Berkolaborasi dengan Masyarakat

Dalam bisnis, kita mengenal istilah “walk the talk.” Kalimat itu dipahami sebagai komitmen untuk menjalankan apa yang telah diucapkan. Itulah semangat yang dibangun oleh Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM).

Bermodal pengetahuan di bidang manajemen serta praktik di lapangan melalui mata kuliah pengembangan komunitas alias community development, beberapa anggota PPM terlihat asyik menyiapkan laporan akhirnya. “Duh banyak yang harus disiapkan Pak,” tutur Syahri, seorang anggota PPM yang aktif dalam budi daya lele.

Sebagai Ketua Kelompok Usaha Mahasiswa Untuk Rakyat (UMARA), tahun ini Syahri dan delapan orang rekannya memperoleh tugas untuk membantu ibu-ibu PKK di salah satu daerah di Gondangdia, Menteng.

“Tantangannya cukup berat Pak mengingat ibu-ibu telah mempunyai kelompok yang menjajakan jasa katering. Jumlah pesanan yang minim serta masalah kontrol kualitas yang terus menghantui, merupakah masalah dasar yang wajib terpecahkan selama community development ini,” ujar Syahri sembari memperlihatkan tayangan slide kelompoknya satu per satu.

Terbayang jelas kompleksitas yang tengah mereka hadapi. Di satu sisi, proyek pengembangan komunitas harus berjalan. Ini berarti, mereka harus benar-benar mampu memberikan dampak positif bagi mereka yang dibina, mengingat penilaian dari kelompok binaan turut menentukan kelulusan mereka.

Di sisi lain, inkubator bisnis setiap anggota PPM mulai dihadapkan pada riak-riak permasalahan, mulai masalah yang dipicu kekuatan eksternal, hingga masalah dimensi diri seperti semangat yang naik-turun hingga problem pribadi yang seringkali mengusik konsentrasi usaha.

Dalam kegiatan pengembangan komunitas, kelompok UMARA berupaya memberikan warna manajemen yang modern bagi ibu-ibu di salah satu sudut Gondangdia. Mereka melakukan banyak hal, mulai teknik mengendalikan kualitas produk, proses mengenalkan merek kelompok ke masyarakat hingga prosedur pencatatan keuangan.

Tantangannya adalah bagaimana mendudukkan setiap konsep tidak lagi dalam tataran akademis, melainkan dalam praktek singkat di lapangan. Alhasil, program pendampingan dinilai efektif dalam menciptakan kemandirian komunitas. “Tak hanya itu Pak, dengan membantu memberikan wawasan ke mereka, kami diingatkan kembali pada konsep-konsep yang dipelajari di kelas,” ujar Syahri.

“Inilah pentingnya kerja sama dalam kelompok ya Pak. Ketika dihadapkan pada masalah yang kompleks, mereka hadir tidak hanya untuk memberikan semangat, melainkan juga untuk memberikan ide-ide terbaik sebagai sebuah solusi,” kata Syahri.

Tak hanya itu Pak, belajar berkolaborasi seperti ini juga memberikan keuntungan lain,”  sambung Intan, anggota UMARA. “Salah satunya adalah rekomendasi bagi relasi mereka, hingga tak jarang dari mereka pula, akhirnya tercipta penjualan untuk produk-produk saya,” ujar Intan mengimbuhi.

Tidak pilih-pilih

Pernyataan Intan itu tidak jauh berbeda dengan duo pebisnis tas kUlit, Giska dan Baskara. Sebagai mahasiswa di kampus PPM, belajar untuk hidup dan bertumbuh dalam satu kelompok memang sudah merupakan kebiasaan. Sejak semester satu, mereka telah mengenal arti penting kelompok dalam konteks pertumbuhan diri di masa depan.

“Awalnya saya berpikit bahwa kolaborasi tidak mungkin dilakukan dengan komunitas, atau sesama pemain (baca: pesaing) Pak. Namun kini saya sadar bahwa kerja sama dengan mereka sangat dimungkinkan, terlebih jika masing-masing pihak sedang berpikir untuk menciptakan sinergi,” ungkap Giska. Meski sederhana, namun pemyataan di atas cukup bermakna.

Semangat inilah yang sering dilupakan pebisnis mnda. Alih-alih bersaing untuk menghasilkan profit lebih, aksi individu mereka tidak lagi mampu menciptakan pasar. Dasar pemikirannya cukup sederhana; bagi bisnis baru yang belum punya nama, cukup sulit untuk meyakinkan pasar bahwa produk yang dihasilkan sangat diperlukan dalam hidup.

Namun kini, coba bayangkan jika pasar sedikit demi sedikit mulai memahami arti penting kehadiran produk Anda ketimbang produk-produk pemain lain. Maka kesulitan tadi akan berubah menjadi sebuah peluang, karena pasar telah mulai tercipta.

Bisnis mutlak membutuhkan pengakuan dari masyarakat. Ini merupakan pesan dasar dari program pengembangan komunitas. “Kami jadi sadar bagaimana kami harus bersinergi dengan masyarakat. Sinergi bukan berarti menjadikan mereka sebagai pelanggan kami, namun lebih menjadi mitra untuk bertumbuh. Ada begitu banyak pelajaran yang kami dapatkan selama bergabung dengan ibu-ibu tersebut,” tutur Intan, pemilik Vanilla Hijab.

Satu pelajaran berharga pada edisi ini adalah berkolaborasi ternyata tidak boleh pilih-pilih. Kolaborasi dengan pesaing, calon konsumen, konsumen serta stakeholder yang lain sangat diperlukan agar eksistensi bisnis di masa depan dapat terjamin. Soalnya, justru dari merekalah sering kali kita mendapatkan ide-ide yang mampu membangun semangat untuk terus bertumbuh di tengah ujian dan cobaan yang ada.

Tak hanya itu, kolaborasi juga mutlak dibutuhkan dengan dunia pendidikan tinggi. Industri domestik,kini, hendaknya tidak lagi memandang institusi pendidikan sebagai pemain dalam dunia yang berbeda. Sinergi antara bisnis dan pendidikan dibutuhkan demi terciptanya proses pembelajaran serta transfer pengetahuan di antara kedua aspek tersebut.

Di satu sisi, pengetahuan masyarakat meningkat, di sisi lain, kepekaan sosial serta semangat yang diajarkan masyarakat merupakan bekal yang sangat berharga bagi setiap mahasiswa. Kelak, ketika mereka lulus dari bangku kuliah akan tercipta pebisnis-pebisnis Indonesia yang mampu memberikan dampak positif pada lingkungannya.

*Tulisan dimuat di Mingguan Kontan, 21 Oktober-27 Oktober 2013. H.21.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s