Saat Kolaborasi dan Inovasi Berpadu

Persaingan dalam era perdagangan bebas saat ini harus diakui cukup kompleks. Di satu sisi, pemain lokal tengah berupaya memperkuat lini depan pasukannya. Di sisi lain, kondisi ekonomi global yang dipengaruhi oleh kebijakan dalam negeri Amerika Serikat (AS) tak lagi kondusif.

Nilai tukar rupiah yang melemah dan dibarengi dengan kenaikan laju inflasi memberikan dampak yang cukup signifikan pada orientasi konsumen di pasar. Pada kelas tertentu, sebagian konsumen di Indonesia bersikap, lebih rasional dan price sensitive.

Tak ayal, serbuan produk asing yang berhasil mengusung kewajaran antara harga dan kualitas telah mendapat ‘tempat’ di hati konsumen lokal. Nah dalam kondisi tersebut; strategi apa yang paling tepat agar tetap eksis?

Jawabannya cukup sederhana: lakukan inovasi. Strategi ini oleh sebagian besar literatur manajemen dipahami sebagai sebuah mekanisme di mana perusahaan melakukan terobosan yang mampu meningkatkan produktivitas kerja. Buah dari proses tersebut adalah produk kualitas tinggi dengan harga terjangkau. Bekal efisiensi dan efektivitas mampu menghasilkan produk yang tak kalah dengan produk impor.

Secara konseptual, inovasi dikategorikan ke dalam beberapa kelompok: inovasi produk, inovasi proses, inovasi organisasidan inovasi pemasaran. Meski setiap kelompok memiliki kekhasannya sendiri, namun semuanya membutuhkan sebuah kesatuan langkah.

Sebagai contoh, penciptaan ide-ide kreatif untuk meningkatkan kinerja produk didasari oleh dukungan positif mulai dari penciptaan budaya inovasi sebagai nafas kehidupan perusahaan, dukungan modal yang kuat, serta kerja sama di antara departemen.

Tak hanya itu, kerja sama serta sinergi antardivisi atau unit bisnis perusahaan mutlak dibutuhkan untuk meraih kesuksesan dalam menjalankan proses inovasi. Meski beralasan, akan timbul pertanyaan: apakah skema persaingan yang selama ini diciptakan antar divisi atau unit bisnis harus digantikan dengan pola kerja sama?

Jawabannya sudah pasti ‘YA’.  Di beberapa studi terkait inovasi (seperti yang dilakukan Center of Innovation and Collaboration PPM Manajemen) ditemukan fakta bahwa ketika manajemen mendudukkan setiap unit bisnis dalam konteks persaingan di dalam perusahaan secara otomatis setiap divisi akan memandang unit lain sebagai pesaingnya. Oleh karenanya, terkadang langkah ‘menjegal’ divisi lain demi euphoria kemenangan sesaat tak dapat dihindari.

Hasilnya sudah dapat diprediksi: divisi pemenang akan dikenal dengan panggilan revenue generator, sedangkan divisi yang tak mampu unjuk gigi akan disebut cost centre.  Artinya, bila memang di dalam sebuah kelompok harus ada divisi yang merugi agar divisi lain mampu menciptakan keuntungan, maka seharusnya kedua belah pihak dapat berkolaborasi.

Inilah semangat yang diusung oleh konsep global optima, sebuah konsep yang mengajarkan kita akan arti penting kolaborasi antar unit bisnis untuk meraih kinerja optimal perusahaan secara keseluruhan. Lalu manakah yang harus digagas di dalam perusahaan terlebih dahulu; inovasi atau kolaborasi?

Temuan di lapangan menunjukkan bahwa inovasi akan lahir, dari kolaborasi yang ejektif. Selanjutnya, kolaborasi yang efektif mutlak membutuhkan dukungan budaya kerja yang kuat. Tengoklah bagaimana Google berhasil mengubah budaya kerjanya menjadi sangat kolaboratif.

Melalui cara pandang dan komitmen yang kuat akan keberhasilan di kemudian hari, setiap divisi memandang divisi lain sebagai mitra kerja dalam menumbuh kembangkan perusahaan. Sehingga, ketika perusahaan bertumbuh, ‘di titik itu nilai diri setiap projesional yang bekerja di dalamnya juga turut bertumbuh. Tak hanya itu, semangat kerja itu juga, akan berorientasi pada terciptanya ide-ide baru yang akan membawa perusahaan pada posisi puncak.

Hal lain yang tak kalah hebatnya adalah fakta bahwa kolaborasi yang efektif juga terjalin melalui kerja sama perusahaan dengan para pesaing dan institusi pendidikan (khususnya untuk kepentingan penelitian dan pengembangan).

Langkah ini diyakini sebagai stimulus dalam memperkenalkan produk sekaligus menciptakan pasar secara lebih cepat., Namun, satu hal yang disayangkan adalah bahwa masih sedikit perusahaan di Indonesia ,yang mampu memanfaatkan kolaborasi tersebut.

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 16 Oktober 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s