Inovasi di Fase Awal Bisnis

Buku-buku manajemen modern menyatakan dengan jelas bahwa salah satu pencipta daya saing adalah inovasi. Bentuknya bisa berupa inovasi produk, proses, organisasi dan pemasaran.

Satu hal yang menarik untuk dicermati adalah inovasi mutlak dibutuhkan di setiap fase bisnis, mulai saat bisnis masih dalam tahap prematur hingga ia memasuki tahap pertumbuhan. Jenis inovasinya saja yang dibedakan.

Temuan itu sekaligus mematahkan hipotesa yang mengatakan bahwa aktivitas inovasi hanya dibutuhkan saat bisnis mulai memasuki fase pertumbuhan. Selain karena tingginya biaya inovasi, keahlian dalam bisnis yang prematur disebut-sebut menjadi penyebab kegagalan perusahaan mengimplementasikan ide-ide kreatifnya di fase awal.

“Inovasi kami ada pada inovasi proses, Pak,” tutur Syahri. “Hal ini disebabkan karena faktor risiko yang cukup tinggi pada usaha budidaya lele. Cara pemeliharaan yang salah dapat menyebabkan penurunan hasil panen. Mengingat keuntungan yang relatif tipis, kami harus mampu menjaga fase pembesaran agar hasil panen sesuai dengan target,” imbuh dia.

Secara konseptual, inovasi proses dipahami sebagai sebuah aktivitas yang direncanakan berdasarkan ide-ide kreatif terkait proses produksi dan bisnis perusahaan. Selain untuk meningkatkan efisiensi, inovasi proses juga sering digunakan sebagai media dalam menciptakan inovasi produk.

“Kami percaya bahwa setiap bisnis pasti memiliki potensi dalam meraih profit. Tinggal, bagaimana caranya memperlebar jarak antara hasil penjualan dengan biaya-biaya yang timbul,” tutur Syahri.

“Benar juga sih Pak. Pengalaman saya di lapangan menunjukkan, apabila fokus kita hanya ke upaya peningkatan nilai penjualan, hasil akhirnya dapat dengan mudah ditebak. Laba bersih meningkat karena prestasi penjualan. Jika produk kita secara kontinyu dilirik konsumen, terlebih dalam jangka panjang, memang tidak ada masalah. Tetapi kalau penjualan produk sangat bergantung pada musim, inovasi proses menjadi sangat penting,” tutur Intan Kusuma Fauziah, seorang anggota dari Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM) yang telah menjalankan dua toko online. Vanilla Hijab adalah salah satunya.

Budaya Kesantunan

Nah, pertanyaannya kini, bagaimana inovasi proses dilakukan pada bisnis yang baru memasuki fase awal. Salah satu hasil riset yang dilakukan di Sekolah Tinggi Manajemen PPM melalui Centre of Innovation and Collaboration menunjukkan bahwa di antara sekian banyak variabel yang diteliti, kepemimpinan tingkat madya sangat menentukan tingkat keberhasilan inovasi. Dengan kata lain, dalam fase awal bisnis, keberanian pemilik untuk mengatakan “ya” pada inovasi, akan menentukan prestasi yang diraih.

Meski bukan hal yang sederhana, namun harus diakui ada banyak jalan untuk menggapai kesuksesan dalam inovasi. Pertama, pebisnis hendaknya memotret secara jelas proses bisnis yang tengah ia jalankan, mulai dari siapa saja pemasok atau calon pemasok potensial perusahaan (tentunya mereka yang mampu memberikan penawaran terbaik).

Sekilas memang terlihat sederhana. Namun jika ditelaah lebih dalam, menemukan calon pemasok yang memberikan penawaran terbaik dibandingkan dengan pemasok yang dimiliki perusahaan saat ini, bukan hal yang mudah.

Pebisnis harus jeli dalam memanfaatkan setiap peluang yang muncul dari jejaring yang ia miliki. Jadi, tugas pertama pebisnis adalah memperluas jejaring (networking), mulai pemasok hingga, bahkan, sesama pemain. Apakah ini berarti harus berkolaborasi dengan pesaing?

Jawabnya tentu ya. Ini merupakan konsep yang laris sejak dunia menerapkan aturan main perdagangan bebas. Realitasnya, kolaborasi ditunjukkan melalui aliansi antara pemain senior dengan pemain baru.

Selain transfer ilmu, pola ini juga dipahami sebagai media yang efektif untuk menanamkan “budaya” kesantunan di antara pemain. Jika pola itu benar-benar efektif, maka pemain di industri itu akan mematuhi etika bisnis.

Kedua, pebisnis harus paham benar proses produksi perusahaan. Ini lebih mudah dilakukan apabila pebisnis mampu mengolaborasikan pengalamannya dengan pengalaman seniornya. Kuncinya hanya satu; di tahapan mana saja efisiensi dapat dilakukan.

Ketika bisnis memasuki fase awal, memang ada banyak hal yang harus dipelajari. Kerugian yang terjadi di fase ini hendaknya dianggap sebagai pelajaran yang sangat berharga. Studi menunjukkan dari percobaan 100 kali proyek inovasi, yang berhasil mungkin hanya 1.

Ini membuktikan bahwa pebisnis harus terus-menerus mengupayakan agar semangat inovasi membara. “Harus ada pemahaman bahwa ide-ide inovasi sering berasal dari hal-hal kecil,” tutur Intan.

Jika di satu proyek, inovasi gagal, maka pebisnis harus segera bangkit untuk menyiapkan kesempatan kedua. “Terlebih di bidang fashion, Pak. Saya menyimpulkan bahwa kejelian membaca peluang pasar merupakan langkah awal bagi datangnya rupiah di hari-hari mendatang,” tutur Intan.

Hal itu sangat tepat. Untuk itu, kolaborasi di antara sesama pebisnis baru mutlak diperlukan. Upaya saling mengisahkan pengalaman pahit di lapangan merupakan pembelajaran jitu bagi masing-masing pihak. Inilah semangat yang ditanamkan di sekolah manajemen yang terletak di Menteng Raya Nomer 9-19, depan patung Tani Menteng Jakarta Pusat.

*Dimuat di Mingguan Kontan,14 Oktober-20 Oktober 2013 H. 21

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s