Bagaimana Mengembangkan Produk yang Sukses

Produk menjadi bagian penting dari strategi bauran pemasaran yang diterapkan pelaku industri. Produk baru yang berhasil di pasaran, mampu memberikan keuntungan signifikan dan terus meningkat sesuai dengan harapan. Namun, jumlah produk baru yang berhasil tidaklah banyak.

Riset yang dilakukan oleh R&D Magazine dan disampaikan oleh Crawford, M. & Benedetto, A.D., 2008, menyebutkan produk hasil inovasi breakthrough yang mengubah hidup kita, misalnya Personal Computer, microwave oven, mesin photocopy atau Laser Surgery. Hingga saat ini jumlah hasil inovasi breakthrough ini tidak lebih dari 30 inovasi saja.

Inovasi incremental ternyata lebih banyak dipilih oleh kalangan praktisi industri, karena murah, cepat dan mudah. Inovasi ini hanya mengubah kemasan produk, menambah ingredient atau menambah aroma saja. Praktisi industri lebih memilih inovasi incremental karena merka mau menjadi yang pertama masuk ke pasar (first mover advantage). Faktor waktu menjadi pertimbangan utama ketika memilih inovasi incremental.

Namun, menghadapi pasar yang dinamis dan cenderung tidak dapat diprediksi kebutuhan dan keinginannya, jaminan keberhasilan sebuah produk baru semakin tidak bisa dipastikan. Berbagai penyebab menghantui produk baru gagaI di pasaran. Salah satu penyebanya adalah, kurangnya kompetensi tim pengembangan produk baru, sehingga produk yang dihasilkan tidak memiliki keunikan yang menjadi nilai unggul yang mampu membedakannya dengan produk pesaing.

Nilai unggul adalah kemampuan produk memberikan manfaat dan proposisi nilai kepada customer atau pengguna. Dalam proses tahapan pengembangan produk terkini, disebut State-Gate System, dimana konsumen dilibatkan mulai dari tahap awal pengumpulan ide (idea generation) sampai dengan tahap peluncuran produk di pasar (launching).

Perlunya untuk mengetahui apakah produk baru yang dihasilkan sudah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar juga dikemukakan oleh dr. Boen, Chairman dan Founder Grup Kalbe Farma. Dr. Boen bahkan mengemukakannya sebagai syarat produk untuk sukses di pasar (Jonatan, S., 2007).

Pemain global seperti IKEA, furniture retailer asal Swedia, yang sangat memahami pasar sasaran kelas menengah hingga melewati batas negara, berupaya mengidentifikasi kebutuhan konsumen yang belum diketahui selama ini dan membuat produk dengan desain yang dibutuhkan. Didukung dengan sistem logistik global hingga semakin melengkapi value delivery yang diterima oleh konsumen.

Perlunya pengetahuan dalam pengembangan produk baru tidak terlepas dari pengelolaan produk baru itu sendiri (new product management), yang merupakan kombinasi antara art dan science. Pengertian art berlandaskan pada intuisi, hunch, gut feeling yang dibentuk dari pengalaman dan pengetahuan (Kurnia, 2007). Intuisi saja tidak cukup, perlu dilengkapi dengan science, melakukan tahapan pengembangan produk baru yang secara konseptual dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, produsen juga perlu mempersiapkan diri ketika meluncurkan produk ke pasar. Di awali dengan membuat rencana pemasaran yang mencakup studi awal mengenai industri dan pasar yang akan dimasuki, sasaran yang dituju dan strategi pemasaran untuk mencapainya.

Strategi meliputi strategi produk, harga, distribusi maupun promosi. Semua strategi disusun secara menyeluruh namun dapat diimplementasikan (feasible). Identifikasi pesaing juga perlu dilakukan untuk memahami peta persaingan dan meminimalisasi risiko yang akan dihadapi.

Kinerja produk baru bisa diamati dari siklus hidup produk, di awali dari introduction. Di tahap ini perusahaan mengeluarkan biaya cukup besar untuk menjalankan strategi pemasaran.

Berikutnya adalah tahap growth, penjualan produk mulai beranjak naik sesuai harapan dan terus meningkat hingga mencapai tahap mature. Di tahap ini, perusahaan telah menikmati keuntungan dan perlu terus menyusun strategi bertahan agar pangsa pasar yang telah diraih tidak turun.

Siklus produk berikutnya adalah tahap decline, volume penjualan produk dapat semakin menurun, dapat diakibatkan persaingan atau ditinggal pembelinya karena perubahan gaya hidup atau kebutuhan.

Tidak selamanya siklus produk bisa meningkat dengan mulusnya, kadang bisa meluncur bebas ke tahap decline tanpa menghasilkan keuntungan. Kondisi nightmare yang membuat sengsara pemasar.

Namun, bila pengetahuan akan pengembangan produk semakin mumpuni, perencanaan peluncuran produk ke pasar semakin matang dan keunggulan dari sebuah produk bisa dihasilkan maka kondisi ini bisa dihindari dan produk mampu menjadi produk berkualitas, mampu memenangi persaingan dan menghasilkan keuntungan sesuai dengan harapan perusahaan.

*Tulisan dimuat di majalah Marketing Edisi 09/XIII/September 2013. H.107.

Pepey RiawatiDr. Pepey Riawati Kurnia. Koordinator PDMA Indonesia
prk@ppm-manajemen.ac.id, kurniapepey@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s