakhir, kita butuh seorang pemimpin yang bisa menggerakkan semua resources-nya mengarah kepada satu tujuan yang ingin dicapai, dan sampai sekarang pun kita tetap harus mencari pemimpin-pemimpin yang seperti itu.

*Tulisan dimuat di majalah Manajemen No.156 Agustus 2001, H. 26-27

Makfudin W.A.-01000032Makfudin Wirya Atmaja, MSM
Staf Prolesional Lembaga Manajemen PPM
MWA@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s